Format TKA Baru: Ujian Kemampuan Akademik yang Lebih Manusiawi
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah ujian standarisasi untuk siswa SMA, SMK, MA, dan sederajat yang mengukur penguasaan tiga mata pelajaran wajib—Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika—serta dua mata pelajaran pilihan dari daftar yang sudah ditentukan, dengan tujuan memotret kemampuan kognitif dan kesiapan akademik siswa secara lintas jurusan dalam satu asesmen terintegrasi.
Format TKA 2026 format baru pada dasarnya lebih manusiawi dan berpihak pada kondisi nyata siswa. Ujian kemampuan akademik ini diubah menjadi empat hari, bukan lagi padat dalam satu atau dua sesi panjang yang menguras energi. Setiap hari siswa hanya berhadapan dengan satu mata pelajaran wajib, sehingga beban mental tidak menumpuk. Ketentuan mapel tetap sama: tiga mapel wajib plus dua mata pelajaran pilihan dari 19 opsi yang tersedia. Perubahan ini bukan kosmetik; ia memaksa siswa dan sekolah mengubah paradigma persiapan dari sekadar kuat menghafal menjadi kuat mengelola fokus harian.

Empat Hari Ujian dan Durasi 75 Menit: Mengurangi Lelah, Menuntut Fokus
Inti reformasi TKA 2026 ada pada jadwal dan durasi ujian. Pelaksanaan ujian diubah menjadi empat hari, dengan mata pelajaran wajib dipisah ke hari yang berbeda. Hari pertama Bahasa Indonesia dan Survei Karakter, hari kedua Bahasa Inggris dan Survei Lingkungan Belajar, hari ketiga Matematika, dan hari keempat dua mata pelajaran pilihan. Kementerian jelas mengakui bahwa menumpuk beberapa mapel wajib dalam satu hari adalah desain yang melelahkan dan kontraproduktif: siswa dipaksa maraton kognitif, bukan menunjukkan kemampuan terbaik.
Durasi ujian 75 menit per mata pelajaran wajib adalah sinyal penting bahwa kualitas jawaban lebih dihargai daripada kecepatan semu. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris masing-masing berisi 30 soal, sementara Matematika 25 soal, dengan semua mendapat waktu yang sama yaitu 75 menit. Pernyataan Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, tegas: pemerintah tidak ingin beban kognitif siswa menumpuk dan membuat mereka lelah; harapannya siswa lebih fokus dan dapat mengerjakan soal secara optimal. Konsekuensinya, strategi latihan kilat tanpa pemahaman mendalam menjadi usang. Siswa yang terbiasa memaksa diri mengerjakan banyak paket soal dalam waktu singkat perlu menggeser fokus ke ketelitian dan manajemen waktu yang lebih realistis.
Dua dari 19 Mata Pelajaran Pilihan: Ruang Fleksibel, Risiko Salah Pilih
Meski struktur harian berubah, struktur mata pelajaran pilihan tetap: siswa wajib memilih dua dari 19 mata pelajaran pilihan yang tersedia. Daftar ini mencakup Matematika Tingkat Lanjut, Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut, Bahasa Inggris Tingkat Lanjut, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Sosiologi, Geografi, Sejarah, Antropologi, PPKn/Pendidikan Pancasila, berbagai bahasa asing (Arab, Jerman, Perancis, Jepang, Korea, Mandarin), hingga Produk/Projek Kreatif dan Kewirausahaan. Di atas kertas, ini adalah bentuk fleksibilitas: siswa dapat menonjolkan kekuatan mereka, bukan dipaksa memegang semua.
Namun fleksibilitas ini berisiko ketika pilihan mapel dibuat asal ikut tren jurusan, bukan berdasar penguasaan. Nur Anas menekankan agar siswa memilih dua mata pelajaran pilihan yang paling dikuasai demi meraih nilai yang bagus, dan menegaskan pentingnya pendampingan sekolah agar pilihan benar-benar sesuai kemampuan. Di era TKA 2026 format baru, salah memilih mata pelajaran pilihan berarti mengorbankan satu hari penuh ujian pada bidang yang tidak kuat, karena kedua mapel pilihan dikumpulkan di hari keempat. Siswa harus berani pragmatis: pilih yang dikuasai, bukan yang tampak keren di brosur kuliah.
Dampak ke Persiapan TKA Siswa: Dari Maraton Sehari ke Manajemen Empat Hari
Perubahan format bukan sekadar pengaturan jadwal; ia mengubah logika persiapan TKA siswa secara mendasar. Sebelumnya, banyak strategi bimbingan belajar berpusat pada menahan stamina untuk mengerjakan beberapa mata pelajaran wajib berdekatan. Kini, dengan satu mapel wajib per hari, persiapan ideal adalah siklus empat hari: pendalaman konsep, latihan soal dengan simulasi durasi 75 menit, refleksi kesalahan, lalu pemulihan ringan sebelum hari berikutnya. Aspirasi publik yang meminta satu mata pelajaran wajib per hari agar konsentrasi lebih terarah akhirnya diakomodasi, dan siswa seharusnya memanfaatkannya.
Tahap pendaftaran TKA yang masih berlangsung hingga 27 September, disusul gladi bersih 5–11 Oktober untuk gelombang 1 dan 12–18 Oktober untuk gelombang 2, memberi waktu bagi sekolah dan siswa untuk menguji strategi baru dalam kondisi simulasi. Bijak jika siswa memecah jadwal belajar sesuai urutan TKA: hari-hari awal menajamkan Bahasa Indonesia dan karakter, lalu beralih ke Bahasa Inggris dan lingkungan belajar, menguatkan Matematika, dan menutup dengan pendalaman dua mata pelajaran pilihan. Yang malas mengatur ritme empat hari akan merasakan kelelahan menumpuk, meski durasi ujian sudah dirancang untuk mengurangi beban mental.
Peran Sekolah: Mengubah Budaya Belajar, Bukan Sekadar Jadwal Tryout
Sekolah tidak bisa lagi memperlakukan TKA sebagai ujian tambahan yang cukup dihadapi dengan beberapa kali tryout penuh satu hari. Struktur ujian baru menuntut kultur belajar yang menekankan fokus harian dan pemetaan kekuatan siswa. Nur Anas sudah mengingatkan bahwa sekolah diharapkan memberikan pendampingan saat siswa menentukan mata pelajaran pilihan, agar keputusan sesuai kemampuan. Tetapi pendampingan tidak boleh berhenti di formulir pilihan mapel; ia harus meluas ke pembacaan data latihan, penyesuaian jadwal belajar, dan pembiasaan simulasi 75 menit yang realistis.
Format TKA 2026 format baru sebenarnya peluang bagi sekolah yang serius memperbaiki praktik akademik. Ujian kemampuan akademik kini lebih sejalan dengan prinsip asesmen yang sehat: satu fokus per hari, waktu cukup untuk berpikir, dan opsi mata pelajaran pilihan yang menghargai keunikan minat. Jika sekolah tetap bertahan pada pola lama—menjejalkan banyak materi sekaligus, mengabaikan manajemen kelelahan—maka momentum reformasi hilang. Kesimpulannya, reformasi TKA akan terasa sebagai beban tambahan atau bantuan besar, tergantung sejauh mana sekolah dan siswa mau mengubah cara belajar mereka, bukan hanya mengubah jadwal ujian.






