Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Seoul ke Nusantara: Mengapa Drakor Getol Syuting di Sini

Dari Seoul ke Nusantara: Mengapa Drakor Getol Syuting di Sini
Minat|Drama Korea

Drama Korea Syuting di Nusantara: Lebih dari Sekadar Latar Eksotis

Drama Korea syuting Indonesia adalah fenomena ketika serial televisi Korea memilih berbagai lokasi di Nusantara sebagai latar cerita, memanfaatkan keindahan alam, keragaman lanskap, dan karakter kota-kota lokal untuk memperkaya visual sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas industri kreatif dan promosi destinasi wisata melalui kekuatan budaya populer global.

Kunci utamanya: kehadiran Nusantara di layar drakor bukan kebetulan, melainkan keputusan kreatif dan bisnis yang saling menguntungkan. Sejumlah drama Korea menjadikan Bali sebagai lokasi pengambilan gambar, memanfaatkan reputasinya sebagai daerah dengan keindahan alam yang kuat di mata penonton global. Dari What Happened in Bali hingga Worlds Within, Nusantara telah menjadi bagian dari perjalanan produksi drama Korea. Ini menunjukkan bahwa produser Korea melihat kawasan ini sebagai panggung cerita yang layak disorot, bukan sekadar tempelan turis di episode spesial.

Dari Seoul ke Nusantara: Mengapa Drakor Getol Syuting di Sini

Dari Bali ke Bintan: Peta Lokasi Produksi Drakor di Nusantara

Jika menelusuri jejak lokasi produksi drakor, pola yang muncul cukup jelas: pantai tropis dan kawasan wisata menjadi magnet utama. What Happened in Bali, atau Memories in Bali, adalah contoh paling ikonik ketika sebuah drama Korea menggunakan Bali sebagai lokasi pengambilan gambar dan menjadikannya bagian organik dari cerita tentang agen perjalanan yang bekerja di sana. First Love of the Royal Prince juga memanfaatkan Bali sebagai salah satu latar, dengan Pantai Balangan di Bali Selatan sebagai lokasi yang dikaitkan dengan produksi drama tersebut.

Menariknya, daya tarik Nusantara tidak berhenti di Bali. Worlds Within, yang dibintangi Hyun Bin dan Song Hye Kyo, dikaitkan dengan pengambilan gambar di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, yang menawarkan pantai dan kawasan resor dengan suasana tropis berbeda dari kota besar di Korea. Selain itu, sejumlah lokasi lain digunakan untuk produksi film dan serial, termasuk kawasan Karst Citatah di Bandung Barat, Kota Tua Jakarta, kawasan Tangerang, dan Baronk Cafe di Kemang, Jakarta Selatan. Peta ini menunjukkan bahwa produser Korea mulai melihat Nusantara sebagai studio alam terbuka yang luas dan variatif.

Mengapa Produser Korea Memilih Nusantara: Alam Indah, Biaya, dan Identitas Budaya

Alasan pemilihan lokasi tidak bisa direduksi hanya pada pemandangan cantik. Ada beberapa faktor yang membuat Nusantara menarik bagi produksi drama Korea. Pertama, kawasan ini memiliki lanskap beragam, dari pantai dan hutan tropis hingga kawasan perkotaan, yang memberi banyak opsi visual dalam satu negara. Kedua, lokasi seperti Bali menawarkan identitas visual yang berbeda dari Korea Selatan, sehingga membantu drama tampil menonjol di tengah banjir konten serupa.

Pertimbangan biaya produksi dan perizinan hampir pasti ikut bermain, meski informasi rinci mengenai apakah biaya, perizinan, atau strategi pemasaran menjadi faktor utama belum tersedia secara jelas. Di sisi lain, keunikan budaya lokal—dari arsitektur, bahasa, hingga ritual—memberi lapisan cerita yang sulit digantikan studio buatan. Ketika karakter drakor berjalan di Kota Tua atau menyusuri tebing pantai Bali, penonton global menangkap citra Nusantara sebagai ruang hidup yang nyata, bukan sekadar wallpaper digital.

Dampak ke Pariwisata dan Hiburan Lokal: Dari Eksposur Layar ke Kunjungan Nyata

Syuting drama Korea di Nusantara membawa efek domino yang terasa di pariwisata dan industri hiburan lokal. Potensi promosi pariwisata menjadi manfaat tambahan yang signifikan, meski bukan selalu tujuan utama produksi. Popularitas drama dan film internasional dapat memberikan eksposur tambahan bagi destinasi wisata serta tempat usaha yang digunakan dalam produksi. Dampaknya turut dirasakan oleh tempat-tempat yang digunakan sebagai lokasi syuting, termasuk Baronk Cafe di Kemang yang mendapat perhatian media setelah terlibat dalam produksi.

Reaksi netizen memperkuat efek ini. Kehadiran lokasi Nusantara dalam drama Korea kerap menarik perhatian penggemar. Reaksi yang umum muncul di komunitas penggemar antara lain keinginan mengunjungi lokasi syuting, membagikan informasi kepada sesama penggemar, hingga membicarakan pengalaman melihat tempat yang familier di layar. Fenomena ini semakin kuat di era media sosial, ketika informasi mengenai lokasi syuting menyebar cepat dan mengubah adegan drakor menjadi daftar destinasi wisata yang ingin dikunjungi. Inilah inti pariwisata drama Korea: layar kaca menjadi brosur perjalanan paling persuasif.

Kolaborasi Kreatif dan Masa Depan: Dari Lokasi Latar ke Mitra Setara

Langkah berikutnya yang lebih strategis adalah beranjak dari sekadar menjadi lokasi latar menjadi mitra produksi setara. Saranghae, I Love You menjadi contoh penting karena merupakan proyek kolaborasi Nusantara dan Korea Selatan, dibintangi Tim Hwang dan Revalina S. Temat, dengan pengambilan gambar di kedua negara. Karena melibatkan industri hiburan kedua negara, potensi menjangkau penonton lokal menjadi jauh lebih relevan untuk dibahas. Di sisi lain, film Korea Selatan berjudul Jakarta yang dirilis pada 2000 menunjukkan bagaimana kota di Nusantara bisa hadir sebagai judul dan elemen naratif penting dalam film Korea.

Meski bukan drama Korea, EXTRACTION: TYGO layak dibahas karena proses syutingnya di Nusantara menarik perhatian besar dari penggemar dan masyarakat, menegaskan daya tarik kawasan ini sebagai lokasi produksi internasional. Kolaborasi semacam ini membuka peluang bagi talenta lokal—aktor, kru, penulis, hingga pemilik lokasi—untuk masuk ke ekosistem produksi global. Kesimpulannya, jika ingin memaksimalkan gelombang pariwisata drama Korea dan film Korea di Nusantara, pelaku industri lokal perlu bernegosiasi bukan hanya soal lokasi, tetapi juga soal cerita, kepemilikan kreatif, dan bagi hasil jangka panjang.

Dari Seoul ke Nusantara: Mengapa Drakor Getol Syuting di Sini

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!