Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Jurnalistik Pelajar: Melahirkan Penulis Kritis dan Melek Digital

Program Jurnalistik Pelajar: Melahirkan Penulis Kritis dan Melek Digital
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Pelatihan jurnalistik pelajar: lebih dari sekadar hobi menulis

Pelatihan jurnalistik pelajar adalah program terstruktur di sekolah menengah yang melatih siswa menulis berita, mengolah informasi, dan mempublikasikan karya secara etis di ruang digital, sehingga mereka tidak hanya terampil menulis tetapi juga mampu berpikir kritis, memilah informasi, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan publik sebagai warga yang melek media dan literasi digital.

Kita perlu mengakui: kecakapan menulis dan membaca media bukan lagi pelengkap, melainkan syarat bertahan di era banjir informasi. Karena itu, pelatihan jurnalistik pelajar yang kini digencarkan di berbagai sekolah seharusnya dipandang sebagai kebutuhan kurikuler, bukan sekadar ekstrakurikuler. Di satu sisi, program ini mengasah keterampilan menulis sekolah; di sisi lain, ia menjadi tameng pertama siswa terhadap hoaks dan manipulasi informasi. Ketika Forum Wartawan Legislatif DPRD Riau menggelar pelatihan bertema “Membentuk Generasi Cerdas, Kreatif dan Berintegritas di Era Digital” di SMK Negeri Pertanian Terpadu di Pekanbaru pada Sabtu (29/8), pesan itu sangat jelas: sekolah tidak bisa membiarkan siswa berhadapan sendirian dengan dunia digital yang keras.

Riau: menulis sebagai senjata melawan hoaks dan membangun integritas

Pelatihan jurnalistik di SMK Negeri Pertanian Terpadu bukan acara seremonial, tetapi intervensi strategis ke jantung literasi digital siswa. FWL DPRD Riau secara eksplisit merancang kegiatan ini untuk melatih siswa mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan informasi sesuai kaidah dan etika jurnalistik. Ini inti dari literasi digital siswa yang sering diabaikan: kemampuan teknis menulis harus berjalan bersama pemahaman etika dan tanggung jawab. Dorongan agar siswa terus belajar menulis dengan baik dan benar sejak sekarang, dan tidak berhenti menulis, menunjukkan bahwa keterampilan menulis sekolah dianggap fondasi pembentukan karakter, bukan hanya nilai rapor.

Lebih penting lagi, FWL menyatakan bahwa program ini ditujukan agar siswa mampu menyaring informasi yang benar dan hoaks, lalu menyebarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan di tengah era digitalisasi ini. Di sini tampak keberpihakan yang tegas: pelajar tidak cukup diajari menjadi “konten kreator”, mereka harus menjadi produsen informasi yang berintegritas. Ketika sekolah menyiapkan media center dan ekstrakurikuler jurnalistik, lalu menggandeng jurnalis profesional, itu artinya sekolah menempatkan siswa di garis depan pertarungan melawan hoaks—sebuah langkah yang seharusnya ditiru sekolah lain.

NTB: jambore jurnalistik yang memasukkan literasi finansial ke ruang redaksi pelajar

Jambore Jurnalistik Pelajar SMA/SMK/MA Wilayah 1 di NTB yang resmi dibuka pada Jumat (28/8/2026) di kawasan Wisata Alam Goa Lawah, Narmada, membawa gagasan yang lebih maju: jurnalis muda tidak hanya harus literat digital, tetapi juga literat finansial. Kegiatan berkonsep perkemahan ini menjadi ruang pembelajaran bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan jurnalistik sekaligus memperkuat literasi digital dan finansial. Ini langkah berani, karena selama ini pendidikan media di sekolah hampir selalu berhenti pada teknik menulis dan produksi konten.

Kolaborasi dengan bank sentral daerah diarahkan untuk memperkuat kapasitas pelajar agar bukan hanya mampu memproduksi informasi, tetapi juga memahami, memilah, memverifikasi dan menyampaikan informasi di ruang digital secara bertanggung jawab, sambil memiliki pemahaman yang baik mengenai literasi finansial. Peserta didorong menjadi generasi muda yang berani berpikir kritis, membaca realitas secara objektif, melakukan verifikasi, dan menyampaikan fakta dengan etika dan tanggung jawab. Penekanan Bunda Literasi bahwa kemampuan jurnalistik harus tumbuh dari budaya membaca semakin menegaskan bahwa kompetisi menulis pelajar di jambore ini hanyalah pintu masuk; tujuan utamanya adalah pembentukan cara berpikir yang tajam dan mandiri.

Dari kelas ke ekosistem: mengapa program ini harus diperluas

Kedua inisiatif di Riau dan NTB memperlihatkan pola yang sama: pelatihan jurnalistik pelajar tidak lagi berdiri sendiri, tetapi ditopang ekosistem yang melibatkan sekolah, jurnalis, lembaga keuangan, dan pemangku kebijakan. Di Riau, program FWL direncanakan tidak berhenti di satu sekolah, melainkan akan digelar di sejumlah SMA dan SMK lain hingga akhir 2026. Di NTB, hari pertama jambore disebut sebagai titik awal perjalanan peserta untuk mengembangkan kompetensi sekaligus karakter jurnalistik. Artinya, pelatihan ini diposisikan sebagai proses berkelanjutan, bukan proyek sekali selesai.

Di era ketika setiap siswa bisa memegang “ruang redaksi” di genggaman ponsel, mengabaikan literasi digital siswa adalah kelalaian pendidikan. Program jurnalistik yang menggabungkan keterampilan menulis sekolah, pelatihan etika media, dan penguatan literasi finansial sejak bangku SMA/SMK adalah investasi sosial yang akan menentukan kualitas demokrasi esok hari. Kesimpulannya tegas: jika kita ingin jurnalis muda yang kritis, cerdas digital, dan paham finansial, pelatihan jurnalistik pelajar harus diposisikan sebagai pilar utama pendidikan, diperluas cakupannya, dan dijaga mutunya agar tidak tergelincir menjadi acara lomba tanpa dampak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!