AI, Pusat Data, dan Air: Mengapa Petani Patut Cemas
Pusat data AI adalah fasilitas komputasi berskala besar yang menjalankan ribuan server untuk memproses dan menyimpan data kecerdasan buatan, dan karena kepadatan komputasinya, fasilitas ini membutuhkan listrik dan sistem pendingin masif yang mengonsumsi jutaan liter air setiap hari sehingga berpotensi mengganggu ketersediaan air bagi sektor lain seperti pertanian dan kebutuhan rumah tangga.
Pertarungan terbesar pembangunan data center AI air bukan lagi soal nilai investasinya, tetapi soal siapa yang akan dikorbankan saat air dibagi: mesin atau manusia. Di Jatiluhur, pusat data AI bernilai sekitar Rp3,5 triliun disiapkan sebagai kampus komputasi lima lantai dengan daya hingga 120 MW. Di atas kertas, proyek ini digadang sebagai pendorong ekonomi baru. Namun di lapangan, konsumsi air Jatiluhur yang bisa mencapai 384 liter per detik—setara 33 juta liter per hari ketika kapasitas penuh—langsung memicu alarm bagi petani yang bergantung pada jaringan irigasi waduk. Tanpa koreksi kebijakan, AI bisa berubah dari harapan modernisasi menjadi mesin pengering sawah.
Jatiluhur: 33 Juta Liter Air per Hari vs Sawah Petani
Pembangunan AI Campus 2 (CGK4) milik BDx Data Centers di Jatiluhur mulai disorot setelah menjadi agenda DPRD daerah dan peletakan batu pertama dilakukan oleh gubernur pada akhir Juli. Proyek senilai sekitar Rp3,5 triliun ini dirancang sebagai pusat data AI berskala besar yang akan mulai beroperasi awal 2027. Di balik narasi kemajuan teknologi, ada fakta yang jauh lebih keras: pada kapasitas maksimum, fasilitas ini diproyeksikan menyedot sekitar 33 juta liter air per hari, dengan kebutuhan awal sekitar 6.000 meter kubik yang akan meningkat seiring ekspansi kapasitas komputasi.
Sistem air Jatiluhur bukan kolam pribadi data center; dari sinilah air irigasi untuk pertanian, air baku, dan kebutuhan lain dialirkan. Ketika data center AI air mulai mengambil porsi signifikan dari jaringan ini, petani berada di baris pertama yang akan merasakan penurunan debit, perubahan jadwal tanam, hingga risiko gagal panen. Kekhawatiran publik kian membesar karena perdebatan global tentang krisis air data center: dokumenter yang menyorot keluhan warga di sekitar pusat data besar—mulai dari penurunan tekanan air hingga endapan di sumur—kini menjadi cermin yang menakutkan bagi warga Jatiluhur.
Batang dan Zankore: 9 Juta Liter di Tengah Kekeringan
Jika Jatiluhur adalah peringatan, Batang berpotensi menjadi studi kasus krisis air data center yang jauh lebih tajam. Zankore AI Factory berinvestasi hingga puluhan triliun dengan ambisi kapasitas total 1 gigawatt, dimulai dari tahap awal 200 MW yang direncanakan dibangun pada paruh pertama 2027 di sebuah kawasan ekonomi khusus. Masalahnya, penelitian yang dikutip menunjukkan bahwa pusat data di iklim lembap mengonsumsi rata-rata 1,9 liter air pendingin per kilowatt-jam, sehingga pada tahap awal saja Zankore diperkirakan menguapkan 4,8 hingga 9,1 juta liter air per hari melalui menara pendingin evaporasi.
Perbandingan paling telanjang datang dari data bantuan air: hanya dalam 8–16 hari, konsumsi air Zankore setara dengan total bantuan air bersih 75,46 juta liter untuk 2,34 juta warga yang terdampak kekeringan di ratusan desa selama sebulan penuh. Pemerintah memang menyiapkan infrastruktur air baku 24,5 juta liter per hari untuk kawasan tersebut, tetapi jika lebih dari 30% kapasitas itu diserap Zankore, ruang air bersih warga akan makin sempit. Di wilayah yang sudah menghadapi kekeringan dan penurunan tanah 6–20 cm per tahun, menambah beban air untuk data center AI air adalah keputusan yang nyaris tak masuk akal secara ekologis.

Dampak Sosial: Dari Sawah Mengering hingga Sumur Menyusut
Konflik utama antara pusat data AI dan masyarakat bukan pada papan nama proyek, melainkan pada kran air yang mengalir ke rumah dan sawah. Sistem irigasi di sekitar Jatiluhur punya banyak fungsi, salah satunya menyuplai air pertanian. Ketika konsumsi air Jatiluhur untuk data center meningkat mengikuti ekspansi, jaringan yang selama ini menjaga panen padi bisa berubah menjadi sumber ketidakpastian. Jadwal tanam terganggu, musim tanam bergeser, dan petani dipaksa berspekulasi dengan langit, sementara air yang dulunya pasti kini dialihkan ke mesin.
Di Batang, ancaman tidak hanya berupa krisis air bersih bagi warga jika Zankore menyerap porsi besar infrastruktur air baku, tetapi juga risiko jangka panjang berupa penurunan tanah yang sudah tercatat 6–20 cm per tahun di kawasan pesisir sekitar. Pengalaman di luar negeri yang ramai di media—keluhan warga terhadap pusat data besar yang dikaitkan dengan rendahnya tekanan air dan sedimentasi sumur—menjadi bayangan yang sangat mungkin berulang jika pola pengelolaan airnya sama. Data center AI air pada akhirnya tidak netral: ia mengalihkan hak air dari warga ke server, dan jika dibiarkan, ia mengubah petani menjadi pihak yang paling menanggung biaya sosial dari ambisi AI.
AI Harus Taat Air: Regulasi Ketat atau Krisis Berkepanjangan
Perdebatan ini bukan soal menolak teknologi, melainkan menolak kebijakan yang menempatkan mesin di depan manusia. Fakta bahwa satu pusat data 1 MW tertentu bisa menggunakan sekitar 25,5 juta liter air per tahun menunjukkan betapa besar jejak air infrastruktur digital. Tanpa regulasi yang jelas, setiap tambahan megawatt data center AI air berarti tambahan jutaan liter air yang hilang dari siklus hidup warga dan petani. Pembangunan Jatiluhur dan Zankore menunjukkan pola sama: investasi besar, penyerapan kerja relatif kecil, dan risiko lingkungan tinggi.
Pemerintah tidak bisa lagi sekadar menyambut groundbreaking; ia harus memimpin desain tata kelola air. Proyek seperti Zankore sudah didesak untuk membuka data kebutuhan air secara transparan, menggunakan teknologi pendingin hemat air, dan menerapkan pengendalian risiko lingkungan yang ketat. Kebijakan serupa wajib diterapkan pada semua pusat data besar, termasuk di Jatiluhur, agar dampak lingkungan AI tidak merusak ketahanan air masyarakat. AI tidak boleh berdiri di atas ladang yang mengering. Jika regulasi air untuk data center gagal ditegakkan sekarang, yang kita bangun bukan masa depan digital, melainkan masa depan krisis air permanen.






