Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Saat Anak Bercerita tentang Kekerasan, Jadilah Tempat Aman

Saat Anak Bercerita tentang Kekerasan, Jadilah Tempat Aman
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Dengarkan sebelum bertanya

Perlindungan anak dari kekerasan adalah upaya menjaga keselamatan dan kesejahteraan anak melalui hubungan yang aman, kesediaan mendengarkan, serta tindakan yang tepat saat muncul dugaan kekerasan. Ketika anak mulai bercerita, respons pertama orang tua dapat menentukan apakah ia merasa aman untuk melanjutkan. Hadir dengan tenang, beri waktu, dan dengarkan cerita anak tanpa memotong, menyalahkan, atau menuntut urutan kejadian yang sempurna. Anak mungkin belum punya kata-kata untuk menjelaskan apa yang dialaminya; kebingungan atau jeda bukan alasan untuk meragukan ceritanya. Ucapkan, “Terima kasih sudah bercerita,” atau, “Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.” Jangan mengubah percakapan menjadi interogasi atau memaksa anak menjawab pertanyaan yang belum siap ia jawab. Mendengarkan bukan berarti menetapkan kesimpulan tentang kejadian. Artinya, memberi ruang dan menunjukkan bahwa perasaannya penting.

Kesediaan orang dewasa menerima cerita tanpa menghakimi sama pentingnya dengan keberanian anak untuk berbicara.

Saat Anak Bercerita tentang Kekerasan, Jadilah Tempat Aman

Percayai pengungkapan, lalu utamakan keselamatan

Anak yang menceritakan kekerasan perlu ditanggapi dengan serius, bukan diuji atau diminta membuktikan pengalamannya. Kepercayaan bukan berarti orang tua harus menyimpulkan sendiri seluruh fakta; itu berarti tidak menepis cerita dan segera mencari bantuan yang sesuai. Sampaikan bahwa kekerasan bukan kesalahan anak dan ia tidak akan dimarahi karena bercerita. Jika ada dugaan kekerasan seksual, tindak lanjuti melalui tenaga profesional dan mekanisme perlindungan yang tepat. Hindari meminta anak mengulang cerita berkali-kali tanpa kebutuhan jelas, sebab pengulangan dapat menambah tekanan dan mengganggu kondisi psikologisnya. Bila anak menghadapi ancaman langsung, prioritaskan keselamatannya dan libatkan pihak berwenang. Jangan biarkan rasa malu atau keinginan menjaga nama baik keluarga menghambat pertolongan. Orang tua perlu menjadi pendamping yang melindungi, bukan penyidik yang menekan anak.

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melalui Simfoni PPA mencatat 21.352 kasus kekerasan terhadap anak dengan 23.043 korban sepanjang 2025; angka tercatat ini belum tentu mencakup semua kejadian karena tidak semua korban mampu atau berani melapor.

Lindungi anak di rumah dan ruang digital

Kekerasan dapat terjadi di lingkungan yang dikenal anak maupun melalui ruang digital. Karena itu, komunikasi terbuka dan pengawasan gadget anak perlu berjalan beriringan. Orang tua sebaiknya mengenal aplikasi dan permainan yang digunakan anak, membahas privasi serta batasan yang sehat, dan mengingatkan bahwa anak boleh meminta bantuan jika ada orang yang meminta foto pribadi, mengancam, atau menyuruh merahasiakan komunikasi. Pendampingan bukan sekadar melarang gawai; bantu anak memahami risiko tanpa membuatnya takut mengaku bila terjadi sesuatu. Bangun kebiasaan berbicara tentang hal yang membuatnya nyaman atau tidak nyaman, serta kenalkan orang dewasa tepercaya yang bisa ia hubungi. Tanggung jawab perlindungan tidak berhenti pada keluarga: sekolah, komunitas, organisasi masyarakat, dan pemerintah juga memiliki peran yang saling melengkapi.

Dalam seminar parenting di Bontang pada Jumat, 30 Oktober 2026, Wali Kota Neni Moerniaeni menegaskan bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama, terutama keluarga; kegiatan di SD Negeri 001 Bontang Selatan itu melibatkan perwakilan dari 60 sekolah, orang tua murid, dan pemangku kepentingan.

Jadikan kepercayaan sebagai kebiasaan

Anak lebih mungkin mencari pertolongan ketika ia tahu ceritanya akan diterima dengan tenang. Karena itu, jangan menunggu sampai ada pengungkapan kekerasan untuk membuka komunikasi: tanyakan kesehariannya, hormati batas tubuhnya, dan tunjukkan bahwa ia boleh menolak sentuhan yang membuatnya tidak nyaman. Jika suatu saat ia bercerita, dengarkan, percayai bahwa ia membutuhkan dukungan, lalu ambil langkah perlindungan yang sesuai. Kerja sama dengan tenaga profesional, sekolah, dan pihak berwenang dapat membantu memastikan tindak lanjut tidak bertumpu pada anak seorang diri. Kesimpulannya, perlindungan bukan janji bahwa semua risiko bisa dihapus, melainkan komitmen orang dewasa untuk hadir, menanggapi dengan serius, dan bertindak. Respons aman hari ini dapat menjadi alasan anak berani meminta bantuan esok hari.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!