Berangkat dari empati, bukan belas kasihan
Pesantren anak berkebutuhan khusus adalah lembaga pendidikan dan pengasuhan yang menyesuaikan lingkungan, ritme belajar, serta dukungan sehari-hari dengan kebutuhan santri, sambil memberi ruang bagi perkembangan spiritual dan sosial. Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah di Kudus menunjukkan mengapa model seperti ini penting: lembaga yang didirikan Muhammad Faiq Afthoni pada 2007 itu berawal dari kepedulian terhadap anak autis dan anak berkebutuhan khusus yang telantar di jalanan. Kini, sekitar 125 santri belajar dan tinggal di pondok yang berada di Desa Pedawang, Bae, Kudus; mereka berasal dari berbagai daerah, termasuk luar Jawa. Angka tersebut bukan sekadar ukuran kapasitas. Ia menunjukkan bahwa kebutuhan akan tempat belajar yang aman dan menerima anak dengan cara berbeda tidak bisa dijawab oleh pendidikan yang seragam. Empati menjadi titik awal, tetapi pendampingan yang konsistenlah yang membuatnya bermakna.
Belajar melalui kebutuhan sehari-hari
Pendidikan Islam inklusif perlu terlihat dalam praktik, bukan berhenti sebagai slogan. Kisah Althafun Nisa Fauziah, santriwati berusia 13 tahun asal Gresik, memberi gambaran konkret tentang pembelajaran yang bertahap. Dalam studi kelas terpadu, ia belajar mengenali warna dan merawat diri dengan pendampingan tutor. Gambar-gambar menjadi panduan untuk menyikat gigi, mandi, menyisir rambut, membersihkan telinga, hingga memotong kuku. Detail itu penting: keterampilan merawat diri bukan pelajaran sampingan, melainkan bagian dari bekal untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut juga mengingatkan bahwa anak autis pembelajaran agama dan keterampilan lain tidak seharusnya dipaksa mengikuti satu ritme yang sama. Materi perlu disampaikan dengan cara yang dapat dipahami anak, sementara keberhasilan diukur dari perkembangan dan kebutuhan masing-masing, bukan dari keseragaman.
Nilai agama perlu hadir dalam perilaku
Pendidikan agama dapat memberi arah pada pembentukan karakter, tetapi nilainya perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan yang nyata. Pesan itu disampaikan Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah dalam wisuda santri TPQ ke-9, yang digelar di Hotel CK pada Minggu, 25 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Santri Nasional. Acara tersebut diikuti 1.000 santri dan mengumumkan 10 santri terbaik. Lis mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan melalui sikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, serta menghormati orang tua dan guru. Prinsip ini relevan bagi semua anak, termasuk mereka yang membutuhkan dukungan khusus. Namun, sumber yang tersedia tidak merinci bagaimana pengajaran Al-Qur’an diterapkan di Al-Achsaniyyah. Karena itu, contoh pendidikan Al-Qur’an dan kisah pendampingan di pesantren sebaiknya dibaca sebagai pijakan nilai yang saling melengkapi, bukan sebagai bukti satu kurikulum terpadu.
Inklusi harus membuka jalan menuju kemandirian
Pelajaran dari dua kisah ini bukan bahwa satu metode cocok untuk semua anak, melainkan bahwa pendidikan perlu mengakui kebutuhan dan kemampuan yang beragam. Pendidikan khusus berbasis nilai spiritual akan bermakna ketika penghormatan terhadap anak berjalan bersama dukungan yang sesuai: ruang belajar yang aman, pendampingan sabar, dan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan. Faiq meyakini anak berkebutuhan khusus memiliki harapan untuk mandiri, sementara pengalaman Altha menunjukkan bagaimana latihan sederhana dapat membantu keseharian. Di Tanjungpinang, Lis juga berharap para santri terus meningkatkan kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an serta mengamalkannya dalam kehidupan. Harapan berikutnya adalah menjaga kesinambungan antara rumah, pendidik, dan lembaga—dukungan orang tua dan ketekunan pengajar juga ditekankan Lis. Pada akhirnya, pendidikan agama dapat menjadi salah satu fondasi tumbuhnya akhlak dan potensi, selama setiap anak diberi cara belajar yang menghargai dirinya.






