Dari Roti Kerucut di TikTok ke Antrean Panjang
Salt bread adalah roti gurih berbentuk kerucut menyerupai bulan sabit yang diisi dan dibalur butter berkualitas dengan taburan garam laut di bagian atas, menghasilkan kombinasi tekstur garing di luar dan lembut buttery di dalam serta rasa asin-gurih yang menyeimbangkan dominasi tren camilan manis di media sosial.
Fenomena salt bread viral dimulai ketika roti kerucut bak bulan sabit ini membanjiri linimasa TikTok dan Instagram, memicu antrean di banyak gerai roti besar di kota-kota utama. Bentuknya yang fotogenik dan cara menyobek roti yang memamerkan lelehan butter membuat roti garam tren ini ideal untuk konten singkat yang memicu rasa penasaran. Banyak warganet memuji rasa gurihnya sebagai “penyeimbang” di tengah banjir dessert manis. Di balik tampilannya, kuncinya tetap pada resep: adonan kaya butter, garam laut di puncak, dan pemanggangan yang membuat dasar roti seperti digoreng oleh butter yang meleleh, menghasilkan kontras renyah-lunak yang membuat orang rela antre.
Sunday Batch Jakarta: Roti Garam Jadi Pengalaman Artisanal
Jika di media sosial salt bread tampil sebagai snack lucu dan menggiurkan, Sunday Batch Jakarta mengangkatnya menjadi pengalaman roti artisanal yang serius. Brand saudari Dough Darlings ini membuka gerai pertamanya di Mall Kelapa Gading dengan konsep “roti untuk dinikmati perlahan di tengah hidup yang serba cepat”. Roti garam tren di sini bukan sekadar mengikuti hype, tetapi diolah sebagai produk kriya kuliner dengan standar tinggi.
Pada pembukaan perdananya, Sunday Batch merilis 22 varian salt bread, dengan 19 menu untuk dine-in dan takeaway, serta tiga menu khusus makan di tempat. Menariknya, beberapa salt bread dibentuk menyerupai donat atau bagel, bukan hanya demi estetika, tapi untuk mengubah tekstur: distribusi butter lebih merata dan area dasar yang bersentuhan dengan loyang lebih luas, sehingga lebih crunchy dibanding salt bread biasa. Mereka sengaja tidak memakai egg wash; sebagai gantinya, lelehan butter dimanfaatkan untuk karamelisasi alami yang memberi lapisan luar keemasan tipis, renyah, dengan aroma buttery yang kuat.

Dine-in Hangat: Salt Bread dan Sup di Satu Meja
Salah satu bukti bahwa salt bread sudah melampaui status “sekadar roti” terlihat dari cara Sunday Batch merancang pengalaman dine-in. Bukan cuma etalase penuh roti, tapi ritual makan yang pelan dan hangat. Mini salt bread disajikan khusus bersama pilihan sup hangat untuk dicocol, menjadikannya lebih dekat ke comfort food ketimbang snack viral musiman.
Pendekatan ini cerdas menyasar konsumen urban yang mulai bosan dengan pilihan grab-and-go yang seragam dan kini mencari kualitas, karakter, dan pengalaman berbeda saat menyantap roti artisanal. Tekstur luarnya yang renyah tanpa egg wash dan bagian dalam yang lembut, buttery, dan sedikit kenyal, ditambah sup hangat, mengubah salt bread dari konten TikTok menjadi alasan untuk duduk, mengobrol, dan melambat sejenak di tengah rutinitas. Di sini, salt bread menjadi simbol pergeseran selera: dari kepraktisan semata menuju momen makan yang lebih reflektif.
Paris Baguette Shio Butter dan Invasi Korean Bakery Trend
Di sisi lain kota, salt bread mendapati interpretasi berbeda lewat Paris Baguette Shio Butter. Seri Salt Bread ini terinspirasi tren bakery Korea dengan sentuhan khas brand tersebut. Menurut Jeremy Sim, CEO Erajaya Food & Nourishment, “Tren bakery Korea semakin dekat dengan keseharian konsumen, sehingga kami menghadirkan enam kreasi salt bread dengan pendekatan yang eksploratif”. Di sini, sogeum ppang ala Korea dipeluk penuh, lalu dipadukan dengan gaya bakery modern.
Shio Butter hadir terbatas di lima gerai utama dan menawarkan enam rasa, dari Signature Shio Butter yang mempertahankan kulit keemasan renyah dan bagian dalam lembut, hingga Multigrain Shio Butter yang menambah tekstur renyah dan rasa nutty ringan. Ada pula K-Garlic Cream Cheese Shio Butter yang memadukan cream cheese dengan Korean-style garlic butter, serta Choco Hazelnut Shio Butter dengan cokelat hazelnut, dark chocolate, kacang hazelnut panggang, dan sentuhan garam. Seri ini diposisikan sebagai snack praktis yang tetap punya karakter kuat: tekstur renyah, rasa gurih, dan aroma buttery yang menonjol, dengan harga per buah yang berada di kelas premium, mulai dari Rp 22.000 hingga Rp 34.000.

Antara Tren, Budaya Korea, dan Batas Konsumsi
Saat salt bread merambah gerai besar, kafe spesialis, hingga feed media sosial, jelas bahwa kita sedang menyaksikan lebih dari sekadar tren roti musiman. Ini adalah pertemuan tiga arus: roti artisanal yang naik daun seiring gaya hidup urban yang kian selektif, Korean bakery trend yang merapat ke keseharian konsumen melalui seri seperti Shio Butter, serta kejenuhan terhadap camilan yang terlalu manis sehingga roti gurih-asin terasa menyegarkan bagi banyak orang.
Namun, di balik glorifikasi butter dan lapisan garing itu, ada catatan penting: kadar butter dan lemak yang tinggi membuat roti ini bukan kandidat sarapan harian tanpa batas. Sumber yang sama mengingatkan agar masyarakat tetap bijak membatasi porsi harian agar pola makan tetap seimbang. Pada akhirnya, salt bread sebaiknya diposisikan sebagai treat yang dinikmati sadar, bukan camilan yang dimakan tanpa hitung. Dari TikTok ke meja kafe, masa depan tren ini tampaknya akan ditentukan oleh kemampuan brand menjaga keseimbangan: antara gurih yang memikat, pengalaman makan yang pelan, dan kesehatan yang tidak diabaikan.






