Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kukar Himpun 80 Gagasan dan Benahi Aturan Inovasi

Kukar Himpun 80 Gagasan dan Benahi Aturan Inovasi
Minat|Solusi Pintar

Dari usulan menuju solusi

Inovasi daerah adalah pembaruan cara kerja, layanan, atau penyelesaian masalah yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan dapat diterapkan dalam pemerintahan. Di Kutai Kartanegara, langkah awalnya kini terlihat dari sekitar 80 usulan yang dihimpun Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) hingga akhir Oktober 2026. Penjaringan ini melibatkan perangkat daerah, kecamatan, pemerintah desa, masyarakat, dan lembaga pendidikan; masa pengumpulan bahkan diperpanjang dua kali agar pengusul dapat menyempurnakan gagasan. Capaian tersebut menjanjikan, tetapi angka saja belum membuktikan bahwa pelayanan akan membaik. Setiap usulan inovasi daerah tetap perlu dinilai dari kebaruan, kelayakan penerapan, dan manfaatnya. BRIDA juga menekankan bahwa inovasi tidak harus berupa teknologi canggih: penyederhanaan prosedur dan perbaikan metode kerja dapat memberi dampak langsung jika menjawab kebutuhan warga.

Kepala BRIDA Kukar Bahari Joko Susilo menyebut sekitar 80 usulan telah masuk dalam proses penjaringan yang berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Ukuran keberhasilan berikutnya bukan banyaknya gagasan yang terkumpul, melainkan berapa yang diuji, diterapkan, dan terbukti memudahkan masyarakat.

Aturan perlu mengiringi gagasan

Pemkab Kukar berencana membenahi regulasi inovasi daerah agar penerapan gagasan di lingkungan pemerintahan memiliki landasan hukum yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini langkah yang tepat: aturan yang terang dapat memberi ruang bagi pegawai untuk mencoba cara baru sekaligus menjaga agar pelaksanaannya tidak menimbulkan persoalan hukum. Namun, pembenahan regulasi sebaiknya tidak berhenti pada penambahan ketentuan. Aturan juga perlu menjelaskan proses pemilihan, uji coba, evaluasi, dan kelanjutan inovasi agar gagasan yang bermanfaat tidak terjebak sebagai dokumen atau kegiatan sesaat. Bupati Aulia Rahman Basri menyampaikan rencana pembenahan tersebut saat membuka Pekan Inovasi dan Kreativitas Kukar 2026 secara virtual dari Bappeda, Selasa, 27 Oktober 2026. Arah kebijakan ini akan berarti jika memberi kepastian bagi pelaksana sekaligus menjaga fokus pada hasil yang dirasakan warga.

Pengembangan inovasi juga diarahkan ke berbagai sektor, dari organisasi perangkat daerah dan satuan pendidikan hingga puskesmas serta unit layanan lain. Potensi manfaatnya konkret: pekerjaan lebih cepat, birokrasi lebih sederhana, dan pelayanan lebih efektif. Karena itu, regulasi harus mendukung penerapan, bukan menambah lapisan prosedur yang justru memperlambat perbaikan.

Pekan Inovasi harus melampaui seremoni

Pekan Inovasi Kukar menjadi ruang untuk mendorong gagasan baru, memberi penghargaan kepada pemenang kegiatan sebelumnya, dan membangun budaya inovasi lintas instansi. Pemkab juga membidik Innovative Government Award (IGA) dari Kementerian Dalam Negeri. Target penghargaan dapat memberi dorongan, tetapi bukan tujuan akhir: nilai sebuah inovasi seharusnya ditentukan oleh kemampuannya menyelesaikan masalah dan mempermudah layanan, bukan oleh posisi dalam kompetisi. Pemerintah daerah sendiri menegaskan bahwa inovasi tidak semestinya berhenti sebagai materi lomba atau pencapaian penghargaan. Dengan demikian, Pekan Inovasi dan Kreativitas Kukar 2026 akan lebih bermakna jika menjadi awal dari tindak lanjut yang terukur, bukan puncak kegiatan tahunan. Penghargaan dan pengakuan nasional akan lebih kuat bila bertumpu pada perubahan yang bisa dirasakan masyarakat.

Jalur pengusulan dari bawah dapat membantu memastikan gagasan berangkat dari kebutuhan warga. Bappeda menjelaskan bahwa usulan pembangunan dihimpun mulai dari desa, dibahas melalui Musrenbang kecamatan, lalu dimasukkan ke SIPD menggunakan akun resmi kepala desa. Mekanisme ini memberi peluang agar prioritas layanan dasar ikut menjadi pertimbangan. Namun, pengumpulan partisipatif perlu disambungkan dengan seleksi inovasi yang terbuka dan pemantauan hasil. Tanpa kaitan itu, banyak usulan berisiko berhenti sebagai daftar, sementara masalah yang mendorongnya tetap ada.

Keberhasilan diukur dari penerapan

Sekitar 80 usulan merupakan bahan awal yang cukup untuk memperluas pilihan solusi, tetapi jumlah itu belum menjadi bukti keberhasilan inovasi daerah Kukar. Pemerintah perlu menilai gagasan secara konsisten, memilih yang paling layak, memastikan kepastian regulasi, lalu memeriksa apakah penerapannya mempercepat pekerjaan atau meningkatkan mutu layanan. Keterlibatan desa dan masyarakat juga penting agar inovasi tidak hanya menjawab kebutuhan internal birokrasi. Jika usulan yang lolos seleksi diterapkan dan manfaatnya dapat ditunjukkan, upaya mengejar IGA akan punya dasar yang lebih kuat. Sebaliknya, jika pengumpulan, pekan inovasi, dan penghargaan berjalan sendiri-sendiri, dorongan perubahan mudah hilang setelah kegiatan berakhir.

Kesimpulannya, Kukar telah menggabungkan penjaringan gagasan, rencana pembenahan aturan, dan ruang promosi melalui Pekan Inovasi. Kini tantangannya adalah menyatukan ketiganya dalam proses yang berujung pada layanan publik yang lebih mudah dan efektif. Penghargaan nasional layak menjadi sasaran, tetapi ukuran paling penting tetap perubahan nyata bagi masyarakat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!