Ancaman besar, tetapi bukan guncangan seketika
AI dalam dunia kerja adalah teknologi yang mampu mengotomatisasi sebagian tugas manusia, mengubah kebutuhan tenaga kerja, dan menggeser pekerja dari peran yang ada. Karena itu, ancamannya lebih tepat dibaca sebagai perubahan bertahap yang dapat membesar, bukan ramalan bahwa semua pekerjaan segera lenyap. Goldman Sachs memperkirakan AI berpotensi menggusur hingga 9 persen pekerja di Amerika Serikat dan negara maju lainnya, setara sekitar 15 juta orang yang pekerjaannya terdampak. Angka ini cukup besar untuk dianggap serius, tetapi tetap merupakan perkiraan, bukan kepastian bahwa setiap pekerja tersebut akan kehilangan pekerjaan. Dalam skenario dasar, peningkatan produktivitas sebesar 15 persen dapat membuat hampir 10 persen pekerja terdampak melalui kehilangan pekerjaan atau pergeseran peran. Perdebatan tentang AI menggantikan pekerjaan seharusnya berpusat pada siapa yang menanggung biaya perubahan dan seberapa siap masyarakat menghadapinya.
Perlambatan ekonomi dapat mempercepat otomatisasi
Dampak AI pada pekerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologi, tetapi juga oleh keadaan ekonomi. Perusahaan yang mengejar produktivitas dapat mengotomatisasi tugas dan menahan perekrutan; bagi pencari kerja, risiko itu berarti peluang masuk yang menyusut, bahkan sebelum PHK terlihat jelas. Goldman Sachs memperkirakan kurang dari seperempat perusahaan di AS telah memasukkan AI ke alur kerja rutin, sehingga perubahan masih berpotensi meluas. Analis bank tersebut memperkirakan peralihan berlangsung bertahap jika pertumbuhan tetap mendekati potensi, tetapi memperingatkan laju adopsi dapat meningkat saat ekonomi melambat. Di masa tekanan bisnis, otomatisasi pekerjaan bisa menjadi cara menekan biaya, sehingga PHK akibat teknologi berisiko berkelindan dengan pemangkasan karena kondisi ekonomi. Ini alasan kuat untuk memantau perubahan sejak dini, bukan menunggu sampai kehilangan pekerjaan menjadi gelombang besar.
Klaim tentang robot perlu dibaca dengan cermat
Peringatan buruh mempertegas bahwa robot dan pekerjaan adalah persoalan kebijakan, bukan semata urusan pilihan teknologi perusahaan. Pada 27 Oktober 2026, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Andi Gani Nena Wea menyatakan otomatisasi yang tidak terkendali dapat menghilangkan banyak pekerjaan. Ia menyampaikan bahwa satu robot dapat menggantikan pekerjaan hingga 500 tenaga kerja manusia. Namun, klaim itu bukan ukuran dampak AI secara keseluruhan dan tidak dapat disamakan dengan perkiraan Goldman Sachs tentang 9 persen pekerja di AS dan negara maju. Pernyataan mengenai satu robot menggambarkan potensi penggantian dalam konteks tertentu, sedangkan estimasi Goldman Sachs merujuk pada skenario pasar tenaga kerja yang lebih luas. Mencampur keduanya akan membesar-besarkan kepastian dan mengaburkan pertanyaan penting: jenis pekerjaan apa yang terdampak, dalam jangka waktu berapa lama, serta bagaimana pekerja dapat beralih.
Pengawasan harus melindungi pekerja, bukan membekukan teknologi
Andi Gani menyampaikan bahwa organisasi regional Konfederasi Serikat Buruh Internasional Asia Pasifik meminta pemerintah memastikan penerapan AI tidak mengorbankan kepentingan pekerja. Tuntutan membatasi penggunaan AI dan robotik layak dipahami sebagai seruan untuk menetapkan kendali, bukan alasan menutup pintu bagi teknologi. Larangan tanpa pembedaan berisiko menghambat manfaat produktivitas, sementara pembiaran dapat membuat perusahaan memindahkan risiko kepada pekerja tanpa perlindungan. Pemerintah perlu meminta perusahaan menjelaskan dampak otomatisasi, melibatkan perwakilan pekerja dalam perubahan proses, dan menyiapkan dukungan bagi mereka yang perlu beralih peran. Karena kekhawatiran tentang AI dan robotik juga dibahas di Korea Selatan, Jepang, Eropa, dan Australia, masalah ini jelas melampaui satu pasar kerja. Kesimpulannya, AI bukan takdir yang otomatis menghapus pekerjaan: keputusan manusia dan aturan publik akan menentukan apakah produktivitas baru dibagi luas atau dibayar dengan hilangnya mata pencaharian.






