Kenapa PHBS Anak Usia Dini Harus Dimulai dari Lagu dan Permainan
Edukasi kesehatan PAUD adalah upaya sistematis mengenalkan perilaku hidup bersih dan sehat, mulai dari kebersihan diri, gizi, hingga pencegahan penyakit, kepada anak usia sekitar 3–5 tahun melalui pendekatan bermain, bernyanyi, dan praktik langsung yang sesuai tahap tumbuh kembang mereka sehingga terbentuk kebiasaan sehat sejak awal kehidupan. Program KKN berbagai kampus kini membuktikan satu hal penting: jika kita ingin PHBS anak usia dini bertahan sebagai kebiasaan, kita harus turun ke level dunia mereka—lagu, permainan, dan cerita. Mahasiswa tidak datang membawa ceramah panjang, tetapi program hidup bersih yang dikemas seperti sesi bermain di kelas. Di Pasanggrahan, mahasiswa Untirta mengajarkan “Kesehatan dan Kebersihan Tubuhku” dengan bahasa sederhana dan praktik mandi, mencuci tangan, menggosok gigi, serta menjaga kebersihan kuku agar mudah diterapkan di rumah maupun sekolah. Pendekatan ini bukan aksesori, tetapi inti dari pembelajaran melalui bermain yang relevan dengan keseharian anak.
Bakong dan Kapongan: Ketika Bernyanyi dan Games Menjadi Metode Serius
Di PAUD SPS Palia Bakong, mahasiswa KKN STAIN SAR Kepri menjadikan tema PHBS sebagai sesi bermain dan bernyanyi bersama, bukan materi yang memaksa anak duduk diam. Tata cara mencuci tangan yang benar diajarkan lewat lagu dan gerakan, sehingga PHBS anak usia dini melekat sebagai aktivitas menyenangkan, bukan kewajiban abstrak. Di Kapongan, kolaborasi UNEJ–UDS membawa konsep pembelajaran melalui bermain ke level lebih terstruktur melalui program GEMARI di PAUD KB 01 Kapongan. Games stiker tentang makanan baik dan buruk bagi kesehatan gigi membuat anak prasekolah mengenali risiko makanan manis dan lengket tanpa merasa dihakimi. Praktik menyikat gigi bersama dengan sikat dan pasta yang dibagikan pada setiap anak menjembatani teori dan tindakan sehari-hari. Model ini mengirim pesan tegas: kesehatan anak prasekolah tidak akan berubah jika edukasi masih berwujud hafalan; ia butuh pengalaman konkret, berulang, dan menyenangkan.
Posyandu dan PAUD: Ruang Kecil, Dampak Besar untuk Program Hidup Bersih
Satu kesalahan umum kebijakan kesehatan adalah terlalu fokus pada fasilitas besar, padahal posyandu dan PAUD adalah pintu emas untuk menyentuh balita dan anak prasekolah di komunitas yang kurang terlayani. Program PELITA dari mahasiswa KKN Universitas Esa Unggul menunjukkan betapa strategisnya Posyandu Anggrek 13 sebagai ruang edukasi keluarga tentang kesehatan, kebersihan, dan gizi balita. Di sana, materi “Isi Piringku”, demonstrasi cuci tangan, ajakan aktivitas fisik, dan minum air putih menjadikan program hidup bersih menyatu dengan rutinitas penimbangan dan konsultasi balita. Sementara itu, GEMARI di lingkungan balai desa Kapongan menggabungkan anak PAUD dan ibu wali murid dalam satu sesi, sehingga kebiasaan baru tidak berhenti di sekolah, tetapi diperkuat di rumah melalui pendampingan orang tua. Titik-titik kecil ini—PAUD desa, posyandu RT—adalah infrastruktur sosial yang selama ini diremehkan, padahal menjadi tulang punggung kesehatan anak prasekolah.
Mahasiswa KKN: Bukan Sekadar Pengabdi, tapi Penggerak Kebiasaan Sehat
Kekuatan utama semua contoh ini bukan pada modul, melainkan pada posisi mahasiswa sebagai jembatan pengetahuan dan budaya lokal. Di Desa Bakong, Julia Nofita Sari menegaskan bahwa bermain dan bernyanyi adalah langkah sederhana menanamkan kesadaran PHBS sejak dini, bukan hiburan tambahan. Di Pasanggrahan, kegiatan Untirta menjadi bagian program edukasi berkelanjutan agar anak terbiasa merawat diri secara mandiri di sekolah dan rumah. Di Kapongan, kolaborasi mahasiswa dengan sekolah dan orang tua diharapkan menjadi fondasi kebiasaan menjaga kesehatan gigi yang terus berlanjut. Di Rajeg, PELITA memperkuat pemahaman keluarga tentang kesehatan dan tumbuh kembang balita melalui kerja bersama kader PKK dan bidan desa. Jika konsisten, inisiatif mahasiswa KKN ini bukan sekadar proyek satu kali, melainkan proses membangun budaya komunitas yang menganggap PHBS anak usia dini sebagai norma, bukan program sesaat.
Kesimpulan: Saatnya Mengakui Bermain sebagai Strategi Kesehatan Publik
Pengalaman dari Untirta, STAIN SAR Kepri, UNEJ–UDS, dan Esa Unggul menunjukkan satu arah yang seharusnya diikuti banyak pihak: edukasi kesehatan PAUD tidak boleh lagi dipisahkan dari pembelajaran melalui bermain. Lagu cuci tangan, games stiker gigi, cerita tentang “Isi Piringku”, dan praktik langsung di PAUD maupun posyandu terbukti menciptakan kebiasaan positif yang bisa dibawa pulang anak ke rumah. Jika dinas pendidikan, puskesmas, dan kampus berani mengakui permainan dan musik sebagai bagian strategi kesehatan publik, maka PHBS anak usia dini punya peluang menjadi budaya, bukan slogan. Kesimpulannya jelas: ingin kesehatan anak prasekolah membaik? Turunlah ke lantai bermain mereka, bukan hanya ke podium sosialisasi orang dewasa.






