Kesaksian yang menjelaskan peminatan
Teknologi kayu adalah bidang studi yang mengkaji sifat, pengolahan, pengawetan, dan pemanfaatan kayu serta hasil hutan lainnya. Dalam kesaksiannya pada Kamis, 5 November 2026, Joko Widodo menyebut bahwa ia banyak mengambil mata kuliah pilihan di bidang teknologi hasil hutan atau teknologi kayu saat kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Keterangan itu muncul ketika Jokowi menjawab pertanyaan jaksa dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur terkait perkara dugaan fitnah dan pencemaran nama baik yang berangkat dari tudingan ijazah palsu. Jadi, pembahasan mata kuliah bukan sisipan biografis tanpa konteks: riwayat pendidikannya diminta sebagai bagian dari kesaksian dalam perkara tersebut. Nilai keterangannya terletak pada detail yang dapat diuji sebagai riwayat akademik, bukan pada anggapan bahwa satu peminatan dengan sendirinya membuktikan seluruh aspek perkara.

Pilihan mata kuliah, bukan jurusan resmi
Jokowi menjelaskan bahwa Fakultas Kehutanan UGM pada masa kuliahnya tidak menerapkan sistem penjurusan khusus. Mahasiswa dapat memilih sejumlah mata kuliah sesuai bidang yang diminati; kumpulan pilihan itu kemudian membuat mereka diasosiasikan dengan peminatan tertentu oleh teman-teman kuliah.
Pembedaan ini penting. Sebutan seperti teknologi kayu, silvikultur, ekonomi kehutanan, atau konservasi hutan, menurut keterangannya, menggambarkan bidang yang banyak dipilih, bukan jurusan formal yang tercantum sebagai sistem pembagian fakultas. Karena itu, menyebutnya sebagai peminatan akademik lebih akurat daripada menyatakan Jokowi masuk jurusan teknologi kayu. Ketelitian istilah ini bukan perkara remeh: dalam pembicaraan yang berpusat pada keabsahan riwayat pendidikan, perbedaan antara struktur resmi program dan label informal teman seangkatan perlu tetap dijaga.
Apa yang dipelajari Jokowi
Jokowi menyebut sejumlah mata kuliah pilihan yang memperlihatkan fokusnya pada pengolahan hasil hutan: struktur dan sifat kayu, pengeringan kayu, pengawetan kayu, pulp dan kertas, industri kayu lapis, serta penggergajian. Rangkaian ini memberi gambaran lebih konkret daripada label umum “teknologi kayu”, sebab mencakup karakter bahan sekaligus proses dan produk.
Daftar tersebut juga menjawab pokok yang paling menonjol dari kesaksian: bidang yang paling banyak dipelajari Jokowi selama kuliah adalah teknologi hasil hutan atau teknologi kayu. Namun, daftar mata kuliah saja tidak semestinya dibaca sebagai bukti tunggal tentang keseluruhan riwayat akademik. Arti utamanya lebih terbatas tetapi jelas: Jokowi menerangkan sendiri pilihan studinya dan alasan rekan kuliah mengaitkannya dengan peminatan tersebut.
Detail akademik memberi konteks, bukan vonis
Kesaksian tentang kuliah kehutanan ini memperkaya gambaran publik mengenai pendidikan Jokowi melalui rincian yang spesifik dan relevan. Ia menyebut bukan hanya Fakultas Kehutanan UGM, tetapi juga mata kuliah yang dipilih serta cara peminatan dipahami pada masa itu. Itu membuat keterangannya lebih informatif daripada sekadar mengulang jenjang pendidikan.
Meski demikian, pembaca perlu memisahkan informasi akademik tersebut dari kesimpulan hukum perkara. Keterangan tentang teknologi kayu menjelaskan fokus belajar Jokowi, tetapi tidak dengan sendirinya menjadi putusan atas tudingan ijazah palsu. Kesimpulan yang paling bertanggung jawab ialah bahwa kesaksian itu menambahkan detail konkret pada riwayat kuliahnya: ia banyak mengambil mata kuliah teknologi hasil hutan, sementara label peminatannya bukan jurusan formal menurut penjelasannya.






