Berbagi Infrastruktur untuk Menjangkau Lebih Jauh
Infrastruktur digital bersama adalah penggunaan menara, jaringan serat optik, dan fasilitas pendukung oleh beberapa operator agar perluasan layanan lebih cepat, efisien, dan menjangkau wilayah yang sebelumnya kurang menarik secara bisnis. Model ini layak menjadi prioritas karena tantangan konektivitas bukan hanya membangun jaringan, melainkan memastikan investasi bisa digunakan sebanyak mungkin. Di kota besar, pengguna terkonsentrasi; di daerah, jumlah pelanggan yang lebih sedikit membuat pembangunan menara dan penarikan kabel sering sulit dihitung secara komersial. Pada 22 Oktober 2026, Direktur Operasi dan Pembangunan Mitratel, Hastining Bagyo Astuti, membahas pendekatan ini dalam forum teknologi di Denpasar. Mitratel mencatat 40.563 menara dan 59.239 kilometer jaringan fiber optik hingga Semester I 2026. Skala aset itu memberi peluang agar operator memperluas cakupan tanpa selalu membangun fasilitas serupa dari awal. Pemerataan konektivitas internet akan lebih realistis jika infrastruktur yang sudah tersedia benar-benar dibagi dan dimanfaatkan.

Kabel Laut Menguatkan Jangkauan Jawa Timur
Berbagi menara perlu dilengkapi jalur antarpulau yang memadai. Di Jawa Timur, Biznet telah menjangkau sekitar 200 ribu homepass, dengan Surabaya sebagai pasar terbesarnya; Magetan dan Madura masih dalam proses perluasan. Perusahaan ini juga mengoperasikan Biznet Nusantara Cable System, kabel laut telekomunikasi yang dibangun, dimiliki, dan dijalankan sendiri sejak 2024. Kini, pembangunan BNCS-2 dirancang menghubungkan Banjarmasin, Sumenep, dan Buleleng. Madura menjadi sasaran utama tahun depan, dengan rencana jalur dari Gresik ke Bawean lalu ke Dungkek di Sumenep. Langkah ini penting karena koneksi pulau tidak bisa mengandalkan jaringan darat saja. Namun, target jangkauan harus diikuti penyelesaian izin dan pembangunan sampai titik yang belum terlayani. Tanpa tindak lanjut tersebut, peta cakupan yang luas belum tentu berarti akses internet yang setara bagi warga.

Ambisi Menjadi Pusat Digital Asia Pasifik
Investasi jaringan juga punya arti strategis: Indonesia perlu menjadi penghubung digital, bukan sekadar pasar pengguna layanan. TelkomGroup mendukung Bali Tech Week 2026, forum yang diinisiasi Kementerian Komunikasi dan Digital untuk mempertemukan pemerintah, industri, inovator, serta komunitas teknologi dari dalam dan luar negeri. Dalam forum itu, Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menyampaikan gagasan “Indonesia’s Next Network: Connecting Indonesia and Global, Building the Indo-Pacific Hub”. Arah tersebut sejalan dengan ambisi menjadikan Indonesia digital hub Asia Pasifik melalui infrastruktur yang mandiri dan konektivitas inklusif. Namun, ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada panjang kabel atau banyaknya menara. Jaringan harus mendukung daya saing industri, membuka peluang ekonomi, dan memberi manfaat di luar pusat-pusat bisnis. Kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha penting untuk menghubungkan investasi dengan kebutuhan nyata, bukan sekadar membangun kapasitas yang belum tentu digunakan.

Manfaat Nyata Bergantung pada Kolaborasi
Bagi pengguna, hasil yang paling terasa ialah sinyal lebih merata saat bepergian, kapasitas jaringan lebih lapang di lokasi padat, dan peluang layanan dengan harga lebih rasional ketika biaya infrastruktur tidak ditanggung sendiri-sendiri oleh tiap operator. Karena itu, infrastruktur digital bersama bukan pilihan teknis semata, melainkan strategi pemerataan yang masuk akal bagi wilayah dengan tantangan komersial. Mitratel menyatakan bahwa pemerataan membutuhkan bukan hanya pembangunan, tetapi juga pemanfaatan infrastruktur secara optimal untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Kebijakan yang mendukung penggunaan bersama, investasi berkelanjutan pada jaringan fiber optik, serta kabel laut telekomunikasi perlu berjalan beriringan. Pemerintah dapat membuka ruang kolaborasi dan memberi kepastian bagi pembangunan, sementara operator menyatukan kekuatan jaringan tanpa mengabaikan kebutuhan lokal. Kesimpulannya, konektivitas yang merata dan kedaulatan digital tidak akan tercapai lewat proyek yang berjalan sendiri-sendiri. Ukurannya adalah seberapa banyak orang dan wilayah yang benar-benar memperoleh akses andal.






