Maraton yang Menggerakkan Ekonomi, tapi Menguji Kesabaran Warga
Surabaya ISOPLUS Marathon adalah event lari jalan berskala besar yang menggabungkan olahraga, pariwisata, dan perputaran ekonomi lokal, sekaligus memaksa kota melakukan rekayasa lalu lintas marathon yang berdampak langsung pada kenyamanan warga, terutama pengguna jalan yang harus menerima penutupan ruas-ruas penting selama gelaran berlangsung. Di kawasan Balai Kota, hampir 11.000 pelari berlari di berbagai kategori mulai dari Full Marathon 42,195K hingga Kids Dash, menjadikan ajang ini magnet sport tourism yang kuat. Data kajian lembaga ekonomi universitas menunjukkan total ekonomi event lari ini mencapai Rp74,78 miliar dari pengeluaran peserta dan panitia, dari hotel hingga konsumsi. Namun di saat pemerintah kota merayakan dampak ekonomi olahraga, di media sosial warga mengeluh tentang penutupan sejumlah ruas jalan dan perjalanan yang terganggu. Di sinilah pertanyaan penting muncul: seberapa jauh kota pantas "mengorbankan" kenyamanan harian demi lonjakan ekonomi sesaat?

Angka-angka Besar: PDRB, Hotel Penuh, dan UMKM Ketiban Berkah
Bila hanya melihat angka, sulit menolak maraton sebagai mesin ekonomi baru kota. Kajian lembaga penelitian ekonomi mencatat perputaran aktivitas ekonomi terkait Surabaya ISOPLUS Marathon mencapai Rp74,78 miliar, terutama dari akomodasi, transportasi, konsumsi, dan kebutuhan operasional. Kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto diperkirakan sekitar Rp41,47 miliar, mencerminkan nilai tambah dari produksi dan kompensasi tenaga kerja. Wali kota menegaskan bahwa partisipasi lebih dari 11 ribu pelari memicu peningkatan okupansi hotel dan sektor pariwisata, dengan tingkat hunian kamar disebut melonjak hingga sekitar 80–90 persen selama gelaran. Komposisi peserta pun mendukung ekonomi event lari: sekitar 61,11 persen berdomisili di kota, sementara 38,89 persen datang dari luar. Mereka tidak hanya berlari, tetapi mengisi restoran, transportasi, hingga lapak UMKM. Dari kacamata dampak ekonomi olahraga, maraton ini hampir ideal: angka besar, pelaku usaha tersenyum, dan kota makin dikenal sebagai destinasi sport tourism.

Rekayasa Lalu Lintas Marathon dan Rasa Tidak Dianggap
Di balik euforia pelari dan pelaku usaha, ada narasi lain: warga yang merasa ruang hidupnya disisihkan. Rekayasa lalu lintas marathon memaksa penutupan sejumlah ruas jalan di Kota Pahlawan, sehingga perjalanan masyarakat terganggu dan memicu protes di media sosial. Kepala dinas terkait secara terbuka mengakui bahwa lomba ini "mengorbankan pengguna jalan", lalu memohon maaf kepada warga atas ketidaknyamanan tersebut. Pernyataan itu jujur, tetapi juga memperlihatkan pola pikir umum dalam manajemen event: ketidaknyamanan warga dianggap harga yang wajar dibayar demi ekonomi jangka pendek. Di sini tampak masalah utama marathon event traffic management di kota-kota besar: komunikasinya sering top-down, minim ruang dialog tentang rute, jam penutupan, atau alternatif transportasi bagi warga yang tetap harus bekerja, mengurus keluarga, dan menjalankan aktivitas rutin. Bukan maratonnya yang salah, melainkan cara kota mengatur dan menjelaskan pengorbanan yang diminta kepada penduduknya.

Sport Tourism sebagai Strategi Kota: Antara Ambisi dan Kehati-hatian
Pemerintah kota jelas melihat Surabaya ISOPLUS Marathon sebagai bagian dari strategi sport tourism jangka panjang. Rute pelari sengaja melewati destinasi wisata yang dikembangkan, agar kota bukan hanya dilihat sebagai tempat berlari, tetapi juga berlibur dan menikmati kuliner. Wali kota bahkan berharap ke depan penyelenggaraan bisa berlangsung lebih lama, bukan satu hari, melainkan dua hari seperti di kota lain. Ambisi ini masuk akal dari sudut ekonomi event lari, tetapi berisiko memperbesar beban rekayasa lalu lintas marathon bila pola pengaturan tetap seperti sekarang. Jika penutupan jalan dianggap bisa diperpanjang begitu saja, tanpa inovasi manajemen, maka ketegangan dengan warga akan makin kuat. Kota yang ingin hidup dari dampak ekonomi olahraga harus berani menerapkan standar keamanan, keselamatan, dan keterlibatan warga yang lebih tinggi, termasuk dalam hal informasi rute, opsi transportasi publik, hingga kompensasi ruang bagi mereka yang tidak terlibat sebagai pelari.
Menimbang Ulang Harga Sebuah Event Lari Besar
Surabaya ISOPLUS Marathon menunjukkan betapa kuat kekuatan ekonomi sebuah event lari ketika digarap serius: PDRB bergerak, hotel penuh, UMKM ikut merasakan dampak ekonomi olahraga, dan citra kota sebagai destinasi sport tourism menguat. Namun semua itu datang bersama keluhan warga yang terjebak penutupan jalan dan merasa tidak diajak bicara tentang pengorbanan yang diminta. Pilihan kota ke depan seharusnya bukan antara "ekonomi atau kenyamanan", tetapi bagaimana marathon event traffic management dirancang agar keduanya bisa berjalan lebih seimbang. Tanpa perencanaan lalu lintas yang lebih halus dan komunikasi publik yang matang, event seperti ini mudah berubah dari kebanggaan menjadi sumber frustrasi. Kesimpulannya: maraton layak dipertahankan sebagai mesin ekonomi, tetapi kota wajib meng-upgrade cara menghormati warganya. Ekonomi boleh berlari kencang, tetapi jangan meninggalkan penduduk di belakang garis start.






