Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mesin Usang dan Krisis Gas: Ancaman Serius bagi Daya Saing Tekstil

Mesin Usang dan Krisis Gas: Ancaman Serius bagi Daya Saing Tekstil
Minat|Industri Fashion

Tekstil sebagai Lokomotif IKFT yang Terhambat Mesin Usang

Krisis daya saing tekstil adalah kondisi ketika industri tekstil dan produk tekstil tidak mampu mengikuti laju teknologi, efisiensi energi, dan produktivitas pesaing global sehingga biaya produksi membengkak, ekspor melemah, dan serapan tenaga kerja terancam, meski permintaan pasar dunia untuk produk tekstil masih tumbuh dan target pertumbuhan tinggi sudah ditetapkan pemerintah sebagai acuan kebijakan industri hingga 2029. Di balik retorika ambisius pertumbuhan ekonomi 8 persen dan target sektor kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) tumbuh 7,85 persen dengan kontribusi PDB 4,35 persen, ada masalah struktural yang terlalu lama ditoleransi: mesin tekstil usang dan krisis pasokan gas. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji terang‑terangan mengakui rata‑rata usia mesin TPT sudah lebih dari 20 tahun. Selama dua penghambat utama ini tak dibongkar, modernisasi pabrik tekstil akan berjalan setengah hati dan target IKFT berubah dari peluang emas menjadi beban kebijakan.

Mesin Usang dan Krisis Gas: Ancaman Serius bagi Daya Saing Tekstil

Kalah Canggih dari China: Harga Mahal dari Mesin Tekstil Usang

Fakta paling mencolok dari industri tekstil Indonesia hari ini adalah kesenjangan teknologi dibandingkan China. Menperin sudah mengingatkan, tanpa modernisasi, TPT akan semakin sulit bertahan dan bersaing dengan negara lain, khususnya Tiongkok, yang telah menggunakan teknologi produksi lebih maju. Mesin tekstil usang bukan sekadar soal umur; ia berarti kapasitas terpasang yang tak optimal, konsumsi energi tinggi, downtime lebih sering, dan kualitas produk yang sulit konsisten. Tidak heran biaya produksi bengkak dan produk lokal kalah harga dari impor. Ironisnya, secara angka makro kinerja masih tampak menjanjikan: pada Triwulan II, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36 persen, sementara kulit dan alas kaki 11,30 persen. Kutipan pentingnya jelas: "Rata-rata usia mesin industri TPT di Indonesia sudah lebih dari 20 tahun". Pertumbuhan ini ibarat berlari dengan sepatu berat; ada potensi lebih besar yang terbuang karena enggan mengakui bahwa lini produksi harus diremajakan, bukan sekadar ditambal.

Krisis Pasokan Gas: Energi Murah di Atas Kertas, Mahal di Lini Produksi

Jika mesin tekstil usang adalah hambatan di sisi teknologi, krisis pasokan gas adalah jerat di sisi energi. Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) didesain menekan biaya produksi, tetapi realitasnya masih jauh dari ideal. Evaluasi menunjukkan banyak industri baru menerima 60–70 persen dari alokasi gas yang seharusnya. Tanpa kepastian volume, kontinuitas, dan infrastruktur distribusi yang memadai, kalkulasi efisiensi energi menjadi sekadar angka di presentasi, bukan kenyataan di lantai pabrik. Tekstil adalah sektor padat karya yang sangat bergantung pada energi stabil; ketika pasokan gas terputus atau berkurang, pabrik dipaksa menurunkan kapasitas, memindah beban ke sumber energi lebih mahal, atau menunda order. Daya saing tekstil pun terkikis dua kali: dari sisi teknologi yang tertinggal dan dari biaya energi yang tak pasti. Menperin mendorong optimalisasi HGBT, tetapi tanpa disiplin eksekusi di rantai pasok gas, kebijakan ini akan berhenti sebagai slogan hemat energi.

Modernisasi Pabrik Tekstil: Dari Restrukturisasi Mesin ke Peta Jalan Energi

Kabar baiknya, pemerintah tidak sepenuhnya menutup mata. Kementerian Perindustrian menyiapkan program restrukturisasi mesin dan peralatan industri TPT, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), penguatan akses pembiayaan, dan perlindungan pasar domestik. Modernisasi pabrik tekstil direncanakan bertahap agar tidak mengganggu produksi dan memicu PHK. Di atas kertas, strategi ini masuk akal: menyegarkan lini produksi sambil menjaga serapan tenaga kerja TPT yang ditargetkan naik dari 3,95 juta orang pada 2026 menjadi 4,07 juta pada 2029. Namun modernisasi infrastruktur energi harus berjalan seiring. Wamenperin Faisol Riza menegaskan perlunya target konkret hingga 2029, termasuk persentase kebutuhan bahan baku dan energi yang harus dipenuhi dari dalam negeri. Kutipan yang layak dicatat: sektor IKFT ditargetkan menyumbang 4,35 persen PDB dan 18,66 persen ekspor pada 2029. Angka setinggi ini tidak akan tercapai jika gas tetap tersendat dan mesin produksi hanya ganti kosmetik.

Kesimpulan: Tanpa Keberanian Meremajakan, Target IKFT Hanya Angka

Inti persoalannya sederhana namun tidak nyaman: daya saing tekstil tidak akan pulih jika mesin tua dibiarkan dan krisis pasokan gas dianggap masalah teknis sesaat. Ambisi menjadikan IKFT motor nilai tambah, ekspor, investasi, dan lapangan kerja membutuhkan keberanian politik dan bisnis untuk mengganti lini produksi yang tidak efisien, bukan sekadar memberi insentif di pinggir. Modernisasi pabrik tekstil harus dimaknai sebagai transformasi menyeluruh—dari teknologi produksi, pemanfaatan serat rayon sebagai keunggulan nasional, sampai tata kelola energi yang menjamin kepastian pasokan. Jika restrukturisasi mesin, penguatan HGBT, dan peta jalan bahan baku dijalankan konsisten, target pertumbuhan ekonomi 8 persen dan lompatan IKFT bukan utopia. Tanpa itu, angka PDB dan ekspor tinggal menjadi poster optimisme, sementara di lantai pabrik, operator terus memaksa mesin berumur dua dekade untuk bersaing di abad baru.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!