Dari teori menuju material geologi
Eksplorasi mineral adalah proses menyelidiki petunjuk geologi untuk memahami keberadaan dan karakter suatu deposit, dengan menggabungkan pengamatan batuan, data, serta penilaian lintas disiplin. Karena itu, pembelajaran geologi akan lebih utuh ketika mahasiswa dapat menguji konsep kelas pada material nyata. Melalui STM Goes to Campus, PT Sumbawa Timur Mining (STM), pengelola Proyek Hu’u, berbagi pengetahuan eksplorasi mineral dengan mahasiswa Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Sekitar 70 mahasiswa angkatan 2022 hingga 2026 mengikuti kegiatan di Gedung Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM. Bagian paling bernilai bukan sekadar tambahan kuliah, melainkan kesempatan menghubungkan istilah dalam buku dengan ciri yang dapat diamati pada sampel inti batuan. Edukasi geologi seperti ini memberi mahasiswa pijakan lebih konkret untuk memahami bagaimana bukti lapangan dibaca sebelum kesimpulan tentang suatu deposit dibuat.
Sampel inti mengubah cara membaca deposit
STM memberikan hibah sampel inti batuan dari Deposit Onto untuk mendukung pembelajaran mahasiswa. Sampel tersebut menjadi bahan diskusi dan praktik identifikasi batuan alterasi serta mineralisasi, sehingga mahasiswa dapat mengamati langsung material geologi yang biasanya hanya mereka temui melalui gambar atau uraian teori. Deposit Onto adalah deposit tembaga-emas yang ditemukan pada 2013 di wilayah kerja STM dalam Proyek Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Nilai pembelajarannya terletak pada proses mengamati dan menafsirkan, bukan pada anggapan bahwa satu sampel sudah menjelaskan keseluruhan deposit. Mahasiswa berlatih mengenali karakter batuan dan mempertimbangkan maknanya sebagai petunjuk eksplorasi. Pendekatan berbasis sampel ini membuat konsep alterasi dan mineralisasi lebih mudah dikaitkan dengan bukti fisik, sekaligus menunjukkan bahwa interpretasi geologi membutuhkan konteks, data, dan kehati-hatian.
Pengalaman praktisi memperluas pelajaran
Sampel batuan memberi bukti yang dapat diamati, sementara pengalaman praktisi menjelaskan bagaimana bukti itu digunakan dalam pekerjaan. Enam praktisi STM membahas berbagai sisi pengembangan Proyek Hu’u, mulai dari pengenalan proyek oleh Principal Geologist Paulo Renata hingga perencanaan biaya dan jadwal yang dipaparkan Senior Business Analyst Desi Lusianingtyas. Principal Geologist Nurhadi Wibowo menjelaskan cara membaca petunjuk geologi; Geotechnical Engineer Mulia Fatwa dan Principal Hydrogeologist Wawan Darmawan menguraikan aspek geoteknik serta hidrogeologi. Experienced Acquire Analyst Andi Suaib menyoroti pengelolaan data eksplorasi untuk menjaga kualitas, konsistensi, dan keandalan informasi. Rentang materi ini menunjukkan bahwa eksplorasi mineral bukan pekerjaan geolog semata. Perencanaan, kondisi bawah permukaan, dan mutu data ikut membentuk dasar penilaian proyek. Cerita praktisi melengkapi buku dengan gambaran keputusan dan tantangan yang muncul di lapangan.
Kolaborasi yang layak diteruskan
Kolaborasi kampus dan industri penting karena mahasiswa perlu memahami bukan hanya cara mengenali batuan, tetapi juga batasan dan tantangan penerapan ilmunya. Ketua Departemen Teknik Geologi UGM, Prof. Wahyu Wilopo, menilai interaksi dengan praktisi membantu mahasiswa memperoleh gambaran lebih luas tentang persoalan yang mungkin dijumpai di lapangan. Pandangan itu tepat: praktik eksplorasi menuntut mahasiswa menghubungkan pengamatan geologi dengan geoteknik, hidrogeologi, pengelolaan data, serta pertimbangan proyek. STM Goes to Campus memberi ruang untuk latihan berpikir lintas bidang melalui diskusi dan sampel Deposit Onto, bukan hanya paparan satu arah. Namun, manfaat terbesarnya tetap bergantung pada kemampuan mahasiswa menilai bukti secara kritis dan mengajukan pertanyaan. Sebagai bentuk edukasi geologi, kegiatan ini memperlihatkan model belajar yang lebih dekat dengan kenyataan kerja: teori tetap penting, tetapi pemahaman menjadi lebih tajam saat diuji pada sampel dan pengalaman praktisi.






