Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

UMKM Halal: Kunci Menembus Pasar Global

UMKM Halal: Kunci Menembus Pasar Global
Minat|Perawatan Rambut

Sertifikat halal bukan garis akhir

UMKM halal ekspor adalah usaha kecil dan menengah yang memproduksi barang sesuai ketentuan halal sekaligus memenuhi standar mutu, keamanan, dan persyaratan pasar negara tujuan. Sertifikat halal membuka peluang, tetapi tidak dengan sendirinya menjadikan produk siap bersaing secara internasional. Potensi pasarnya besar: konsumen global kini mengaitkan halal dengan keamanan, kebersihan, transparansi, dan kualitas produk, bukan hanya kepatuhan agama. Namun, peluang itu belum otomatis menjadi pesanan ekspor. Pelaku usaha masih perlu menjaga konsistensi produk, membangun merek, dan menguasai jalur distribusi. Karena itu, strategi yang berhenti pada penerbitan sertifikat terlalu sempit. Sertifikasi perlu menjadi awal pembenahan usaha, disertai standar keamanan pangan, sistem manajemen mutu, dan pendampingan ekspor. Tanpa langkah lanjutan tersebut, label halal berisiko hanya menjadi dokumen yang tidak mengubah daya saing.

Tenggat kewajiban sertifikasi halal bagi produk makanan, minuman, hasil sembelihan, dan jasa penyembelihan dari usaha mikro dan kecil mulai berlaku pada 17 Oktober 2026. Pemerintah juga menyiapkan 1,35 juta sertifikat halal gratis bagi pelaku usaha mikro dan kecil sepanjang 2026. Capaian dan dukungan ini penting, tetapi kebijakan berikutnya harus memastikan usaha mampu memenuhi tuntutan pasar setelah sertifikat diperoleh.

UMKM Halal: Kunci Menembus Pasar Global

Mutu dan kapasitas menjadi ujian nyata

Hambatan utama pasar global UMKM bukan ketiadaan peluang, melainkan kesenjangan antara potensi produksi dan kemampuan memenuhi permintaan internasional. Kapasitas produksi UMKM yang terbatas bisa menyulitkan mereka menjaga volume pasokan, sementara kualitas yang berubah-ubah mengurangi kepercayaan pembeli. Banyak usaha masih mengandalkan teknologi sederhana dan pengelolaan produksi yang belum terstandardisasi. Akibatnya, pesanan besar berisiko tidak terpenuhi secara konsisten. Akses pasar juga tidak cukup dibuka dengan mengenalkan produk kepada calon pembeli; pelaku usaha harus memahami aturan teknis, ketertelusuran bahan baku, standar karantina, dan persyaratan di setiap negara tujuan. Perbedaan pengakuan sertifikasi halal antarnegara menambah pekerjaan. Jadi, pembinaan yang efektif perlu menyentuh proses produksi dan kesiapan dagang sekaligus, bukan hanya promosi atau pengurusan dokumen.

Peluangnya tetap layak dikejar. Produk halal Indonesia dapat tumbuh di berbagai bidang, tetapi UMKM hanya akan mendapat manfaat jika mampu menghasilkan barang yang konsisten, memenuhi standar pembeli, dan memiliki akses ke jaringan distribusi. Target ekspor tanpa peningkatan mutu serta kemampuan memasok secara teratur berisiko menjadi slogan, bukan strategi.

Perusahaan besar bisa menjadi sekolah ekspor

Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendorong perusahaan besar, termasuk di sektor sarang burung walet dan perikanan, untuk membina UMKM agar lebih siap memasuki pasar ekspor. Kepala Barantin Abdul Kadir Karding menyampaikan dorongan itu di Jakarta pada Selasa, dengan harapan pendampingan perusahaan melengkapi layanan Klinik Ekspor Karantina. Ini langkah yang tepat: perusahaan berpengalaman dapat membantu UMKM memahami spesifikasi pembeli, menjaga standar, menata proses produksi, dan mengenali jalur perdagangan. Pembinaan UMKM ekspor juga dapat mencakup pengalaman kerja atau magang bagi lulusan perguruan tinggi sebelum mereka membangun usaha sendiri. Namun, program ini harus menjadi kemitraan yang nyata, bukan sekadar ajakan. Perlu ada target pembelajaran, pendampingan berkelanjutan, dan jalur yang jelas agar UMKM memperoleh manfaat serta peluang menjadi pemasok.

Klinik Ekspor Karantina menyediakan konsultasi tentang standar karantina, mutu produk, ketertelusuran, serta persyaratan teknis negara tujuan. Pada 23 Oktober 2026, layanan tersebut telah tersedia di seluruh provinsi untuk membantu pelaku usaha memahami ketentuan sebelum mengirim produk ke luar negeri. Barantin juga mendorong jajarannya mendatangi UMKM dan calon wirausaha secara aktif, agar informasi tidak hanya menunggu pelaku usaha datang meminta bantuan.

Dari pendampingan menuju kesiapan pasar

Dorongan pembinaan ini sejalan dengan Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor dan Pengusaha UMKM Menuju Pasar Global, yang dideklarasikan Barantin bersama Kementerian UMKM dan pemerintah daerah di Sulawesi Tengah pada 28 September 2026. Gerakan tersebut menargetkan kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi standar kesehatan, keamanan, mutu, dan ketertelusuran produk. Agar tujuan itu terasa bagi UMKM, pembinaan mesti diterjemahkan menjadi perbaikan yang dapat diukur: produk makin konsisten, pasokan lebih terencana, dokumen ekspor dipahami, dan standar negara tujuan dipenuhi.

Perusahaan besar punya pengalaman dan akses yang sulit dibangun UMKM sendirian; Barantin dapat membantu menjelaskan persyaratan resmi. Namun, keberhasilan tidak boleh dihitung hanya dari jumlah peserta pendampingan atau sertifikat yang terbit. Ukurannya adalah apakah UMKM mampu menjaga mutu, memenuhi pesanan, dan mengakses pembeli tanpa bergantung selamanya pada bantuan.

UMKM halal berpeluang menjadi bagian dari perdagangan global, tetapi sertifikat saja tidak cukup. Mutu yang konsisten, kapasitas produksi yang berkembang, akses pasar, dan pembinaan dari perusahaan berpengalaman harus berjalan bersama. Jika kolaborasi itu menghasilkan kemampuan yang bertahan setelah pendampingan selesai, ekspor akan menjadi peluang usaha yang nyata—bukan sekadar ambisi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!