Dari pengiriman ke manufaktur setempat
Produksi mobil ekspor di luar China berarti kendaraan untuk pasar internasional dibuat di fasilitas manufaktur yang berada di negara lain, bukan dikirim sebagai mobil jadi dari pabrik di China. Peralihan ini menjadi inti strategi global Chery: perusahaan menargetkan lebih dari separuh mobil ekspornya diproduksi di luar China pada akhir 2026, lalu menaikkan porsinya menjadi 60% pada 2027 dan 70% pada 2030.
Perbedaan itu penting. Ekspor dari China mengandalkan produksi di negara asal dan pengiriman kendaraan jadi ke pembeli di luar negeri. Sebaliknya, produksi lokal menempatkan sebagian proses manufaktur lebih dekat dengan pasar tujuan. Chery menyebut kendaraan yang dibuat di luar China telah menyumbang sekitar 48% volume ekspornya sepanjang 2026. Artinya, sasaran akhir tahun bukan perubahan dari nol, melainkan percepatan dari basis yang sudah terbentuk.

Pertumbuhan ekspor mendorong perubahan
Dorongan untuk membangun kapasitas di pasar tujuan muncul ketika persaingan makin ketat dan kebijakan perdagangan berbeda-beda di setiap negara. Ketergantungan pada pengiriman dari China bisa membatasi keluwesan perusahaan dalam merespons kondisi setempat. Bagi Chery, memperluas pabrik Chery luar negeri dapat mendekatkan manufaktur ke konsumen, membuat distribusi lebih fleksibel, dan mengurangi ketergantungan pada pengiriman kendaraan jadi dari negara asal.
Besarnya bisnis internasional menjelaskan mengapa perubahan model ini mendesak. Sepanjang 2025, Chery Group menjual 2.806.393 kendaraan, naik 7,8% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara ekspornya mencapai 1.344.020 unit, tumbuh 17,4%. Angka itu menunjukkan bahwa ekspor mobil Chery bukan kegiatan sampingan. Namun, agar pertumbuhan tersebut lebih tahan terhadap hambatan distribusi dan kebutuhan pasar yang beragam, ekspansi penjualan perlu diikuti kemampuan produksi yang tertanam di pasar tujuan.
Kemitraan lokal menjadi jalan pintas
Chery tidak harus membangun setiap fasilitas dari awal. Di Spanyol, perusahaan bekerja sama dengan produsen otomotif Ebro dan memanfaatkan bekas pabrik Nissan di Barcelona untuk kegiatan manufaktur. Pendekatan ini dapat mempercepat ekspansi dibandingkan mendirikan pabrik baru, meski keberhasilannya tetap bergantung pada kemampuan mengelola kualitas, pasokan komponen, tenaga kerja, dan mitra setempat.
Pabrik di luar negeri juga berpotensi memberi dampak yang lebih nyata bagi pasar setempat daripada sekadar bertambahnya jumlah mobil impor. Wakil Presiden Eksekutif Chery Zhang Guibing mengatakan lokalisasi produksi ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan kerja sama dengan teknologi lokal. Bagi konsumen, kedekatan manufaktur dapat membantu distribusi lebih lentur; bagi komunitas industri, manfaatnya bergantung pada seberapa banyak pekerjaan dan kemampuan produksi yang benar-benar dibangun di sana.
Target besar, ujian pelaksanaan
Peta target Chery jelas: porsi produksi ekspor di luar China harus melampaui 50% pada akhir 2026, mencapai 60% pada 2027, lalu 70% pada 2030. Itu merupakan perubahan besar dari model yang bertumpu pada pengiriman kendaraan jadi. Tetapi persentase tinggi tidak otomatis berarti strategi berhasil; pabrik harus beroperasi efisien, menjaga mutu yang konsisten, dan menyesuaikan kendaraan dengan regulasi serta selera konsumen di tiap pasar.
Ekspansi manufaktur juga bagian dari agenda yang lebih luas. Mulai 2027, Chery berencana membangun stasiun pengisian daya cepat dan fasilitas penyimpanan energi di Inggris, Spanyol, dan Thailand, serta menargetkan peluncuran layanan robotaxi pertamanya di Uni Emirat Arab pada tahun yang sama. Rangkaian rencana ini memperlihatkan bahwa strategi global Chery tidak hanya soal menjual mobil, tetapi juga membangun kehadiran industri dan layanan. Kesimpulannya, target produksi lokal masuk akal untuk menopang ekspansi, tetapi hasil akhirnya akan ditentukan oleh mutu pelaksanaan, bukan besarnya angka sasaran.






