Kesiapan sekolah lebih luas daripada calistung
Pendidikan anak usia dini adalah tahap belajar yang membangun karakter, kemandirian, keterampilan sosial, emosi, dan rasa ingin tahu melalui pengalaman yang sesuai dengan perkembangan anak. Karena itu, kesiapan memasuki sekolah dasar tidak semestinya diukur hanya dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Mengutamakan calistung terlalu dini berisiko membuat belajar terasa sebagai tekanan, bukan pengalaman yang menumbuhkan percaya diri.
Arah ini menjadi perhatian Pokja Bunda PAUD Provinsi Sulawesi Selatan dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan melalui program peningkatan kapasitas guru PAUD dari berbagai kabupaten/kota. Kegiatan yang ditutup di Gedung PKK Provinsi Sulawesi Selatan tersebut mendukung Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan, dengan pembelajaran ramah anak, tanpa tekanan, dan berpusat pada tumbuh kembang peserta didik. Penguatan kapasitas guru patut dipandang sebagai kebutuhan, bukan pelengkap: pendekatan yang tepat menentukan apakah anak datang ke SD dengan rasa ingin tahu atau kecemasan.
Enam kemampuan fondasi anak sebagai bekal
Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan menempatkan enam kemampuan fondasi anak sebagai prioritas. Urutannya mencerminkan pandangan yang lebih utuh tentang kesiapan: anak perlu mampu hidup bersama orang lain, mengenali dirinya, dan menikmati proses belajar—bukan sekadar menjawab soal.
- Nilai agama dan budi pekerti, termasuk adab serta sopan santun.
- Keterampilan sosial dan bahasa untuk berkomunikasi dan membangun hubungan positif.
- Kematangan emosi, termasuk mengenali dan mengelola perasaan, dalam lingkungan aman tanpa perundungan.
- Kematangan kognitif untuk berpikir, memahami informasi, dan menyelesaikan persoalan sederhana.
- Kemampuan motorik dan kemandirian, termasuk merawat diri sesuai tahap usia.
- Sikap positif terhadap belajar, ditandai rasa ingin tahu, antusiasme, dan kegembiraan.
Penguasaan keenamnya berkembang bertahap. Anak tidak perlu dibebani tuntutan akademik yang melampaui kesiapan; sekolah sebaiknya memberi ruang bagi permainan, interaksi, dan latihan keseharian agar bekal tersebut tumbuh secara alami.
Guru dan orang tua harus bergerak bersama
Pembelajaran ramah anak tidak bisa diserahkan kepada guru seorang diri. Bunda PAUD berperan sebagai penggerak, guru sebagai pendidik dan pendamping di satuan pendidikan, sementara orang tua menjadi mitra utama di rumah. Ketiganya perlu menyelaraskan dukungan agar anak mendapat pengalaman yang konsisten, bukan aturan dan tuntutan yang saling bertentangan.
Dalam praktiknya, guru dapat merancang kegiatan yang menyenangkan dan menyesuaikan metode dengan kebutuhan anak, sedangkan orang tua memberi ruang bagi anak untuk mencoba, berbicara tentang perasaan, dan belajar mandiri dalam rutinitas sehari-hari. Keluarga dan lingkungan masyarakat juga perlu terlibat, sebab layanan PAUD berkualitas bukan tanggung jawab sekolah saja. Kolaborasi seperti ini membuat transisi PAUD ke SD menjadi urusan bersama, bukan ujian kesiapan yang ditanggung anak sendirian.
Pembelajaran tanpa paksaan adalah ukuran mutu
Dorongan agar guru terus berinovasi juga disampaikan Wakil Bupati Serdang Bedagai Adlin Tambunan saat menghadiri puncak HUT ke-21 HIMPAUDI Kabupaten Serdang Bedagai di Pantai Pondok Permai, Kecamatan Pantai Cermin, pada 30 Oktober 2026. Peringatan bertema “Nyalakan Asa, Wujudkan Pengakuan dan Kesetaraan Guru PAUD” menyoroti peran pendidik dalam membangun karakter dan kepercayaan diri anak. Pesan itu penting: kreativitas mengajar bukan soal membuat kelas ramai, melainkan memilih pengalaman yang membuat anak aman dan mau terlibat.
Bunda PAUD Kabupaten Serdang Bedagai Rosmaida Saragih Darma Wijaya juga mendorong metode yang adaptif dan mengingatkan agar pembelajaran berlangsung tanpa paksaan. Ini seharusnya menjadi ukuran mutu yang nyata. Pendidik yang kompeten membutuhkan pengakuan, dukungan, dan kemitraan dengan pemerintah daerah; HIMPAUDI Sergai diharapkan terus memperkuat kerja sama tersebut. Sementara itu, sinergi Pokja Bunda PAUD dan Dinas Pendidikan Sulsel diharapkan mendorong guru di kabupaten/kota menerapkan pembelajaran yang lebih adaptif dan berpusat pada kebutuhan anak.
Kesimpulannya, peralihan ke SD akan lebih menyenangkan jika orang dewasa berhenti menjadikan calistung sebagai satu-satunya tolok ukur. Dengan guru yang didukung, orang tua yang terlibat, dan enam kemampuan fondasi yang dikembangkan tanpa tekanan, anak dapat memasuki jenjang baru dengan percaya diri serta kecintaan pada belajar.






