Apa Itu Getra dan Mengapa Penting bagi UMKM
Getra Sulawesi Tenggara adalah sebuah platform ekspor UMKM berupa pusat layanan terpadu yang menyediakan konsultasi, pelatihan, pendampingan, dan fasilitasi ekspor untuk membantu pelaku usaha lokal memenuhi standar internasional dan memperluas akses pasar global melalui sinergi lintas lembaga pemerintah dan otoritas terkait.
Intinya, peluncuran Getra bukan sekadar tambahan program, tetapi pernyataan politik ekonomi: UMKM lokal tidak lagi cukup hanya jualan di pasar domestik. Pemerintah provinsi bersama Bank Indonesia, Bea Cukai, Badan Karantina Indonesia, dan mitra lain resmi menginisiasi Gerai Ekspor Sultra (Getra) sebagai jawaban atas tantangan perluasan pasar hingga ke kancah global. Getra diresmikan pada pembukaan Sultra Maimo 2026 di The Park Kendari pada Jumat 7 Agustus 2026. Momentum ini menandai pergeseran fokus dari UMKM sebagai objek bantuan menjadi pemain yang disiapkan untuk kompetisi global.

Peluncuran di Sultra Maimo: Simbol Strategi Ekspor dan Digitalisasi
Peresmian Getra di ajang Sultra Maimo 2026 bukan kebetulan, melainkan strategi. Kegiatan yang berlangsung di The Park Kendari pada 2–9 Agustus 2026 itu dirancang sebagai wadah kolaborasi untuk membangun ekosistem UMKM yang lebih maju, inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dengan menempatkan platform ekspor UMKM ini di jantung sebuah festival ekonomi, pemerintah mengirim pesan jelas: ekspor dan digitalisasi adalah arus utama, bukan program sampingan.
Gubernur menegaskan bahwa pengembangan UMKM kini menjadi bagian penting strategi pembangunan daerah, melalui peningkatan produktivitas, penguatan industri kreatif, dan pengembangan potensi unggulan. Dalam konteks ini, Getra adalah instrumen konkret. Ia menghubungkan agenda ekspor dengan agenda digitalisasi UMKM Indonesia, terutama lewat sinergi dengan QRIS dan berbagai kegiatan seperti Sultra Trade Forum dan Business Matching yang digelar dalam rangkaian Sultra Maimo.
Getra sebagai Platform Terpadu: Memecah Hambatan Ekspor UMKM
Selama ini, hambatan utama UMKM untuk ekspor bukan hanya kualitas produk, tetapi kebingungan menghadapi regulasi, standar mutu, hingga prosedur logistik. Getra secara terang-terangan dirancang untuk memecah simpul ini. Fasilitas ini diresmikan sebagai pusat layanan terpadu yang siap memberikan konsultasi, pelatihan, pendampingan, hingga fasilitasi ekspor bagi para pelaku usaha di Bumi Anoa. Dengan menggandeng Bank Indonesia, Bea Cukai, Badan Karantina Indonesia, dan mitra lain, proses yang biasanya terfragmentasi disatukan dalam satu gerai.
Di sisi lain, Getra juga menjadi ruang belajar untuk memahami standar mutu internasional sekaligus memperkuat kapasitas usaha dan memperluas jangkauan pasar hingga ke luar negeri. Di sinilah letak signifikansinya: bukan hanya mengurus dokumen ekspor, tetapi membentuk cara pandang baru bahwa produk unggulan Sulawesi Tenggara harus disiapkan sejak awal untuk menembus pasar global, bukan dipaksa menyesuaikan belakangan.
Digitalisasi: Fondasi agar Platform Ekspor Tidak Menjadi Etalase Kosong
Platform ekspor UMKM tanpa digitalisasi hanya akan menjadi etalase cantik yang sepi. Karena itu, komitmen terhadap transformasi digital berjalan paralel dengan peluncuran Getra. Gubernur menekankan bahwa digitalisasi mampu memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan efisiensi usaha, sekaligus memberikan kemudahan transaksi bagi masyarakat. Data penggunaan QRIS menjadi bukti bahwa fondasi ekonomi digital mulai terbentuk: hingga Triwulan II 2026, jumlah pengguna QRIS telah mencapai sekitar 350 ribu atau tumbuh 23,20 persen year on year, sementara merchant lebih dari 267 ribu dengan 5,23 juta transaksi.
Langkah lanjutan berupa Pekan QRIS Nasional (PQN) pada Agustus 2026 menguatkan arah ini. Digitalisasi UMKM Indonesia bukan sekadar soal pembayaran nontunai; ia adalah prasyarat agar data penjualan, jaringan pelanggan, dan kredibilitas usaha dapat dibuktikan ketika UMKM melangkah ke ekspor. Di titik ini, Getra dan QRIS saling menguatkan: satu mengurus akses pasar global, satu lagi mengokohkan fondasi transaksi dan ekosistem ekonomi digital di tingkat lokal.
Kolaborasi Lintas Lembaga dan Tantangan Ke Depan
Getra lahir dari kesadaran bahwa keberhasilan ekspor UMKM tidak mungkin dicapai oleh satu lembaga saja. Pemerintah provinsi menginisiasi pembentukan Getra bersama Bank Indonesia, Bea Cukai, Badan Karantina Indonesia, dan berbagai mitra lain. Kolaborasi ini sejalan dengan pandangan bahwa keberhasilan pengembangan UMKM hanya dapat diwujudkan melalui sinergi pemerintah, otoritas keuangan, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan media. Rangkaian kegiatan Sultra Maimo—dari Sultra Trade Forum hingga kompetisi model bisnis sirkular—dirancang untuk menghasilkan transaksi bisnis, memperluas jejaring kemitraan, dan membuka peluang pasar yang lebih luas.
Namun kolaborasi ini baru fondasi. Tantangan berikutnya adalah konsistensi layanan Getra, kemampuan menjangkau UMKM di luar kota utama, dan memastikan bahwa hanya produk yang betul-betul siap yang didorong ke pasar global. Bank Indonesia dan pemerintah provinsi optimistis bahwa langkah ini akan mendorong semakin banyak UMKM naik kelas, memperkuat pemanfaatan digitalisasi, dan meningkatkan kontribusi sektor UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kesimpulannya, Getra adalah peluang besar—tetapi hasil akhirnya akan sangat ditentukan oleh seberapa serius semua pihak menjaga kualitas ekosistem yang baru dibangun ini.





