Deklarasi besar harus menjadi kebiasaan sehari-hari
Gerakan Perisai Anak adalah kampanye edukasi dan komitmen bersama untuk membantu anak mengenali risiko internet serta membangun lingkungan digital yang aman dengan melibatkan pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pada 23 Oktober 2026, sebanyak 34 ribu peserta di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur mengikuti deklarasi dan edukasi publik bertema “Tumbuh Aman di Ruang Digital”. Skala ini memberi pesan penting: perlindungan anak digital tidak bisa diserahkan kepada orang tua saja. Pelajar, organisasi masyarakat, akademisi, tokoh agama, dan unsur profesi juga diajak mengambil peran. Namun, jumlah peserta bukan ukuran keberhasilan akhir. Deklarasi hanya berarti jika orang dewasa tahu cara menanggapi laporan anak, sekolah memiliki jalur aduan yang aman, dan anak mampu mengenali ancaman tanpa merasa disalahkan. Kampanye kesadaran online anak perlu diteruskan dalam tindakan yang terlihat di rumah dan ruang kelas.
Ruang bermain baru, dengan risiko yang nyata
Pemerintah daerah tepat melihat dunia digital sebagai ruang bermain baru: anak menggunakannya untuk belajar, berkreasi, dan bersosialisasi, tetapi juga dapat menghadapi hoaks, perundungan siber, penipuan, serta ancaman terhadap data pribadi. Karena itu, keamanan ruang digital anak tidak seharusnya dimaknai sebagai larangan memakai gawai. Kepala Diskominfo Kota Kediri, Sugeng Wahyu Purbakelana, menekankan bahwa anak perlu dibekali kecakapan digital dan perlindungan yang memadai, bukan dijauhkan begitu saja dari teknologi. Di Kediri, deklarasi dan edukasi publik pada 23 Oktober diikuti 500 peserta dari kalangan siswa, guru, orang tua, Forum Anak, organisasi masyarakat, kepolisian, Kementerian Agama, dan perangkat daerah. Keragaman peserta ini merupakan modal, tetapi harus disertai peran yang jelas. Edukasi digital anak perlu mengajarkan cara menjaga data pribadi, berpikir sebelum mengunggah, menyaring informasi, dan berani melapor saat menemui hal mencurigakan.
Data memperkuat alasan untuk bertindak
Dorongan untuk memperluas edukasi bukan kekhawatiran abstrak. Dalam kegiatan di Sumenep pada 22 Oktober 2026, Sekretaris Diskominfo setempat, Hery Kushendarawan, menyebut penetrasi internet di Jawa Timur mencapai 83,41 persen, dibandingkan rata-rata nasional 81,72 persen berdasarkan survei APJII 2026. Ia juga menyampaikan bahwa 48 persen anak pernah mengalami perundungan siber dan 80 ribu anak usia 8–10 tahun terindikasi judi daring. Angka-angka itu disampaikan dalam pemaparan kegiatan dan menunjukkan perlunya pengawasan serta edukasi yang lebih dekat dengan kehidupan anak. Di Sumenep, pemerintah mendorong literasi digital hingga tingkat desa, penyebaran informasi, pelaporan konten bermasalah kepada Kementerian Komunikasi dan Digital, serta kerja sama lintas pihak. Langkah tersebut lebih berguna daripada kampanye sesaat jika disertai dukungan yang membuat anak nyaman bercerita. Orang tua dan guru perlu mendengar tanpa menghakimi, mendampingi penggunaan gawai, menyepakati waktu layar, dan menyediakan jalur pelaporan yang aman.
Ukur keberhasilan dari perlindungan yang terasa
Deklarasi serentak memberi titik awal untuk koordinasi, bukan garis akhir. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu mengubah komitmen menjadi edukasi berulang yang mudah dijangkau keluarga dan sekolah, termasuk di desa. Di Kediri, materi kegiatan mencakup cara menjaga ruang digital ramah anak serta pendampingan yang memperhatikan kesehatan mental dan pendekatan emosional. Pemerintah juga merujuk PP Nomor 17 Tahun 2025 atau PP TUNAS dan menyiapkan dukungan seperti penyaringan konten negatif, Informasi Layak Anak, serta Pusat Informasi Sahabat Anak. Di tingkat keluarga, fitur kontrol orang tua dapat membantu, tetapi tidak menggantikan komunikasi terbuka. Anak perlu dibiasakan menjaga privasi, menggunakan teknologi dengan bijak, dan melapor kepada orang tua atau guru ketika menghadapi ancaman. Pemerintah daerah pun harus memastikan aduan ditindaklanjuti dan pengetahuan menjangkau warga, bukan berhenti pada peserta acara. Ukuran keberhasilan sesungguhnya ialah anak yang lebih aman dan lebih berani meminta bantuan.






