Dari Produk Niche ke Arus Utama: Momentum Baru Ponsel Lipat
Ponsel lipat Apple adalah masuknya lini iPhone berlayar fleksibel ke pasar foldable smartphone, yang diperkirakan akan mengubah status ponsel lipat dari segmen marginal menjadi arus utama berkat kombinasi teknologi layar fleksibel yang sudah matang, basis pengguna iPhone yang besar, serta ekosistem perangkat dan layanan Apple yang siap mengakomodasi bentuk perangkat baru ini. Kehadiran iPhone lipat rilis bulan depan bersama iPhone 18 Pro dipandang sebagai titik balik terbesar sejak ponsel lipat pertama muncul di pasar. "Kehadiran Apple ini disebut-sebut akan menjadi momentum yang menentukan apakah ponsel lipat akan bertransisi dari produk niche menjadi perangkat mainstream." Pandangan ini beralasan karena selama ini, ponsel lipat hanya memegang 1,6 persen pasar smartphone, sehingga butuh lompatan besar di sisi persepsi konsumen untuk berkembang.

Perjalanan Teknologi: Dari FlexPai yang Gagap ke iPhone Ultra yang Matang
Jika ingin memahami dampak masuknya ponsel lipat Apple, kita harus melihat perjalanan panjang teknologi layar fleksibel. Segmen ini dimulai dari FlexPai buatan Royole, ponsel lipat komersial pertama yang disebut sangat buruk secara desain dan kini ditinggalkan bersama kebangkrutan produsenlayar fleksibelnya. Setahun kemudian, Samsung Galaxy Fold generasi pertama muncul dengan masalah serius: unit ulasan rusak dalam hitungan hari. Sejak saat itu, evolusi terjadi cepat namun menyakitkan. Huawei mencoba Mate X dengan layar yang melilit bodi, Motorola membawa kembali Razr lipat, lalu Samsung mematangkan dua jalur bentuk: flip mungil dan book-style yang membuka seperti buku. Tujuh tahun kemudian, ponsel lipat menjadi lebih tipis, ringan, dan tahan lama, dengan lipatan layar yang makin rata dan teknologi seperti pencetakan 3D polimer cair di engsel untuk menyamarkan garis lipatan. Baru setelah fase ini, Apple merasa waktunya tepat untuk ikut bermain.

Samsung Galaxy Z Fold: Pionir yang Menyiapkan Panggung untuk Apple
Masuknya iPhone lipat tidak terjadi di ruang hampa; ia berdiri di atas kerja panjang Samsung mengembangkan lini Samsung Galaxy Z Fold. Sejak generasi pertama Galaxy Fold hingga ke Galaxy Z Fold 8 dan eksperimen Galaxy Z TriFold, Samsung memikul risiko awal: perangkat mudah rusak, lipatan tebal, desain canggung. Namun dari generasi ke generasi, lipatan layar makin minim, desain makin tipis, dan daya tahan meningkat, termasuk bergeser ke form factor yang kini bahkan mirip dengan Pura X Max dan bocoran bentuk iPhone Ultra. "Analisis terbaru menyebut pengalaman Samsung mengembangkan lini Galaxy Z Fold selama delapan generasi justru membuka peluang bagi Apple untuk masuk ke pasar foldable ketika minat konsumen mulai meningkat." Apple memanfaatkan jalan yang sudah dirintis: mereka tidak menghabiskan sumber daya untuk tahap trial-and-error ekstrem, melainkan masuk ketika standar kualitas dan harapan konsumen telah terbentuk oleh pemain Android.
Strategi Apple: Datang Terlambat, tapi Mengincar Dominasi Segmen
Apple jelas memilih bukan menjadi pelopor untuk pasar foldable smartphone. Menurut analisis, perusahaan sengaja menunda masuk ke ponsel lipat agar teknologi layar, engsel, dan pengalaman penggunaan mencapai titik matang, sementara konsumen mulai lebih terbuka terhadap perangkat lipat. iPhone Ultra, ponsel lipat Apple yang diperkirakan meluncur bersama seri iPhone 18 pada September, diproyeksikan langsung meraih sekitar 25 persen pasar smartphone lipat global begitu rilis. Bahkan ada prediksi lain bahwa Apple bisa menguasai 34 persen pasar lipat berdasarkan nilai di tahun pertamanya. Kuncinya bukan harga agresif; ponsel lipat Apple diperkirakan menjadi iPhone paling mahal, berfokus pada pemrosesan premium, lekukan layar yang nyaris tak terlihat, dan integrasi dalam ekosistem Apple. Pendekatan ini menarget jutaan pengguna iPhone yang sudah ada, yang selama ini menahan diri membeli ponsel lipat Android karena enggan meninggalkan iOS.

Dampak ke Konsumen dan Masa Depan Persaingan Foldable
Bagi pengguna sehari-hari, gelombang baru ponsel lipat berarti pilihan yang lebih masuk akal dibanding generasi awal yang terasa eksperimental. Ponsel lipat modern dari Samsung, Honor, Oppo, Motorola dan lainnya kini lebih tipis, lebih ringan, lebih tahan lama, dan lipatan layar makin sulit dilihat. Namun segmen ini masih kecil dan marginal; ponsel lipat hanya memegang 1,6 persen pasar smartphone pada 2025. Inilah yang ingin diubah Apple. IDC memperkirakan pengiriman ponsel lipat akan tumbuh sekitar 20 persen dari tahun ke tahun, didorong terutama oleh masuknya ponsel lipat Apple. Analis bahkan menyamakan potensi tahun rilis iPhone Ultra dengan momen ponsel pintar pada 2007. Jika prediksi bahwa Apple bisa menarik jutaan pengguna iPhone yang sudah ada terbukti, ponsel lipat akan beralih dari eksperimen mahal menjadi kategori utama. Para kompetitor seperti Samsung mendapat tantangan ganda: mempertahankan inovasi teknologi dan merancang strategi agar tidak kehilangan pangsa pasar yang telah mereka bangun susah payah.



![[8.8 s/d 17% + 200RB*] HUAWEI Mate X7 Smartphone | Ultra Thin and Durable | True-to-Color Camera | Ultra-long Battery Life | Smart AI | Lazada Indonesia](https://img2.kuybeli.com/product/2026/08/09/603fc12a-02b9-4350-a57e-82eedb214e0d.png)






