Skrining awal perlu dekat dengan warga
Deteksi dini kanker payudara adalah upaya mengenali perubahan atau tanda yang mencurigakan sedini mungkin agar seseorang dapat berkonsultasi dan memperoleh pemeriksaan tenaga kesehatan tanpa menunggu keluhan memburuk. Karena itu, skrining yang dekat dengan kehidupan warga lebih berguna daripada ajakan umum yang tidak disertai jalur pemeriksaan. Poltekkes Kemenkes Malang memperkenalkan program SAKURA, atau Skrining Awal Kesehatan Payudara, di Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Program ini menyasar wanita usia subur lewat penyuluhan faktor risiko dan perubahan payudara, praktik pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), serta diskusi interaktif. Pendekatan tersebut mengubah pesan kesehatan menjadi pengetahuan yang bisa dipraktikkan. Namun edukasi bukan pengganti pemeriksaan klinis: keberhasilannya bergantung pada apakah warga tahu langkah berikutnya ketika menemukan perubahan.

Edukasi harus berlanjut setelah kegiatan
Kekuatan program SAKURA terletak pada upaya menjaga informasi tetap hadir setelah penyuluhan usai. Materi tersedia melalui situs dan booklet, sementara kader kesehatan dibekali pengetahuan untuk menyampaikan edukasi SADARI dan mendampingi warga secara berkelanjutan. Peran kader penting karena percakapan tentang kesehatan payudara kerap terhalang rasa malu atau takut. Tetapi informasi saja tidak cukup bila seseorang tidak tahu ke mana harus pergi. Tim Poltekkes berkoordinasi dengan bidan desa untuk mendukung pemeriksaan payudara klinis atau SADANIS secara rutin di Polindes, yang dijadwalkan setiap Rabu pada minggu ketiga setiap bulan. Jadwal dan pendampingan ini memberi warga jalur tindak lanjut yang konkret. Skrining kanker payudara di tingkat komunitas akan lebih bermakna jika akses pemeriksaan tersebut mudah dipahami dan dijangkau.
Ajakan publik perlu mengatasi rasa takut
Di Palu, Pemerintah Kota mendorong kesadaran tentang pencegahan dan deteksi dini kanker payudara melalui peringatan Hari Kanker Payudara yang diselenggarakan Yayasan Kanker Indonesia Sulawesi Tengah pada 25 Oktober 2026. Wali Kota diwakili Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, dr. Rochmat Jasin Moenawar. Kegiatan itu menjadi sarana edukasi dan ajakan agar perempuan lebih peduli terhadap kesehatan payudara serta tidak ragu memeriksakan diri. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Syahriar, menyebut keterlambatan penanganan masih berkaitan dengan kurangnya informasi dan keengganan untuk memeriksa diri. Ia juga menyoroti rasa takut, malu, dan stigma sebagai hambatan yang perlu dihadapi melalui edukasi berkelanjutan dan dukungan keluarga serta masyarakat. Ajakan publik punya nilai, tetapi keberanian memeriksa diri perlu disambut layanan yang jelas.
Pesan bersama, pendekatan berbeda
Kegiatan di Palu dan program SAKURA sama-sama menempatkan edukasi sebagai pintu menuju kepedulian, tetapi keduanya bukan program yang sama. SAKURA merupakan kegiatan skrining awal berbasis desa dengan praktik SADARI, pemberdayaan kader, dan rencana pemeriksaan klinis berkala. Peringatan di Palu adalah ajakan publik untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan. Pembedaan ini penting: kampanye dapat memperluas perhatian, sementara layanan komunitas membantu mengubah perhatian menjadi tindakan. Warga yang menemukan perubahan pada payudara sebaiknya tidak menyimpulkan sendiri penyebabnya atau menunggu rasa takut mereda; langkah yang tepat ialah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Kesimpulannya, deteksi dini kanker payudara membutuhkan lebih dari pesan sesaat. Edukasi yang berulang, akses skrining yang jelas, dan tindak lanjut pemeriksaan harus berjalan beriringan.






