Karhutla 72.798 Hektare: Krisis yang Menyeberang Batas
Kebakaran hutan dan lahan adalah peristiwa pembakaran vegetasi di kawasan hutan, semak, dan lahan gambut atau non-gambut yang menyebabkan pelepasan asap tebal, partikel polutan, serta kerusakan ekologis luas dan berdampak pada kesehatan, ekonomi, serta hubungan antarwilayah dan lintas negara. Di berbagai pulau, total luas kebakaran hutan lahan sudah mencapai 72.798 hektare. Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah bukti bahwa pola lama berulang dan bahwa pencegahan karhutla masih kalah cepat dibanding laju pembukaan dan pengeringan lahan. Potensi asap lintas negara menambah dimensi diplomatik: ketika polutan di Sumatra dan Kalimantan bergerak ke barat laut menuju Selat Malaka dan Natuna, dampak karhutla tidak lagi bisa dianggap sebagai urusan domestik. Jika negara tetangga ikut terpapar, reputasi dan kepercayaan regional juga ikut terbakar.

Asap Lintas Negara dan Beban Warga: Dari Selat Malaka ke Ruang Kelas
Badan penanggulangan bencana memantau pergerakan polutan yang mengarah ke barat laut, membawa asap dan partikel hasil kebakaran hutan lahan menuju wilayah negara tetangga. Artinya, setiap titik api baru bukan hanya menambah beban dalam negeri, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan regional terkait asap lintas negara. Konsentrasi polutan tertinggi tercatat di beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatra, dengan sumber terbesar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, Sumatera Selatan dan Jambi. "Total luas karhutla di Indonesia mencapai 72.798 ha" adalah kalimat yang menempel di kepala, karena di baliknya ada anak sekolah yang sesak napas, pekerja pelabuhan yang terpapar debu halus, dan warga pedesaan yang harus antre akses kesehatan. Di tengah meluasnya karhutla, pengkampanye lingkungan menegaskan bahwa hal terpenting yang perlu dilakukan pemerintah saat ini adalah memberikan akses kesehatan kepada warga terdampak. Tanpa layanan kesehatan yang siap, setiap musim asap adalah eksperimen kejam atas tubuh masyarakat.
El Nino, Gambut Kering, dan Masalah Struktural yang Diabaikan
Fenomena El Nino saat ini berada pada kategori kuat dengan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian timur lebih dari +2 derajat Celcius. Kondisi ini membuat musim kemarau lebih kering dan panjang, sehingga cuaca kering musiman meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla. Namun menjelaskan karhutla dengan cuaca saja adalah bentuk penyederhanaan yang berbahaya. Forest campaigner mengingatkan bahwa karhutla tidak boleh dipersempit sebagai bencana alam semata karena ada masalah struktural yang membuat kebakaran berulang hampir setiap tahun. Data pantauan gambut mencatat 45.428 titik panas di dalam Kesatuan Hidrologis Gambut pada Januari–Juli, dengan ribuan titik di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ekosistem gambut yang secara alami basah dikeringkan lewat kanal untuk kepentingan food estate dan industri ekstraktif, menjadikannya sangat mudah terbakar ketika kehilangan air. Selama strategi pembangunan masih bergantung pada pengeringan gambut, pencegahan karhutla akan selalu tertinggal.
Pelabuhan di Garis Depan: Cuaca Kering dan Logistik yang Rentan
Cuaca kering musiman bukan hanya ancaman bagi hutan di pedalaman, tetapi juga bagi sektor transportasi dan logistik pelabuhan. Di tengah ancaman karhutla dan kondisi cuaca kering, operator pelabuhan regional melakukan penyemprotan air di sejumlah area Pelabuhan Basirih, Banjarmasin untuk menekan potensi munculnya titik api. Langkah preventif ini dilakukan untuk menjaga kelembapan area terbuka yang mudah terbakar dan mengantisipasi dampak karhutla terhadap keselamatan, lingkungan, dan kelancaran operasional kepelabuhanan. Menurut manajemen pelabuhan, penyemprotan dilakukan sebagai antisipasi di tengah cuaca kering yang dapat meningkatkan risiko kebakaran pada lahan dan area terbuka di sekitar pelabuhan. Mereka juga memperkuat pemantauan lapangan dan mengingatkan pekerja serta pengguna jasa agar menghindari aktivitas yang bisa memicu api. Ini contoh nyata pencegahan karhutla berbasis risiko: saat asap bisa menghentikan kapal dan truk, sektor logistik tidak punya pilihan selain bertindak lebih awal.

Segel Perusahaan, Mitigasi Gambut, dan Agenda Lintas Wilayah
Di sisi penegakan, kementerian lingkungan menyegel perusahaan yang terindikasi terkait karhutla setelah verifikasi dan pemeriksaan lapangan. Dari 21 perusahaan yang disegel, tujuh berada di Kalimantan Barat, empat di Sumatera Selatan, empat di Kalimantan Selatan, dan tiga di Kalimantan Tengah. Sebanyak 335 perusahaan tercatat terindikasi memiliki hotspot dan masih dalam proses verifikasi, yang berarti jumlah perusahaan yang harus diperiksa bisa bertambah. Menurut pejabat terkait, kondisi kemarau panjang membuat pembakaran lahan semakin berisiko memperluas karhutla. Penindakan ini penting, tetapi tidak cukup jika tidak diikuti mitigasi jangka panjang. Pengkampanye lingkungan menegaskan bahwa setelah respon darurat, pemerintah harus memulihkan lahan gambut yang rusak dan melindungi gambut yang masih baik. Mitigasi yang serius diperlukan agar karhutla “tidak sampai kejadian”. Kesimpulannya, kebijakan harus bergerak serempak: monitoring BNPB lintas negara, pencegahan karhutla oleh pelaku pelabuhan dan infrastruktur, serta reformasi tata kelola lahan. Tanpa kombinasi ini, setiap musim kemarau berikutnya akan menjadi pengulangan tragedi yang sama.






