Budaya Masuk Kurikulum: Bukan Tambahan, Tapi Fondasi
Integrasi pembelajaran tari tradisional dan tata krama lokal di sekolah adalah pendekatan pendidikan yang menggabungkan pelestarian budaya Nusantara sekolah dengan pembentukan karakter, keterampilan sosial, serta kreativitas siswa melalui pengalaman belajar yang praktik, kolaboratif, dan menyenangkan.
Dua contoh terbaru menunjukkan arah baru ini. Di SMP Negeri 4 Depok, mahasiswa Pendidikan Seni Tari menjalankan pembelajaran Tari Giring-Giring kepada siswa kelas VIII sebagai bagian Praktik Kependidikan, dengan tujuan mengenalkan keberagaman seni budaya sekaligus melatih kemampuan seni siswa. Di SMP Negeri 1 Banguntapan, mahasiswa Praktik Kependidikan UNY memprakarsai program “Bertepuk Tangan, Berbudaya: Menghidupkan Kembali Unggah-Ungguh Jawa” dalam kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), untuk menghidupkan lagi tata krama Jawa di lingkungan sekolah. Ini bukan kegiatan seremonial; keduanya selaras dengan SDGs Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pendidikan inklusif, kontekstual, dan berbasis kearifan lokal.
Tari Giring-Giring di SMP: Dari Wiraga ke Karakter
Pembelajaran Tari Giring-Giring di SMP Negeri 4 Depok bukan sekadar hafalan gerak, tetapi pintu masuk untuk mengenalkan wajah konkret budaya Nusantara sekolah kepada remaja. Mahasiswa memberikan pengenalan asal-usul, karakter, fungsi, hingga ragam gerak Tari Giring-Giring sebelum mengajak siswa mempraktikkannya tahap demi tahap. Model ini menempatkan siswa sebagai pelaku budaya, bukan penonton dari layar gawai.
Melalui praktik, siswa menerapkan unsur wiraga, wirama, dan wirasa sambil melatih koordinasi tubuh, konsentrasi, daya ingat, dan keberanian tampil di depan teman sebaya. Dalam kerja kelompok, mereka belajar disiplin, kerja sama, dan saling menghargai. Inilah kekuatan pembelajaran tari tradisional: satu kegiatan mengasah keterampilan motorik, kreativitas, dan soft skills sekaligus. Pengenalan Tari Giring-Giring diharapkan menumbuhkan ketertarikan siswa pada seni dan budaya Nusantara serta mendorong mereka ikut melestarikannya. Jika pengalaman ini berulang lintas angkatan, sekolah berubah menjadi ruang hidup bagi pelestarian budaya lokal, bukan hanya gedung tempat ujian teori.

Unggah-Ungguh Jawa: Tata Krama yang Diaktivasi, Bukan Diujikan
Di Banguntapan, Unggah Ungguh Jawa dibawa masuk ke ranah kokurikuler P5 melalui sebuah eksperimen sederhana: tepuk tangan edukatif. Mahasiswa UNY mengawali dengan pemaparan etika berkomunikasi, tingkatan bahasa Jawa (ngoko dan krama), serta sikap tubuh santun saat berinteraksi dengan orang tua, guru, dan teman. Materi yang selama ini sering terasa kaku di buku pelajaran dihidupkan lewat permainan tepuk yang menggabungkan kosakata krama inggil dan norma kesopanan harian.
Dampaknya terasa langsung di ruang kelas: suasana lebih ceria, interaktif, dan penuh antusiasme. Siswa tidak berhenti pada menghafal ungkapan krama, tetapi mulai membiasakan sikap sopan santun dalam interaksi sosial sehari-hari di sekolah. Program Unggah Ungguh Jawa ini memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka berbasis karakter dan menunjukkan bahwa pelestarian budaya lokal tidak harus dikemas dalam ceramah panjang. Kuncinya adalah menjadikan tata krama sebagai kebiasaan yang diulang, bukan soal yang diujikan sekali.
Pelestarian Budaya di Era Digital: Dari Insiden ke Tradisi Baru
Kedua inisiatif ini lahir dari keprihatinan yang sama: nilai dan kesenian lokal kian terdesak oleh budaya populer global. Di tengah arus konten digital, pelestarian budaya lokal di sekolah sering berhenti pada poster dan lomba tahunan. Program Tari Giring-Giring SMP dan Unggah Ungguh Jawa menunjukkan alternatif lain: budaya dihidupkan lewat rutinitas belajar yang dirancang interaktif dan relevan dengan keseharian siswa.
Pembelajaran seni dan tata krama ini juga diakui berkontribusi pada SDGs Tujuan 4, karena tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi mendukung perkembangan keterampilan, kreativitas, dan karakter peserta didik. Keberhasilan model ini diharapkan berlanjut sebagai pola pembelajaran kokurikuler inspiratif untuk menjaga kelestarian tradisi di tengah modernisasi. Kegiatan serupa pun disarankan berkembang dengan materi tari Nusantara lain agar pengalaman belajar seni menjadi beragam dan bermakna. Pada titik ini, pertanyaannya bukan lagi “perlu atau tidak budaya diajarkan di sekolah”, melainkan “berani atau tidak sekolah mengubahnya menjadi praktik hidup yang konsisten dan menyenangkan”.






