Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Hasil PISA dan Alarm Penurunan Literasi: Tugas Baru untuk Sekolah

Hasil PISA dan Alarm Penurunan Literasi: Tugas Baru untuk Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

PISA sebagai Cermin Krisis Literasi dan Numerasi, Bukan Sekadar Skor

Hasil PISA adalah laporan berkala tentang kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa usia 15 tahun yang menunjukkan sejauh mana sekolah mampu mengembangkan literasi, kemampuan matematika dasar, dan keterampilan berpikir kritis untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata sesuai standar pembelajaran internasional; ketika skor turun, pesan utamanya bukan soal angka semata, melainkan kualitas cara kita mengajar dan belajar.

Hasil PISA 2025 menampilkan rata-rata performa terendah yang pernah dicatat negara-negara OECD dalam sains, membaca, dan matematika. Penilaian ini melibatkan lebih dari 760.000 siswa usia 15 tahun dari 91 negara, mewakili sekitar 33 juta remaja. Penurunan paling tajam muncul pada kemampuan membaca: dalam satu dekade, skor rata-rata membaca di negara OECD turun 28 poin, sementara matematika turun 22 poin. Menurut laporan tersebut, penurunan itu setara dengan sekitar satu setengah tahun pembelajaran membaca dan lebih dari satu tahun pembelajaran matematika. Ini bukan sekadar rapor buruk global, tetapi alarm keras bahwa sekolah gagal menjaga fondasi pengetahuan saat dunia bergerak cepat ke arah digital.

Krisis ini tampak nyata pada meningkatnya proporsi siswa berkinerja rendah: sekitar 20 persen siswa usia 15 tahun di negara OECD kini masuk kategori low performers di ketiga bidang, naik dari 16 persen pada 2022. Di tengah arus informasi yang deras, kemampuan mengevaluasi informasi, menghubungkan berbagai sumber, dan berpikir kritis terhadap bacaan justru menurun. Secara moral, sekolah tidak bisa lagi bersembunyi di balik retorika kurikulum dan akreditasi; penurunan literasi siswa adalah bukti telanjang bahwa pembelajaran di kelas tidak mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang dipenuhi teks, data, dan kompleksitas pilihan.

Ketika AI, Kebiasaan Belajar, dan Kelas Saling Bertubrukan

Penurunan literasi dan kemampuan matematika dasar terjadi di saat teknologi, termasuk kecerdasan buatan, meresap ke hampir semua aktivitas belajar. Namun masalah utamanya bukan pada alat, melainkan cara sekolah membiarkan pola belajar bergeser dari proses memahami ke budaya menyalin jawaban. Hasil PISA 2025 mengingatkan bahwa jika kelas tetap berfungsi sebagai ruang pasif, maka kecanggihan teknologi akan mempercepat kemalasan intelektual, bukan memperkuat nalar.

Data menunjukkan kemampuan membaca yang melemah bukan sekadar soal kecepatan membaca, tetapi turunnya keterampilan mengevaluasi informasi, menghubungkan berbagai sumber, dan berpikir kritis dalam konteks digital. Di banyak sekolah, tugas berbasis teknologi sering berakhir sebagai formalitas: siswa mengandalkan mesin, sementara guru menutup mata terhadap proses. Ketika 20 persen siswa di negara OECD berkinerja rendah di membaca, matematika, dan sains, itu menandai bahwa kebiasaan belajar telah bergeser: pengetahuan tidak lagi diproses, hanya dikonsumsi.

Sekolah yang masih menilai keberhasilan dari seberapa cepat tugas selesai, bukan dari cara siswa bernalar, turut memperparah krisis. Ketergantungan pada teknologi tanpa panduan etik, literasi digital, dan latihan berpikir mandiri menjadikan AI lebih mirip tongkat penopang daripada alat belajar. Di sinilah tanggung jawab sekolah menjadi jelas: bukan mengusir teknologi, melainkan mengembalikan pusat pembelajaran ke kemampuan membaca kritis, berpikir logis, dan memecahkan masalah, dengan AI sebagai alat bantu yang diawasi.

Pelajaran dari Data: Membaca PISA Secara Jujur, Bukan Seremonial

Sikap paling berbahaya terhadap hasil PISA 2025 adalah merasa cukup hanya karena skor naik di beberapa area. PISA harus dibaca secara jujur sebagai cermin, bukan sebagai piagam penghargaan; ia menunjukkan kebijakan pendidikan mana yang mulai berhasil dan area mana yang masih rapuh, terutama dalam transformasi pendidikan yang berorientasi pada penalaran dan pemecahan masalah.

Laporan mencatat bahwa satu negara memperoleh skor 389 untuk sains, 365 untuk membaca, dan 364 untuk matematika. Dibandingkan 2022, sains dan membaca naik masing-masing enam poin, sedangkan matematika turun dua poin. Secara keseluruhan, capaian 2025 dinilai relatif sama dengan 2022 dan masih berada di bawah capaian 2015. "Rata-rata skor sains negara tersebut sebesar 389, sementara rata-rata OECD mencapai 482," menunjukkan jarak yang belum terjembatani. Lebih parah, 63,2 persen siswanya berada pada kategori low performers dalam sains, sedangkan rata-rata OECD hanya 25,7 persen.

Angka-angka ini seharusnya memicu keberanian untuk mengakui bahwa banyak kebijakan hanya mengubah dokumen, bukan praktik kelas. PISA tidak dirancang untuk mengukur seberapa banyak materi yang dihafal siswa; ia mengukur kemampuan menggunakan pengetahuan untuk masalah nyata. Karena itu, transformasi pendidikan tidak boleh berhenti pada penyesuaian kurikulum dan pelatihan singkat. Kenaikan skor harus diikuti investasi pada ekosistem pendidikan: kualitas guru, sumber belajar, budaya diskusi di kelas, serta akses yang merata bagi sekolah dengan infrastruktur minim yang terbukti berkorelasi dengan skor sains lebih rendah.

Madrasah dan Standar Pembelajaran Internasional: Antara Harapan dan PR Besar

Transformasi pembelajaran madrasah sering dianggap tugas tambahan, padahal ia berada di jantung upaya memenuhi standar pembelajaran internasional. Hasil PISA 2025 menunjukkan peningkatan signifikan pada beberapa kelompok madrasah, tetapi sekaligus memperlihatkan betapa besar pekerjaan rumah untuk mengangkat kemampuan literasi, matematika, dan sains ke level penalaran kompleks, bukan sekadar hafalan.

Data tren menunjukkan kelompok madrasah negeri mengalami kenaikan skor membaca, matematika, dan sains, dengan peningkatan sains di MTs negeri mencapai 32 poin dan MA negeri 26 poin. Namun hampir tidak ada siswa yang berada di Level 5 atau 6 dalam sains, sementara rata-rata OECD sekitar 7,2 persen. Ini artinya, meski ada kemajuan, sebagian besar siswa madrasah masih berputar di soal-soal dasar. Pertanyaan kuncinya: apakah ruang kelas madrasah sudah berubah dari ruang transfer pengetahuan menjadi ruang penyelidikan ilmiah? PISA 2025 menyorot sains sebagai domain utama, menilai kemampuan menjelaskan fenomena secara ilmiah, menggunakan bukti, mengevaluasi penyelidikan, dan mengambil keputusan berbasis informasi ilmiah.

Pada konteks madrasah, perubahan ini menuntut pembelajaran berbasis masalah, proyek, inkuiri, STEM, literasi digital, dan lintas disiplin. Narasi yang memaksa madrasah memilih antara ilmu agama dan sains sudah ketinggalan zaman; persoalan abad ke-21—mulai dari iklim, energi, sampai keamanan digital—menuntut integrasi pengetahuan dan nilai. Kecerdasan buatan bisa dipakai untuk memperluas pembelajaran, sambil dibahas dari perspektif kejujuran akademik, privasi, tanggung jawab, dan kemaslahatan. Dengan demikian, standar PISA menjadi rujukan kompetensi, bukan tujuan akhir, sementara madrasah memanfaatkan kekuatan karakter dan etika untuk menumbuhkan ilmuwan muda yang mampu bernalar sekaligus menjaga nilai.

Apa yang Harus Diperbaiki Sekolah: Dari Teaching for Knowing ke Learning for Reasoning

Kunci keluar dari krisis literasi dan numerasi yang ditunjukkan hasil PISA 2025 bukan menambah jam pelajaran, tetapi mengubah cara mengajar. Sekolah harus bergerak dari teaching for knowing—mengajar untuk tahu—menuju learning for reasoning, yaitu mengajar agar siswa mampu bernalar, menggunakan bukti, dan memecahkan masalah baru. Tanpa itu, penurunan literasi siswa akan terus berulang, dan kemampuan matematika dasar akan mandek di hitungan rutin.

Transformasi pendidikan yang nyata menuntut beberapa langkah tegas. Pertama, mengembalikan membaca sebagai aktivitas analitis: siswa harus diajak membandingkan sumber, mengkritisi argumen, dan menguji data, bukan sekadar mencari kata kunci. Kedua, matematika diajarkan sebagai bahasa untuk memahami dunia—menghitung volume sampah, menafsirkan grafik kualitas udara, atau mengukur dampak kebijakan—sebagaimana digambarkan ketika PISA menilai kemampuan menggunakan pengetahuan dalam konteks kehidupan. Ketiga, guru didukung untuk mengelola kelas sebagai ruang dialog, penyelidikan, dan kerja kelompok, bukan tempat ceramah satu arah.

Pada akhirnya, PISA adalah instrumen diagnosis, bukan tujuan pendidikan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!