Potensi lokal perlu menghasilkan nilai tambah
UMKM desa adalah usaha berskala mikro, kecil, dan menengah yang tumbuh dari keterampilan serta sumber daya setempat untuk menciptakan penghasilan dan memperkuat kemandirian masyarakat. Di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, ekonomi lokal bertumpu pada garam dan pertanian; kedua sektor itu mengikuti pergantian musim, bukan jadwal produksi yang selalu stabil. Kepala Desa Ahmad Mulyadi mengatakan sebagian besar warga bekerja sebagai petani: saat kemarau mereka menggarap tambak garam, sedangkan ketika hujan tiba mereka beralih ke tanaman pangan, termasuk padi. Pola ini menunjukkan kekuatan sekaligus kerentanan ekonomi warga desa. Ketergantungan pada cuaca dan musim membatasi kesinambungan penghasilan, sehingga usaha tambahan bukan pelengkap belaka. Ia menjadi cara masuk akal untuk memperluas sumber pendapatan dan menjaga nilai ekonomi tetap bergerak saat kegiatan utama berubah.
Potensi garam pun tidak otomatis menjadi keuntungan besar bagi warga. Sebagian lahan tambak dikelola melalui sistem bagi hasil atau sewa, dan tidak semuanya dimiliki masyarakat Nambakor. Karena itu, memperbaiki nilai produk yang dihasilkan warga lebih realistis daripada menganggap akses lahan akan selalu tersedia. Produksi garam halus skala rumah tangga telah berjalan, tetapi sebagian pelaku masih mengandalkan cara otodidak dan membutuhkan pelatihan. Peningkatan keterampilan dapat membantu garam lokal bergerak dari bahan mentah menuju produk olahan dengan mutu dan daya saing lebih baik. Bagi usaha garam, nilai tambah bergantung pada pengetahuan produksi, konsistensi kualitas, dan kemampuan mengelola usaha—bukan semata-mata banyaknya hasil tambak.

Ragam usaha membuka jalan di luar musim
UMKM desa memberi warga ruang untuk mengembangkan penghasilan di luar pekerjaan musiman. Bahan yang tersedia dan keterampilan yang sudah dimiliki dapat menjadi titik awal: pisang diolah menjadi keripik, pekarangan ditanami sayuran, sementara kerajinan diwariskan antargenerasi dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi. Pertanian hidroponik juga termasuk contoh usaha yang tumbuh di tengah keterbatasan, bersama bidang hortikultura, peternakan, perikanan, pengolahan pangan, dan kerajinan. Keragaman ini penting karena tidak setiap desa memiliki tanah, iklim, atau keterampilan yang sama. Menyalin satu model usaha untuk semua tempat berisiko mengabaikan kondisi setempat. Pilihan yang lebih menjanjikan adalah membangun usaha berdasarkan apa yang memang tersedia dan diminati, lalu menguji apakah produk bisa dibuat dengan mutu yang terjaga dan menemukan pembeli.
Di Nambakor, usaha rumahan dapat melengkapi garam dan pertanian sekaligus memberi lebih banyak warga kesempatan berusaha. Dampaknya bukan hanya jumlah produk yang dijual: usaha kecil dapat menambah sumber pendapatan keluarga dan memanfaatkan potensi lokal untuk mendukung kehidupan yang lebih mandiri. Namun, keberagaman produk saja tidak menjamin usaha bertahan. Produksi perlu disesuaikan dengan permintaan, dan pelaku harus mampu menjaga kualitas ketika pesanan bertambah. Pengembangan juga perlu berjalan bersama pemeliharaan kehidupan sosial dan budaya desa, termasuk kesenian ludruk dan kegiatan keagamaan yang masih hidup di Nambakor. Kekuatan ekonomi desa semestinya memperluas pilihan warga tanpa menyingkirkan identitas komunitas yang turut membentuk daya tarik dan keterampilan lokal.
Pendampingan harus menjawab masalah usaha sehari-hari
Ketika produksi dan jangkauan pasar meningkat, tantangan UMKM ikut berubah: pelaku perlu mencatat keuangan, mengurus legalitas, menjaga mutu, mencari saluran penjualan, dan mempertimbangkan pembiayaan. Tanpa kemampuan mengelola hal-hal tersebut, produk yang disukai pembeli tetap sulit berkembang menjadi usaha yang tahan lama. KOLEGA Ekonomi Produktif, bagian dari Bumitama Berdaya, mendampingi kelompok usaha binaan untuk memperkuat tata kelola, memperluas akses pasar, dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Program ini memetakan kondisi dan kebutuhan desa, lalu memberi ruang bagi usaha yang sesuai dengan potensi masing-masing, alih-alih menyeragamkan pilihan. Pendekatan itu patut diperhatikan, tetapi pendampingan akan bernilai jika pengetahuan dapat diterapkan pelaku setelah pelatihan, bukan berhenti pada kegiatan sesaat.
Hingga Juli 2026, KOLEGA telah mendampingi 45 kelompok dengan 288 anggota di 32 desa di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Angka itu menunjukkan jangkauan program, bukan bukti bahwa setiap usaha telah berhasil; ukuran penting berikutnya ialah apakah kelompok mampu mempertahankan tata kelola dan mengakses pasar. Sejauh itu, seluruh kelompok dampingan telah memiliki struktur organisasi, 85 persen menerapkan pencatatan keuangan baku, dan 59 persen mempunyai prosedur operasional standar. Pencatatan membantu pelaku memahami biaya dan arus kas, sementara prosedur memberi pegangan untuk menjaga proses. Legalitas juga dapat membuka jalan ke saluran pasar yang lebih luas. Sekolah Desa Berdaya menjadi salah satu ruang belajar untuk mengubah pengalaman produksi menjadi perencanaan usaha yang lebih teratur.
Dari potensi menjadi kemandirian
Langkah berikutnya bagi Nambakor semestinya menghubungkan sumber daya garam dan pertanian dengan peningkatan keterampilan, pengolahan, tata kelola, serta akses pembeli. Wilayah Kecamatan Saronggi, termasuk Nambakor, berada dalam Formasi Madura yang disebut memiliki potensi batuan fosfat seluas 3.073 hektare. Potensi geologi tersebut layak dicatat, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk memperkuat usaha yang telah dijalankan warga dan tidak dengan sendirinya menjamin manfaat ekonomi. Prioritas yang lebih dekat ialah membantu produsen garam halus memperbaiki proses, mendukung usaha rumahan mengelola keuangan, dan mencocokkan produk dengan kebutuhan pasar. Pendampingan juga perlu memberi perhatian pada legalitas dan mutu agar kenaikan produksi tidak berujung pada kesulitan memenuhi standar.
Pada akhirnya, kekuatan UMKM desa bukan terletak pada banyaknya jenis usaha, melainkan pada kemampuan warga mengubah potensi setempat menjadi penghasilan yang lebih stabil dan dikelola secara mandiri. Dari usaha garam hingga keripik pisang dan pertanian hidroponik, jalur pengembangannya memang berbeda, tetapi tantangan dasarnya serupa: keterampilan, kualitas, tata kelola, dan pasar. Dukungan yang tepat harus mengikuti kebutuhan pelaku serta berlanjut setelah produk mulai dipasarkan. Jika pengembangan ekonomi berjalan seiring dengan pemeliharaan budaya dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, UMKM dapat memperluas pilihan warga tanpa menjadikan desa bergantung pada satu musim atau satu komoditas.






