Belajar ibadah melalui pengalaman langsung
Manasik haji anak adalah kegiatan belajar yang mengenalkan tata cara ibadah haji melalui simulasi sederhana, pengalaman langsung, dan pendampingan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini. Pendekatan ini membuat tahapan ibadah lebih mudah dikenali daripada sekadar dijelaskan sebagai konsep. Di Kisaran, Bunda PAUD Kabupaten Asahan secara resmi membuka Peragaan Manasik Haji Cilik tingkat PAUD pada Selasa, 27 Oktober 2026, di Masjid Ahmad Bakrie. Pembukaan diwakili Wakil Ketua Kelompok Kerja Bunda PAUD Asahan, Ny. Lily Evi Zainal Arifin. Nilai utama kegiatan ini bukan menuntut anak menguasai seluruh tata cara, melainkan memberi mereka kesempatan melihat, mengikuti, dan merasakan urutan kegiatan dalam suasana belajar yang menyenangkan. Untuk anak usia dini, pengalaman semacam ini dapat menjadi pintu masuk yang lebih konkret menuju pemahaman ibadah.

Skala kegiatan menunjukkan kebutuhan belajar bersama
Sebanyak 1.243 peserta dari 62 lembaga PAUD di seluruh Kabupaten Asahan mengikuti peragaan ini. Jumlah tersebut memperlihatkan bahwa edukasi haji PAUD dapat menjadi pengalaman bersama yang melibatkan anak, guru, dan pendamping, bukan sekadar kegiatan seremonial. Ketua panitia, Adi Sucipto, menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk pembelajaran bagi anak usia dini untuk mengenal tata cara ibadah haji sejak dini. Agar pelaksanaan berjalan tertata, peserta dibagi ke dalam lima kelompok terbang. Pembagian ini memberi struktur pada kegiatan berskala besar, sementara simulasi menyediakan ruang bagi anak untuk belajar dengan cara yang sesuai usia. Peragaan manasik cilik menjadi lebih bermakna ketika setiap anak tidak hanya hadir, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengikuti rangkaian kegiatan.
Nilai yang melampaui urutan ritual
Dalam sambutan Bunda PAUD Asahan yang dibacakan Lily Evi Zainal Arifin, kegiatan ini disebut bukan sekadar simulasi ibadah, tetapi juga metode untuk menanamkan keimanan, ketakwaan, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap rukun Islam kelima sejak dini. Anak-anak diharapkan mengenal tahapan haji secara sederhana, belajar kebersamaan, serta membangun sikap mandiri dan tertib. Penekanan pada nilai-nilai tersebut patut mendapat perhatian: bagi peserta PAUD, proses mengikuti arahan dan bergerak bersama merupakan bagian penting dari pembelajaran, bukan pelengkap acara. Pengalaman langsung juga memberi guru kesempatan menghubungkan praktik dengan penjelasan sederhana yang dapat dipahami anak. Dengan demikian, manasik tidak perlu diperlakukan sebagai pertunjukan semata, melainkan sebagai kegiatan pendidikan karakter yang berangkat dari pengalaman anak.
Simulasi yang sesuai usia adalah kuncinya
Peragaan di Masjid Ahmad Bakrie mempertemukan pengenalan ibadah dengan praktik yang disesuaikan untuk anak usia dini. Di sinilah kekuatan kegiatan tersebut: anak dapat mengamati dan mencoba tahapan haji dalam lingkungan belajar yang terarah, tanpa dibebani tuntutan seperti orang dewasa. Kehadiran guru pendamping dan mutawif turut menjadi bagian dari pelaksanaan, sementara HIMPAUDI Asahan menyatakan komitmennya mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini melalui kolaborasi dengan pihak terkait. Rangkaian kegiatan dilaporkan berlangsung aman dan lancar. Manasik haji anak akan paling bermanfaat bila pengalaman konkret ini diteruskan dengan percakapan sederhana di kelas atau di rumah, sehingga nilai tertib, mandiri, dan kebersamaan tidak berhenti ketika acara selesai. Pengenalan sejak dini bukan soal mempercepat kemampuan ritual, melainkan menumbuhkan rasa akrab dan hormat terhadap ibadah.






