Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Siswa Ubah Sampah Jadi Media Belajar SDGs di Sekolah

Siswa Ubah Sampah Jadi Media Belajar SDGs di Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Dari Hafalan ke Tindakan: SDGs Turun ke Meja Kelas

Pembelajaran SDGs praktis adalah pendekatan edukasi pembangunan berkelanjutan yang mengajak siswa menerjemahkan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke dalam aksi nyata, karya konkret, dan pengalaman langsung di lingkungan sekolah sehingga konsep global yang abstrak menjadi dekat, bisa disentuh, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Di beberapa SMP, pendekatan ini mulai mengubah wajah kelas: dari ruang hafalan menjadi ruang eksperimen sosial dan lingkungan. Botol bekas, kardus, dan sendok plastik bukan lagi sekadar limbah, melainkan bahan utama proyek lingkungan siswa yang menantang murid untuk berpikir ulang tentang konsumsi dan sampah. Inilah pembelajaran berbasis aksi yang seharusnya menjadi standar baru, bukan sekadar program tambahan yang muncul sesekali.

SUSTHIRA Exhibition: Limbah Disulap Jadi Media Belajar

Di sebuah SMP, ruang pertemuan pada Jumat pagi berubah menjadi laboratorium kreativitas keberlanjutan: lampion warna-warni dari botol plastik bekas, replika bulan sabit dari bahan daur ulang, tas anyaman, hingga cermin hias dari sendok plastik tersusun di atas meja panjang. Semua karya ini adalah respons siswa terhadap 17 poin SDGs yang mereka olah menjadi media belajar tentang pembangunan berkelanjutan. Pameran bertajuk SUSTHIRA Exhibition, digagas mahasiswa Praktik Kependidikan UNY bersama sekolah, memajang total 157 karya dalam bentuk lukis pahlawan, poster, dan kriya. "Kami ingin siswa tidak sekadar menghafal 17 poin SDGs dari buku, tetapi merasakan sendiri bahwa tujuan-tujuan besar itu bisa dimulai dari hal-hal kecil di sekitar mereka". Melalui karya nyata, konsep yang biasanya abstrak menjadi sesuatu yang bisa dipegang, dilihat, dan dijelaskan kembali dengan bahasa mereka sendiri.

Citizenship Journalism: Suara Laut dari Ruang Kelas

Jika di satu sekolah sampah diubah jadi kriya, di sekolah lain SDGs 14 tentang kehidupan bawah laut dijadikan medan latihan kewargaan digital. Mahasiswa PK UNY memprakarsai ajang Citizenship Journalism dengan fokus utama pada SDGs poin ke-14, Life Below Water, untuk mengajak siswa menyuarakan pentingnya menjaga ekosistem laut melalui poster dan video kampanye. Tahap penyisihan berlangsung daring pada 8–17 Agustus, ketika perwakilan kelas ditantang menuangkan gagasan ke media digital berupa poster dan video singkat. Salah satu poster membawa slogan lugas "Selamatkan Laut, Selamatkan Kehidupan!" serta ilustrasi penyu yang lehernya terjerat jaring limbah di laut yang penuh sampah plastik. Acara puncak digelar offline pada 18 Agustus di laboratorium IPA, di mana siswa memajang poster cetak, memutar video kampanye, dan mempresentasikan ide dasar serta pesan moral di depan juri dan teman sebaya.

Experiential Learning yang Mencetak Warga Muda Peduli Lingkungan

Dua contoh di atas menunjukkan satu hal: ketika pembangunan berkelanjutan diajarkan lewat pengalaman langsung, siswa jauh lebih terlibat. Mengubah sampah menjadi kriya membuat mereka menyadari bahwa limbah punya nilai dan bahwa pilihan konsumsi mereka berdampak pada lingkungan sekitar. Menjadi jurnalis warga lewat poster dan video kampanye melatih keterampilan media digital, literasi informasi, dan berpikir kritis. Dari sana lahir kesadaran bahwa tindakan sederhana di sekolah, seperti mengurangi plastik sekali pakai dan mengelola sampah dengan benar, ikut mencegah kehancuran ekosistem laut. Pembelajaran SDGs praktis semacam ini tidak memerlukan teknologi canggih; yang dibutuhkan adalah keberanian sekolah memindah titik berat dari ceramah ke aksi, dari ujian tertulis ke proyek lingkungan siswa yang nyata.

Menuju Budaya Sekolah Berkelanjutan, Bukan Proyek Sesaat

Pertanyaan pentingnya: apakah semua ini akan berhenti sebagai lomba dan pameran tahunan? Di salah satu sekolah, guru dan mahasiswa PK berharap poster serta video karya siswa terus dipublikasikan sebagai media edukasi sebaya untuk membangun budaya ramah lingkungan secara berkelanjutan. Harapan itu seharusnya diperluas menjadi komitmen: menjadikan pembelajaran berbasis aksi sebagai bagian rutin kurikulum, bukan dekorasi ketika ada acara khusus. Edukasi pembangunan berkelanjutan tidak akan kuat jika berdiri sendiri; ia perlu ditenun ke dalam IPS, IPA, bahasa, seni, bahkan tata tertib sekolah. Sampah di halaman, penggunaan plastik di kantin, dan kebiasaan digital siswa adalah bahan ajar paling relevan. Kesimpulannya jelas: masa depan SDGs di sekolah bergantung pada seberapa serius kita memindahkan teori ke praktik, dan memberi ruang bagi siswa menjadi aktor, bukan sekadar penerima materi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!