Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Literasi Keuangan Masuk Sekolah Menengah: Benteng Pelajar dan Guru dari Jerat Pinjol

Literasi Keuangan Masuk Sekolah Menengah: Benteng Pelajar dan Guru dari Jerat Pinjol
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Literasi keuangan pelajar: dari teori kelas ke tameng anti pinjol

Literasi keuangan pelajar adalah serangkaian pengetahuan dan keterampilan mengelola uang, bertransaksi aman, dan memahami risiko produk keuangan yang diajarkan secara sistematis di sekolah agar siswa mampu mengambil keputusan finansial yang bijak, terhindar dari pinjol ilegal, dan siap menghadapi dunia ekonomi digital dalam kehidupan sehari-hari maupun masa depan mereka. Di tengah penetrasi teknologi finansial, memasukkan program edukasi finansial sekolah bukan lagi pelengkap, tetapi kebutuhan mendesak. Tanpa kemampuan manajemen uang siswa yang memadai, generasi muda dan guru menjadi sasaran empuk pinjaman online agresif. Data OJK yang menunjukkan sekitar 47 persen korban pinjaman online adalah guru menjadi alarm keras bahwa literasi finansial tidak cukup berbentuk seminar sesaat; ia harus melekat ke kurikulum dan budaya sekolah.

Guru di garda depan: ketika korban pinjol hampir separuhnya tenaga pendidik

Ironis namun nyata: hampir separuh korban pinjol di satu wilayah adalah guru, dengan angka sekitar 47 persen menurut data OJK yang dikutip Dispendik Gresik. Tenaga pendidik yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan malah terjebak dalam lingkaran utang digital, sering kali karena kurangnya pemahaman tentang bunga, denda, serta legalitas aplikasi. Di sini, program Guru Permata Finansial menjadi langkah korektif yang patut diapresiasi sekaligus dikritisi bila hanya berhenti di pelatihan jangka pendek. Program ini membekali guru dengan perencanaan keuangan pribadi, penyusunan anggaran, antisipasi penipuan daring, dan pengenalan prinsip investasi. Lebih penting lagi, guru diajarkan cara meneruskan literasi itu kepada siswa dengan pendekatan mindful, meaningful, dan joyful agar tidak sekadar hafalan, tetapi mengubah kebiasaan finansial di rumah dan sekolah.

Program Jam Sosial Mengajar: manajemen uang siswa sejak SMK

Di tingkat menengah, FIFGROUP AMITRA mengisi celah besar lewat program Jam Sosial Mengajar untuk pelajar SMKN 2 Bener Meriah. Sebanyak 85 siswa mengikuti edukasi literasi keuangan yang menjabarkan pentingnya mengatur pemasukan dan pengeluaran serta membangun kebiasaan menggunakan uang dengan bijak. Inilah inti manajemen uang siswa: belajar membuat pilihan antara kebutuhan dan keinginan, memahami konsekuensi hutang, dan waspada terhadap tawaran kredit konsumtif. Materi disampaikan interaktif, disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa, bukan ceramah satu arah yang mudah dilupakan. Program ini sejalan dengan regulasi OJK yang mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan lewat sinergi pelaku jasa keuangan dan lembaga pendidikan. Sepanjang tahun, Jam Sosial Mengajar direncanakan berjalan di 262 cabang di berbagai daerah, memperluas akses literasi keuangan pelajar dari kota hingga pinggiran.

Literasi Keuangan Masuk Sekolah Menengah: Benteng Pelajar dan Guru dari Jerat Pinjol

Dari SD hingga SMA: integrasi kurikulum dan ekstrakurikuler finansial

Kekuatan sesungguhnya dari gelombang literasi keuangan terbaru adalah integrasinya ke dalam ekosistem sekolah, bukan sekadar kunjungan CSR. Program Guru Permata Finansial menargetkan 40 guru dan 800 siswa kelas 3–4 SD dari 20 sekolah di Sukabumi, Serang, dan Gresik. Sosialisasi melibatkan kepala sekolah, wakil, dan guru, dan diikuti akses gratis ke lebih dari 1.200 buku serta media pembelajaran digital interaktif selama tiga bulan. Di jenjang menengah, pelajar dikenalkan pada pengelolaan uang, transaksi aman, dan prinsip investasi yang relevan dengan usia mereka. Jika pola ini diteruskan ke SMA dan SMK lewat integrasi ke mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler, sekolah dapat menjadi benteng sistematis untuk cegah pinjol ilegal: siswa dilatih membaca syarat layanan, memeriksa legalitas platform, dan menolak tekanan sosial untuk berutang demi gaya hidup.

Kesimpulan: literasi finansial wajib, bukan bonus

Kolaborasi antara lembaga jasa keuangan dan sekolah yang kini menguat menunjukkan satu hal: literasi keuangan pelajar harus diperlakukan sebagai kompetensi dasar, setara membaca dan berhitung. Selama guru masih menjadi korban utama pinjol dan siswa tumbuh di ekosistem digital yang mendorong konsumsi instan, program edukasi finansial sekolah tidak boleh berhenti di agenda seremonial. Ia perlu dijadikan komponen kurikulum, dinilai, dan dipraktikkan lewat proyek nyata seperti simulasi anggaran, analisis iklan pinjol, hingga diskusi prinsip investasi yang sesuai nilai moral dan, bila relevan, prinsip syariah. Pengetahuan yang ditanam sejak SD dan diperkuat di SMA serta SMK memberi tameng konkret: guru lebih kritis terhadap penawaran utang mudah, siswa lebih berhati-hati sebelum mengklik “setuju”. Jika sekolah mengambil sikap tegas, jerat pinjol ilegal kehilangan salah satu target paling empuknya: komunitas pendidikan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!