Berani berbicara, mampu menyampaikan
Public speaking adalah kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas kepada audiens, dengan keberanian, kepekaan terhadap situasi, dan tujuan agar pesan dipahami. Karena itu, pelatihan yang baik tidak berhenti pada cara berdiri atau kelancaran berbicara: peserta juga perlu belajar menggunakan suaranya dalam konteks nyata dan bertanggung jawab. Dua program di Malinau dan Malang menunjukkan dua sisi pembelajaran tersebut. Dekranasda Kabupaten Malinau menggelar pelatihan MC dan public speaking di Ruang Tebengang pada 22 Oktober, sebagai bagian dari peringatan HUT ke-27 kabupaten dan Festival Budaya Irau ke-12. Sebanyak 356 peserta mendaftar melalui aplikasi Saget. Jumlah itu memperlihatkan minat besar untuk mengembangkan kemampuan berbicara, tetapi nilai programnya terletak pada sasaran yang lebih luas: membangun kepercayaan diri, terutama di kalangan generasi muda.
Peserta Malinau tidak hanya diajak berani tampil. Pelatihan juga mencakup kursus MC, keterampilan yang menuntut kemampuan mengatur alur acara, berkomunikasi dengan audiens, dan menjaga suasana agar kegiatan berjalan lancar. Penekanan ini penting: berbicara di depan umum bukan sekadar tampil tanpa gugup, melainkan latihan yang bisa diterapkan dalam tugas dan kegiatan masyarakat. Ketua Dekranasda Malinau, Maylenty Wempi, mengingatkan bahwa rasa percaya diri dapat tumbuh melalui keberanian mencoba dan berlatih secara konsisten. Pandangan itu lebih realistis daripada menunggu percaya diri muncul dengan sendirinya. Pelatihan memberi ruang untuk mencoba, sementara praktik berulang membantu peserta menyampaikan gagasan dengan lebih jelas dan berani.
Malang menambahkan ukuran kesantunan
Diskominfo Kota Malang membawa perhatian dari keterampilan tampil ke etika komunikasi. Dalam pelatihan public speaking selama dua hari, 28–29 Oktober 2026, instansi tersebut melibatkan 266 peserta yang dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing 133 orang. Peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat, termasuk perwakilan kelurahan, kader antinarkoba, organisasi perempuan, kelompok pemerhati gender, dan komunitas disabilitas. Keragaman itu membuat pemahaman terhadap karakter audiens bukan tambahan kecil, melainkan bagian penting dari kemampuan menyampaikan pesan secara tepat. Diskominfo menekankan kesantunan dan etika karena arus informasi yang deras memperbesar peluang perbedaan pendapat berubah menjadi konflik ketika pesan disampaikan tanpa tanggung jawab.
Kepala Diskominfo Kota Malang, Muhammad Nur Widianto, menegaskan bahwa teknik berbicara perlu disertai adab, nilai ketimuran, dan nilai religi. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, juga menekankan bahwa keberhasilan komunikasi tidak cukup diukur dari kelancaran bicara; pesan harus dipahami audiens. Ini ukuran yang lebih berguna daripada sekadar menilai penampilan pembicara. Keterampilan dari pelatihan diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan organisasi, aktivitas sosial, dan penyampaian aspirasi. Dengan demikian, etika komunikasi bukan sekadar aturan sopan santun, melainkan cara menjaga agar maksud pembicara sampai tanpa merendahkan atau memicu salah paham.

Dua fokus, satu kebutuhan
Perbandingan kedua program memperlihatkan bahwa pembelajaran public speaking perlu memadukan praktik dan etika. Malinau menonjolkan keberanian, peningkatan kepercayaan diri, serta kecakapan konkret sebagai MC. Malang memberi bobot pada cara memilih kata, membaca audiens, dan menyampaikan pendapat dengan santun. Keduanya tidak bertentangan: latihan teknis membuat seseorang lebih siap tampil, sedangkan etika membantu memastikan pesan disampaikan dengan pertimbangan dan diterima secara layak. Jika pelatihan hanya mengajarkan teknik, peserta bisa fasih tetapi kurang peka terhadap dampak ucapannya. Sebaliknya, kesantunan tanpa latihan bisa membuat gagasan penting tetap sulit disampaikan.
Karena itu, pelatihan public speaking yang paling bermanfaat ialah yang membentuk keberanian sekaligus tanggung jawab. Peserta perlu kesempatan untuk tampil, mengelola acara, dan menyusun pesan, tetapi juga belajar menyesuaikan bahasa dengan audiens serta menjaga adab, termasuk di ruang digital. Program Malinau dan Malang menawarkan penekanan berbeda yang saling melengkapi: satu memperkuat kecakapan praktis, satu lagi mengingatkan bahwa kemampuan berbicara selalu membawa konsekuensi sosial. Kesimpulannya, percaya diri bukan tujuan akhir. Ia baru bernilai ketika dipakai untuk menyampaikan gagasan secara jelas, santun, dan berguna bagi orang lain.






