Perlindungan pesisir perlu bekerja dari dua arah
Perlindungan pesisir adalah upaya mengurangi dampak gelombang dan abrasi sekaligus memulihkan ekosistem pantai agar permukiman dan mata pencaharian warga lebih terlindungi. Di Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak, BRI Peduli menanam 30 ribu bibit mangrove melalui program BRI Menanam – Grow & Green sebagai bagian dari pendekatan berbasis solusi alam. Penanaman dengan metode rumpun berjarak itu ditemani struktur pemecah ombak di bagian depan area tanam, yang membantu meredam gelombang dan mendorong pengendapan sedimen. Kombinasi ini lebih masuk akal daripada mengandalkan penanaman saja: bibit muda membutuhkan kondisi pantai yang lebih terlindungi agar punya peluang tumbuh. Namun, angka bibit yang ditanam bukan ukuran keberhasilan akhir. Tolok ukurnya adalah apakah mangrove bertahan dan perlindungan itu menjangkau warga yang menghadapi abrasi pantai Demak.
Kegiatan Demonstration Plotting Perlindungan Pantai Utara Jawa tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa Didit Herdiawan Ashaf, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Corporate Secretary BRI Dhanny, dan Bupati Demak Eisti’anah. Kehadiran para pejabat memberi bobot pada inisiatif ini, tetapi koordinasi dan pemeliharaan di lapangan tetap yang akan menentukan hasilnya.
Sampah diubah menjadi bagian dari perlindungan
Nilai lebih program ini adalah upaya menghubungkan persoalan sampah dengan kebutuhan perlindungan pantai. Di Desa Berahan Kulon, BRI Peduli menyediakan rumah produksi di tempat penampungan sementara untuk mengolah sampah menjadi produk yang berguna, termasuk Eco Hex Brick sebagai bahan penyusun pemecah ombak sampah. Program itu menghasilkan 5.000 unit Eco Hex Brick untuk membangun 28 menara pemecah ombak dengan susunan sepanjang 100 meter. Struktur tersebut dirancang untuk meredam energi gelombang dan membantu sedimen mengendap, sehingga mendukung pemulihan ekosistem mangrove. Ini pendekatan yang patut diperhatikan karena sampah tidak hanya diperlakukan sebagai masalah pembuangan, tetapi juga sebagai bahan dalam upaya perlindungan. Meski demikian, pemanfaatan sampah menjadi konstruksi tidak menggantikan kebutuhan mengurangi sampah dari sumbernya dan menjaga agar material yang digunakan sesuai fungsi.
Risiko di Demak datang dari beberapa tekanan sekaligus: kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dataran pesisir yang rendah, alih fungsi lahan mangrove, eksploitasi air tanah yang memicu penurunan muka tanah, serta sampah plastik yang menyumbat saluran irigasi. Dampaknya dapat mengenai permukiman, lahan produktif, infrastruktur, dan penghidupan warga. Karena itu, strategi yang memadukan mangrove dan struktur pemecah ombak menjawab sebagian kebutuhan, tetapi tidak menghapus penyebab kerentanan lainnya.
Manfaat lingkungan perlu berjalan bersama manfaat warga
Perlindungan pesisir akan lebih berarti jika masyarakat ikut memperoleh manfaat, bukan hanya menjadi penerima hasil proyek. Produksi Eco Hex Brick melibatkan warga dan membuka peluang pekerjaan serta penghasilan di kawasan pesisir. Ketua Kelompok Tani Barokah, Matsaeri, menyampaikan harapan bahwa perlindungan pantai dapat mengurangi kekhawatiran warga terhadap abrasi dan keterlibatan dalam produksi memberi pekerjaan bagi masyarakat. Hubungan antara pemulihan lingkungan dan penghidupan ini penting: dukungan warga lebih mungkin tumbuh ketika program memberikan manfaat yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sumber yang tersedia tidak memuat rincian tentang keberlanjutan pekerjaan ataupun pemeliharaan struktur, sehingga dampak jangka panjangnya belum bisa dinilai dari jumlah produk dan menara saja.
Dhanny menyebut tanggung jawab sosial dan lingkungan BRI sebagai kontribusi untuk merespons perubahan iklim serta mendukung pembangunan inklusif dan berkelanjutan. Pernyataan itu sejalan dengan arah program, tetapi klaim keberlanjutan harus diuji melalui hasil di lapangan: bibit yang hidup, pantai yang lebih terlindungi, dan keterlibatan warga yang memberi manfaat nyata. Sejak diluncurkan pada 2023, program BRI Menanam – Grow & Green telah menanam lebih dari 155 ribu bibit pohon, dengan potensi serapan emisi sebesar 54,77 ton CO₂e. Angka tersebut memberi gambaran skala program, bukan bukti tersendiri bahwa kerentanan pesisir Demak sudah teratasi.
Ukuran keberhasilan ada pada ketahanan pesisir
BRI Peduli mangrove menawarkan gagasan yang tepat arah: memulihkan mangrove, meredam gelombang, memanfaatkan sampah, dan membuka peran ekonomi bagi warga. Kekuatan utamanya ada pada penggabungan langkah-langkah tersebut, bukan pada satu angka penanaman atau satu struktur pemecah ombak. Demak menghadapi abrasi, banjir rob, dan penurunan muka tanah yang dipengaruhi beragam faktor; tidak ada satu intervensi yang dapat menyelesaikan semuanya. Program ini patut dipandang sebagai bagian dari respons terhadap perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan, sekaligus dinilai berdasarkan dampak nyata bagi ekosistem dan masyarakat. Kesimpulannya, mangrove dan sampah dapat menjadi benteng baru pesisir Demak apabila perlindungan itu bertahan, manfaatnya dirasakan warga, dan penanganan penyebab kerentanan pesisir tidak berhenti pada proyek penanaman.






