Panggung mode yang bukan hanya milik nama besar
Solo Batik Fashion adalah perhelatan mode tahunan di Solo yang mempertemukan karya batik, desainer, pelaku usaha, dan talenta pendidikan dalam satu panggung publik yang terbuka bagi masyarakat. Nilai pentingnya tahun ini bukan semata deretan koleksi, melainkan siapa saja yang mendapat kesempatan untuk tampil. Memasuki penyelenggaraan ke-18, acara ini berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 di Graha Wisata Niaga, kawasan Taman Sriwedari. Siswa SMK dan SLB akan tampil bersama desainer profesional dan pelaku batik, sehingga peragaan ini mempertemukan pengalaman industri dengan gagasan generasi muda. Desain Mode UNS, SMKN 4 Solo, Primasana dari SMKN Pacitan, dan DIKSUS SLB termasuk institusi pendidikan yang terlibat. Ini pilihan yang patut diapresiasi: pelajar bukan sekadar penonton atau pengisi acara pelengkap, melainkan bagian dari percakapan kreatif tentang masa depan batik.

Tema Nusantara memperluas makna batik
Tema “Nusantara” mengajak pengunjung melihat batik melampaui daerah yang selama ini paling sering disebut. Puluhan desainer, rumah batik, dan institusi pendidikan mode akan menampilkan eksplorasi batik dalam desain kontemporer dan modern. Dengan cara itu, para desainer batik Nusantara punya ruang untuk memperlihatkan ragam tradisi dan karakter daerah melalui busana yang relevan dengan hari ini. “Dari ujung Indonesia bagian timur sampai barat sudah ada yang mereka sebut batik,” kata Djongko Rahardjo, yang menjelaskan alasan tema tersebut dipilih. Pesan ini penting bagi Solo. Ajang tersebut dirancang untuk memperkuat citra kota sebagai kota batik sekaligus salah satu pusat fashion. Namun, posisi itu akan lebih berarti jika Solo tidak hanya merayakan warisannya sendiri, tetapi juga menjadi tempat bertemunya kekayaan batik dari berbagai wilayah. Di sinilah fashion show batik dapat menjadi ruang belajar sekaligus panggung bagi keragaman.
Kesempatan tampil harus berlanjut menjadi ruang berkarya
Pada 31 Oktober, peragaan utama dijadwalkan mulai pukul 19.00 WIB, dengan koleksi dari nama-nama seperti Batik Riana Kesuma, Hadinata Batik, Primasana by SMKN Pacitan, Desain Mode UNS, SMKN 4 Solo, dan DIKSUS SLB. Peserta lain mencakup Batik Danar Hadi, Purana by Nomita Respati, dan House of Hasto. Peragaan busana tradisional ini menjadi lebih kuat ketika berbagai tingkat pengalaman hadir di catwalk yang sama. Rangkaian acara juga menyediakan panggung bagi UMKM batik: peragaan busana mereka dijadwalkan pada 31 Oktober pukul 15.00 WIB. Pada 1 November pukul 10.00 WIB, lomba “Kreasi Batik Nusantara” terbuka bagi anak-anak dan remaja. Rangkaian ini membuat acara lebih dari sekadar tontonan. Ukuran keberhasilannya juga terletak pada kesinambungan kesempatan setelah lampu panggung padam. Dengan melibatkan siswa SMK dan SLB, desainer, serta UMKM, Solo Batik Fashion memberi contoh bahwa pelestarian batik akan lebih hidup ketika komunitas lokal ikut menjadi pencipta, bukan hanya penonton.







