Kepercayaan jangka panjang di tengah gejolak pasar
Iklim investasi adalah rangkaian kondisi politik, keamanan, aturan, dan praktik bisnis yang menentukan apakah investor bersedia menanamkan modal serta mempertahankannya dalam jangka panjang. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyatakan kepercayaan investor dan realisasi investasi masih berjalan baik meski pasar saham Indonesia bergejolak. Ia menyampaikan pandangan itu dalam Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Pernyataan tersebut patut dibaca sebagai sinyal peluang, bukan alasan untuk mengabaikan risiko: investasi pabrik dan kegiatan usaha berjangka panjang tidak sama dengan dana di pasar modal yang bisa masuk dan keluar sewaktu-waktu. Namun, gejolak bursa tetap penting sebagai pengingat bahwa keyakinan investor tidak seragam. Kepercayaan pada proyek jangka panjang bisa bertahan, sementara pelaku pasar saham bereaksi cepat terhadap perubahan sentimen dan prospek.
Angka investasi memberi alasan untuk optimistis
Rosan menyebut realisasi investasi mencapai Rp3.923,2 triliun pada periode yang dalam laporan disebut kuartal IV-204 hingga kuartal III-2026, atau 30,1 persen dari target Rp13.032,8 triliun untuk 2025–2029. Ia menegaskan angka tersebut menggambarkan belanja investasi yang sudah dikeluarkan di dalam negeri, bukan sekadar nota kesepahaman. Dalam pemaparannya, total investasi yang masuk selama sepuluh tahun terakhir mencapai Rp9.100 triliun. Skala itu memberi dasar bagi optimisme, tetapi capaian terhadap target juga menunjukkan masih panjangnya jalan yang harus ditempuh. Pada saat yang sama, IHSG turun 184,25 poin atau 3,49 persen ke posisi 5.098, disertai arus keluar dana asing Rp1,07 triliun pada hari perdagangan yang diberitakan. Kontras ini memperjelas bahwa angka investasi langsung dan gejolak bursa mengukur perilaku modal yang berbeda, bukan bukti bahwa salah satunya dapat diabaikan.
Transparansi dan kepastian usaha adalah ujian berikutnya
Optimisme Rosan akan lebih meyakinkan jika disertai pengakuan bahwa pekerjaan rumah pemerintah belum selesai. Ia menyebut iklim investasi perlu dibuat lebih transparan dan mengakui pentingnya memperbaiki tata kelola, akuntabilitas, serta integritas. Investor juga mencari kepastian usaha: aturan dan pelaksanaan yang terukur, terstruktur, serta tidak menghadirkan kejutan yang sulit diperkirakan. Tuntutan itu makin mendesak ketika ekonomi dunia tidak pasti dan tensi politik global meningkat. Rosan turut mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak dapat menekan APBN. Dengan demikian, transparansi bisnis bukan sekadar pelengkap citra, melainkan bagian dari kondisi yang menentukan apakah investor dapat menghitung risiko dan menjalankan rencana. Kepercayaan yang disampaikan pemerintah adalah modal awal; konsistensi kebijakan dan tata kelola yang dapat dipercaya menjadi bukti yang harus menyusul.
Peluang ada, tetapi harus dibuktikan lewat perbaikan
Pemerintah memperkirakan target investasi lima tahunan tercapai dalam lima tahun ke depan, sementara Danantara sedang berproses mengoptimalkan aset serta meningkatkan produktivitas dan efisiensi BUMN. Rosan juga menegaskan Danantara bukan untuk mengambil alih peran pengusaha swasta, melainkan bekerja bersama sektor usaha. Arah itu penting, tetapi keberhasilannya bergantung pada tata kelola yang terbuka dan batas peran yang jelas agar pelaku usaha dapat menilai persaingan secara adil. Jadi, dua pesan Rosan—kepercayaan investor masih tinggi dan iklim investasi masih perlu dibenahi—bukanlah pertentangan. Keduanya menggambarkan peluang yang nyata sekaligus syarat untuk mempertahankannya. Kesimpulannya, optimisme layak disambut, tetapi ukuran kemajuan berikutnya bukan hanya besarnya realisasi investasi: transparansi, kepastian usaha, dan tata kelola yang konsisten harus membuat keyakinan itu pantas dipercaya.






