Kota global terbaik ASEAN: apa artinya bagi Jakarta dan Surabaya?
Kota global terbaik ASEAN adalah kota-kota di Asia Tenggara yang dinilai unggul dalam jaringan ekonomi, sumber daya manusia, kualitas hidup, lingkungan, dan tata kelola, sehingga mampu terhubung erat dengan arus keuangan, perdagangan, dan ide-ide dunia melalui konektivitas fisik maupun digital yang tinggi. Dalam peta ranking kota Asia Tenggara, Jakarta kini duduk di posisi ke-4 kota global terbaik ASEAN dan ke-140 dunia, sementara Surabaya masuk 10 besar dengan posisi ke-10 dan peringkat ke-308 dunia. Fakta bahwa Jakarta menjadi satu-satunya kota nasional yang tembus 150 besar global menandakan lonjakan statusnya sebagai pusat ekonomi dan jaringan global. Namun, pengakuan ini bukan sekadar medali; ia adalah cermin yang menyoroti kekuatan di ekonomi dan sumber daya manusia, sekaligus menelanjangi kelemahan pada kualitas hidup dan lingkungan.

Membaca angka: ekonomi kuat, kualitas hidup tertinggal
Global Cities Index 2026 membandingkan 1.000 kota di dunia dengan lima indikator: ekonomi berbobot 30%, sumber daya manusia 25%, kualitas hidup 25%, lingkungan 10%, dan tata kelola pemerintah 10%. Di sinilah paradoks Jakarta terlihat tajam. Kota ini berada di peringkat ke-23 global untuk sumber daya manusia dan ke-59 untuk ekonomi, tetapi terjun ke peringkat ke-553 untuk lingkungan dan ke-561 untuk kualitas hidup. Kutipan yang layak dicatat: “Jakarta menempati peringkat pertama kota global terbaik di tingkat nasional dan menjadi satu-satunya kota yang menembus 150 besar dunia.” Surabaya menyusul dengan profil yang lebih seimbang namun belum sekuat Jakarta: peringkat ke-251 untuk sumber daya manusia, ke-216 ekonomi, ke-388 lingkungan, dan ke-468 kualitas hidup. Artinya, kedua kota ini sudah kuat di mesin ekonomi, tetapi belum ramah sepenuhnya bagi warganya.
Ranking kota Asia Tenggara: siapa di atas, siapa mengejar?
Dalam daftar kota global terbaik ASEAN, Singapura memimpin sebagai kota global terbaik kawasan dan berada di peringkat ke-29 dunia. Di bawahnya, Kuala Lumpur menempati posisi ke-65 dunia, lalu Bangkok di peringkat ke-122 dunia. Jakarta menyusul sebagai kota global terbaik ke-4 di ASEAN dengan posisi ke-140 dunia, sementara kota-kota lain seperti Manila (ke-174), Ho Chi Minh City (ke-205), Hanoi (ke-243), Georgetown (ke-279), Johor Bahru (ke-288), dan Surabaya (ke-308) melengkapi 10 besar ranking kota Asia Tenggara. Menariknya, tiga kota dalam daftar ini berasal dari satu negara yang sama, menunjukkan konsistensi strategi urban mereka. Jakarta peringkat global yang menembus 150 besar dan Surabaya yang masuk 10 besar kawasan menandakan bahwa pusat-pusat urban nasional tidak lagi sekadar pemain domestik, melainkan bagian dari jaringan kota global terbaik ASEAN yang saling bersaing dan saling mengamati.

Keamanan dan persepsi: Jakarta di daftar kota teraman Asia Tenggara
Dimensi lain yang menguatkan status Jakarta adalah masuknya kota ini ke daftar 10 kota teraman Asia Tenggara versi indeks keamanan kota yang disusun Numbeo. Jakarta berada di peringkat ke-9 dengan skor indeks keamanan 47,2, di bawah Cebu dan Ho Chi Minh City yang masing-masing mencatat skor 49,6. Sebagai pembanding, Chiang Mai mencatat skor 77,9, Singapura 77,5, Davao 71,4, sementara Kuala Lumpur di posisi ke-10 dengan skor 40,9. Penting digarisbawahi: indeks ini berbasis survei pengunjung situs yang mengukur persepsi masyarakat terhadap keamanan dan tingkat kejahatan, bukan statistik resmi kriminalitas. Artinya, Jakarta belum tentu paling aman secara data kepolisian, tetapi persepsi publik mulai bergeser ke arah yang lebih positif. Untuk kota yang kerap distigma semrawut, masuk 10 besar kota teraman Asia Tenggara adalah sinyal perubahan narasi yang tidak bisa diabaikan.

Status global naik, pekerjaan rumah tetap menumpuk
Jika dirangkum, dua kerangka penilaian berbeda—Global Cities Index dari Oxford Economics dan Safety Index by City dari Numbeo—memberi pesan yang konsisten: Jakarta dan Surabaya sedang naik kelas sebagai kota global terbaik ASEAN, tetapi belum menjadi kota yang sepenuhnya nyaman dihuni. Jakarta memimpin daftar kota global nasional dan menjadi satu-satunya yang menembus 150 besar dunia, sementara Surabaya mengokohkan diri di posisi kedua nasional dan ke-10 di tingkat ASEAN. Namun, peringkat rendah pada kualitas hidup dan lingkungan menunjukkan bahwa status global belum otomatis sejalan dengan kesejahteraan warga. Di sisi lain, masuknya Jakarta ke 10 besar kota teraman Asia Tenggara mengisyaratkan perbaikan persepsi keamanan. Kesimpulannya, kota-kota ini sudah kuat sebagai mesin ekonomi dan simpul jaringan global; tantangan berikutnya adalah menjadi tempat tinggal yang lebih sehat, adil, dan manusiawi.







