Ketekunan di antara ruang kuliah dan dagangan
Mahasiswa jualan mochi adalah mahasiswa yang merintis pemasukan dan pengalaman usaha dengan menawarkan produk di sela kewajiban kuliah, menghadapi pelanggan sekaligus menjaga komitmen akademik. Mhd Haikal Ananta menjalani keseharian itu di Universitas Sumatera Utara (USU): ia mahasiswa angkatan 2024 Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, yang membagi waktu antara perkuliahan, berjualan, dan persiapan perlombaan. Kisahnya menarik bukan karena kesibukan semata, melainkan karena ia memilih bergerak meski hasil jualan tak selalu pasti. Usaha mochi mahasiswa ini bermula dari ajakan teman yang bisa membuat mochi; Haikal mengambil bagian pemasaran dan mendatangi calon pembeli di berbagai fakultas. Jika Bus Linus tersedia, ia menggunakannya untuk berkeliling. Jika tidak, ia berjalan kaki. Cara sederhana itu menunjukkan bahwa peluang usaha tidak selalu dimulai dengan tempat khusus—kadang dimulai dengan keberanian menyapa orang.

Penolakan pun menjadi bagian dari latihan
Berjualan langsung membuat Haikal berhadapan dengan sisi yang jarang tampak dalam kisah sukses: dagangan yang tidak habis, rasa malu saat menawarkan produk, dan penolakan calon pembeli. Ia mengakui bahwa awalnya tidak selalu mudah, tetapi pengalaman itu melatih kepercayaan diri dan ketahanan. Menurut Haikal, “Ada kalanya dagangan nggak habis, ada rasa malu ketika menawarkan produk, bahkan terkadang ada penolakan dari orang lain.” Hambatan semacam ini bukan hiasan dramatis; ia memperlihatkan biaya emosional dari usaha kecil yang dijalankan di tengah rutinitas kuliah. Haikal juga terlibat dalam organisasi, kepanitiaan, dan kegiatan sosial, selain mempersiapkan perlombaan. Tidak tersedia rincian tentang cabang lomba atau hasil tertentu dalam bahan yang dirujuk, tetapi sumber menyebut capaian hingga tingkat nasional. Pelajaran yang tampak jelas: prestasi dan usaha tidak selalu lahir dari jadwal yang lapang, melainkan dari kemauan bertahan saat hasil belum sesuai harapan.
Dukungan yang membuka ruang untuk melanjutkan
Upaya Haikal mendapat dukungan nyata setelah ia bertanya tentang ketersediaan tepung ketan kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam kuliah umum di Auditorium USU pada 15 Juli 2026. Ia menerima bantuan modal usaha Rp5 juta dari menteri tersebut dan memperoleh kepastian beasiswa penuh dari PTPN IV PalmCo. Beasiswa mahasiswa USU itu telah disalurkan untuk membayar Uang Kuliah Tunggal semester berjalan, sehingga membantu meringankan beban orang tuanya. Menurut Haikal, bantuan modal dan beasiswa tersebut bukan hanya dukungan materi, tetapi juga penyemangat untuk terus mengembangkan usaha dan mengejar cita-cita. Dukungan ini penting karena kemandirian tidak berarti mahasiswa harus menanggung semuanya sendirian. Modal dapat membantu usaha bertumbuh, sementara beasiswa memberi ruang agar pendidikan tetap berjalan. Kisah Haikal layak dibaca sebagai pengingat bahwa inisiatif mahasiswa perlu disambut dengan akses dan dukungan yang konkret.
Prestasi bukan alasan melupakan proses
Kisah Haikal merangkum tiga tuntutan yang kerap berjalan beriringan: belajar, mencari pengalaman melalui usaha, dan mempersiapkan diri untuk kompetisi. Sumber menyebut prestasinya mencapai tingkat nasional, tetapi tidak memberikan rincian nama lomba, peringkat, atau tanggal pencapaian; karena itu, yang dapat ditegaskan di sini adalah luasnya komitmen, bukan detail yang tidak tersedia. Ia menjalankan penjualan mochi dengan mendatangi mahasiswa di lingkungan kampus, sambil tetap mengikuti kegiatan akademik dan mempersiapkan perlombaan. Bantuan modal Rp5 juta dan beasiswa penuh menjadi dukungan bagi dua sisi perjuangannya—usaha dan pendidikan. Namun, pencapaian tidak menghapus kesulitan yang lebih dulu ia hadapi: berjalan kaki mengitari kampus, menghadapi penolakan, dan menerima kemungkinan dagangan tersisa. Justru rangkaian proses itulah yang membuat kisah ini bermakna bagi mahasiswa lain yang ingin berinisiatif tanpa meninggalkan kuliah. Kesimpulannya, keberhasilan Haikal bukan semata soal bantuan atau prestasi, melainkan konsistensi untuk terus mencoba.






