Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

13 Dapur Gizi Terancam Ditutup: Alarm Keras untuk Higiene Sanitasi

13 Dapur Gizi Terancam Ditutup: Alarm Keras untuk Higiene Sanitasi
Minat|Memasak

SPPG, Sertifikat Higiene, dan Kenapa 13 Dapur Kini Disorot

Satuan Pelayanan Penyelenggaraan Gizi (SPPG) adalah dapur penyedia makanan massal yang diatur dengan standar operasional gizi ketat untuk menjamin keamanan pangan layanan makan, termasuk kewajiban memiliki sertifikat laik higiene sanitasi melalui inspeksi kesehatan dapur yang menyeluruh dan berkala. Di Depok, persoalan ini mendadak menjadi sorotan ketika Dinas Kesehatan membeberkan pelanggaran di 13 SPPG atau dapur MBG yang tidak memenuhi standar prasyarat minimal kelayakan dan kini terancam rekomendasi penghentian sementara operasi (suspend). Kepala dinas menegaskan fasilitas di dapur-dapur tersebut belum sesuai regulasi teknis yang diwajibkan. Ini bukan sekadar soal kelalaian administratif; ini sinyal bahwa sebagian operator masih memandang higiene sanitasi sebagai formalitas, bukan fondasi. Padahal, ketika dapur gagal menjaga higiene, yang dipertaruhkan adalah kesehatan ribuan penerima layanan makan setiap hari.

168 Lolos, 13 Tertinggal: Standar Itu Nyata, Bukan Sekadar Kertas

Data inspeksi kesehatan lingkungan menunjukkan 199 SPPG sudah diperiksa, dan 168 di antaranya atau 84,40 persen dinyatakan memenuhi syarat inspeksi kesehatan lingkungan. Ketua Satgas Percepatan MBG Terpadu menjelaskan bahwa 168 SPPG ini telah mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS). Sebanyak 196 SPPG atau 98,49 persen juga telah mengikuti pelatihan melalui LMS dan in-house training, sementara 163 SPPG sudah melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap. "Dari 199 SPPG yang diinspeksi, 168 atau 84,40 persen memenuhi syarat Inspeksi Kesehatan Lingkungan," ujar Chandra Rahmansyah. Angka-angka ini membantah alasan bahwa aturan terlalu berat atau tidak realistis; mayoritas dapur bisa patuh dan bersertifikat higiene. Maka ketika 31 SPPG masih tidak memenuhi syarat, dan 13 di antaranya memerlukan pengawasan khusus serta terancam suspend, persoalannya lebih pada komitmen manajemen daripada kesulitan teknis.

Dosa Operasional: Dari Wastafel Hilang hingga Alur Dapur yang Kacau

Pelanggaran yang ditemukan bukan hal sepele seperti cat dinding mengelupas; banyak yang menyentuh inti keamanan pangan layanan makan. Salah satu temuan paling fatal adalah tidak adanya wastafel di area dalam dapur untuk cuci tangan pekerja. Ini pelanggaran mendasar yang langsung merusak prinsip higiene. Manajemen tata ruang juga kacau: alur pengolahan makanan tidak linier, sehingga tim persiapan bahan harus melewati area pemorsian, padahal standar operasional mewajibkan pemisahan tegas area kotor dan bersih. Area pencucian peralatan dibiarkan terbuka, membuka akses bagi tikus dan vektor penyakit lain. Dari sisi konstruksi, ada fasilitas tanpa plafon pelindung, sementara gudang bahan kering dan basah serta ruang pemorsian diwajibkan memakai AC dan dilarang menggunakan kipas angin, tetapi masih banyak yang belum patuh. Ini menunjukkan sebagian operator tidak menginternalisasi bahwa desain dapur adalah bagian dari standar operasional gizi, bukan urusan dekor.

Cooling Room, IPAL, dan Detail Teknis yang Sering Dianggap Remeh

Petunjuk teknis terbaru BGN mengharuskan adanya cooling room atau ruang pendingin untuk menyimpan makanan yang sudah jadi sebelum diporsi, agar makanan didinginkan dulu dan aman sampai distribusi. Nyatanya, masih ada SPPG yang tidak memiliki fasilitas ini. Dalam konteks dapur penyedia makanan massal, ketiadaan cooling room berarti membuka celah risiko kontaminasi selama fase paling krusial: setelah masak dan sebelum penyajian. Di sisi lain, sistem pengelolaan limbah juga lemah; banyak SPPG kedapatan tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Dalam daftar 31 SPPG yang tidak memenuhi syarat, masalahnya beragam mulai dari alur penerimaan bahan mentah, dapur, IPAL, tempat pengelolaan sampah, hingga tempat pencucian ompreng. Ketika detail teknis seperti ini diabaikan, sertifikat laik higiene sanitasi kehilangan makna. Sertifikasi bukan sekadar lencana; ia adalah konsekuensi dari infrastruktur yang dirancang dengan kesadaran risiko.

Jalan ke Depan: Evaluasi Ketat atau Suspend sebagai Jalan Terakhir

Terhadap 31 SPPG yang belum memenuhi syarat, pemerintah kota menyatakan akan melakukan evaluasi berlapis. Devi Maryori menjelaskan, temuan akan dipilah menjadi mayor dan minor; untuk temuan mayor, evaluasi ulang dilakukan secepat mungkin dalam waktu satu bulan. Jika peringatan satu dan dua kali diabaikan, laporan akan disampaikan ke Satgas untuk diteruskan ke Badan Gizi Nasional (BGN). Di sisi lain, Satgas menyatakan siap merekomendasikan suspend terhadap 13 SPPG yang memerlukan perhatian khusus, sesuai perintah rapat bersama Kemendagri dan Kepala BGN. Evaluasi lapangan berkelanjutan—termasuk inspeksi kesehatan lingkungan, pemeriksaan laboratorium, dan pelatihan operator—sebenarnya memberi ruang perbaikan sebelum pintu ditutup. Pesannya jelas: operator yang serius akan memanfaatkan jeda evaluasi ini untuk membenahi dapur hingga laik, sementara yang abai harus siap menerima konsekuensi penutupan demi melindungi keselamatan penerima layanan makan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!