Evaluasi harus menguji hasil, bukan sekadar laporan
Evaluasi TMMD adalah pemeriksaan atas pelaksanaan program pembangunan desa yang mencocokkan rencana, administrasi, dan hasil pekerjaan di lapangan demi memastikan manfaatnya bagi warga. Prinsip itu tampak dalam kunjungan Tim Wasev Mabesad ke Desa Kalebarembeng, Gowa, pada 29 Oktober 2026, menjelang penutupan program yang dijadwalkan 11 November. Dipimpin Kolonel Inf Andi Triasmoro, tim memeriksa ketertiban administrasi serta kesesuaian pekerjaan fisik. Pemeriksaan seperti ini penting karena persentase progres saja tidak menjawab apakah jalan, talud, atau fasilitas lain dikerjakan dengan mutu yang memadai. Di Gowa, sasaran utama mencakup pengerasan jalan tani sepanjang 2.300 meter, talud penahan jalan sepanjang 1.750 meter, dan dua plat decker. Pembangunan desa baru layak disebut berhasil bila target tersebut selesai sesuai rencana sekaligus dapat digunakan dan dirawat masyarakat.
Peninjauan Gowa juga mencakup sasaran nonfisik, termasuk penyuluhan hukum, kesehatan, dan tanaman pangan, enam titik sumur bor, penanaman 1.500 bibit, rehabilitasi rumah tidak layak huni, serta bantuan sembako bagi keluarga berisiko stunting. Rentang kegiatan ini memperlihatkan bahwa evaluasi tidak semestinya berhenti pada beton dan jalan: kualitas pelaksanaan, ketepatan sasaran, dokumentasi, dan dampak sosial sama-sama perlu diuji. Menjelang batas waktu 11 November, pengawasan langsung menjadi cara untuk menemukan selisih antara rencana dan kondisi faktual sebelum pekerjaan diserahterimakan. Fokus pada mutu bukan birokrasi tambahan, melainkan perlindungan agar hasil pembangunan tetap berguna setelah satgas meninggalkan lokasi.
Malang dan Pamekasan: mutu bertemu partisipasi
Di Desa Taji, Kabupaten Malang, Tim Wasev Mabesad meninjau sasaran fisik TMMD ke-130 setelah menerima paparan tentang progres pekerjaan fisik dan nonfisik yang dilaksanakan prajurit bersama warga. Pemeriksaan lokasi dimaksudkan untuk menguji apakah pekerjaan sesuai standar dan jadwal, sekaligus mencocokkan laporan dengan keadaan di lapangan. Penilaian semacam ini patut menjadi tolok ukur: pembangunan tidak cukup dinilai dari cepatnya pekerjaan selesai, tetapi juga dari mutu konstruksi, kecocokannya dengan kebutuhan warga, dan manfaatnya bagi mobilitas serta perekonomian setempat. Pengawasan lapangan membuat klaim progres lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada laporan administratif saja.
Di Desa Jarin, Pamekasan, kunjungan pada 29 Oktober dipimpin Laksma TNI Albertus Agung Prio Suseno dan menyoroti kemanunggalan Forkopimda dengan warga. Tim melihat kegiatan Posyandu dan Posbindu, penanganan stunting, penyerahan sembako kepada 30 warga, serta pekerjaan jalan, talud penahan tanah, rehabilitasi rumah, drainase, dan pengaspalan. Apresiasi terhadap antusiasme warga menunjukkan bahwa kolaborasi bukan hiasan dalam evaluasi: keterlibatan masyarakat membantu memastikan pekerjaan menjawab kebutuhan nyata. Namun, partisipasi tidak menggantikan pemeriksaan teknis. Kedua ukuran itu harus berjalan berdampingan agar pembangunan tidak hanya ramai dikerjakan, tetapi juga berkualitas dan dipelihara setelah program selesai.

Angka progres Subang perlu dibaca bersama mutu
Di Desa Cupunagara, Subang, capaian fisik TMMD ke-130 dilaporkan mencapai 82 persen, sementara sasaran nonfisik mencapai 86 persen saat Wasev meninjau pada 31 Oktober. Angka itu dinilai positif di tengah cuaca musim hujan yang memengaruhi pekerjaan, tetapi bukan alasan untuk melonggarkan standar. Progres TMMD adalah penanda kemajuan, bukan bukti otomatis bahwa setiap hasil telah memenuhi mutu yang diperlukan. Ketua tim, Brigjen TNI Edi Yusnandar, mengapresiasi sinergi TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat, serta mengingatkan pentingnya administrasi tertib, kerja profesional, dan koordinasi agar sasaran selesai sesuai rencana.
Jika dibandingkan, Gowa menonjolkan pemeriksaan administrasi dan kesesuaian fisik menjelang penutupan; Malang menekankan pencocokan laporan, standar, dan jadwal; Pamekasan memperlihatkan kuatnya keterlibatan Forkopimda serta warga; sedangkan Subang memberikan gambaran capaian dalam persentase di tengah kendala cuaca. Keempat lokasi menegaskan bahwa evaluasi pembangunan desa mesti menggabungkan ukuran yang berbeda, bukan memilih antara kecepatan, mutu, dan gotong royong. Hasil pekerjaan juga perlu dipelihara oleh warga dan pemangku kepentingan setempat agar manfaatnya bertahan. Dengan jadwal penutupan TMMD ke-130 pada 11 November, prioritasnya jelas: tuntaskan pekerjaan, periksa kualitasnya, lalu pastikan hasilnya benar-benar berguna bagi masyarakat.






