Pameran yang Menyatukan Industri dan Teknologi
Teknologi 3D printing adalah proses pembuatan benda dengan membangun bentuknya dari model digital, sementara 3D scanning merekam bentuk fisik menjadi data digital untuk mendukung desain dan produksi. Di industri pengemasan, keduanya dapat mempercepat pengembangan produk dan pembuatan komponen. Pameran ALLPack Indonesia 2026 berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 20–23 Oktober dan menghadirkan 1.600 peserta dari 42 negara. Dalam skala perusahaan, acara ini juga melibatkan lebih dari 1.200 perusahaan peserta dan menargetkan hingga 90.000 pengunjung. Besarnya partisipasi membuat pameran ini lebih dari sekadar ruang pajang mesin: ia menjadi tempat mempertemukan kebutuhan manufaktur dengan solusi teknologi. Penekanan pada teknologi 3D memberi acara ini nilai praktis, terutama bagi perusahaan yang ingin memperbaiki proses tanpa menunggu perubahan besar pada seluruh lini produksinya.

Dari Prototipe ke Inovasi Manufaktur Lokal
Teknologi 3D printing pengemasan layak mendapat perhatian karena bisa digunakan dalam pengembangan produk, pembuatan prototipe, dan digitalisasi komponen secara lebih cepat, efisien, serta ekonomis. Artinya, teknologi ini berpotensi membantu perusahaan menguji desain dan menyiapkan kebutuhan produksi dengan lebih luwes. Di pameran, PRINTRIDI memperlihatkan penerapannya untuk manufaktur, suku cadang, cetakan, kebutuhan medis, mainan, dan suvenir. Peluangnya tidak terbatas pada pabrik besar. PRINTRIDI mendorong pemanfaatan teknologi 3D oleh UMKM, industri rumahan, hingga manufaktur skala besar, sementara Kementerian Perindustrian juga menilai teknologi ini dapat memperkuat daya saing IKM. Produksi suku cadang dan alat bantu secara lokal dapat mengurangi ketergantungan pada komponen impor serta membuka jalan bagi startup dan IKM masuk ke rantai pasok nasional. Namun, manfaat itu tidak otomatis terwujud: pengembangan ekosistem masih memerlukan peningkatan kompetensi SDM, standar mutu, dan kepercayaan industri.
Forum Bisnis Perlu Berujung pada Penerapan
Peluang teknologi hanya bernilai jika perusahaan tahu cara menerapkannya dan menemukan mitra yang tepat. Karena itu, agenda edukasi ALLPack penting sebagai pelengkap demonstrasi mesin. Pameran menggelar lebih dari 65 kegiatan, termasuk seminar, konferensi, lokakarya, konsultasi industri, dan pertemuan bisnis yang menghubungkan pelaku usaha dengan pakar, pemerintah, calon pembeli, serta mitra dari berbagai negara. Salah satu sesi yang relevan membahas peluang investasi dan insentif di industri pengemasan, diselenggarakan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM bersama Indonesia Packaging Federation. Agenda lain dari China Machinery Engineering Corporation membahas peluang memasuki pasar China. Ragam forum ini memberi perusahaan ruang untuk menguji gagasan bisnis, bukan hanya melihat teknologi. Namun, ukuran keberhasilan pameran seharusnya bukan jumlah sesi atau mesin yang dipajang, melainkan tindak lanjutnya: kolaborasi uji coba, peningkatan keterampilan, dan penggunaan teknologi dalam produksi. Di situlah efisiensi industri pengemasan dan inovasi manufaktur lokal dapat berkembang secara nyata.






