Pameran Kulit, Tekstil, dan Garmen Angkat Daya Saing Fesyen Lokal

Pameran Kulit, Tekstil, dan Garmen Angkat Daya Saing Fesyen Lokal
Minat|Tren Fashion

Pameran fashion internasional sebagai mesin percepatan industri fesyen lokal

Pameran fashion internasional berupa ajang terkurasi yang mempertemukan produsen, pemasok, desainer, UMKM, investor, dan buyer lintas negara untuk mempromosikan produk, bertukar teknologi, serta membuka peluang bisnis baru, sehingga ekosistem industri fesyen lokal dapat naik kelas dan lebih siap bersaing di pasar global. Indo Leather & Footwear (ILF) dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo memotret dengan jelas peran strategis pameran seperti ini: bukan sekadar ruang promosi, tetapi arena penajaman daya saing kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen di tengah kompetisi global yang semakin ketat. Dengan kehadiran ratusan peserta dan puluhan pelaku UMKM, sinyalnya tegas: tanpa panggung internasional, ambisi menjadi pemain besar hanya akan berhenti pada slogan.

Pameran Kulit, Tekstil, dan Garmen Angkat Daya Saing Fesyen Lokal

ILF dan IGT Expo: dari panggung promosi ke penguatan daya saing

ILF dan IGT Expo adalah contoh nyata bagaimana pameran fashion internasional berubah menjadi alat strategis industrial, bukan seremoni tahunan semata. Pameran yang sudah memasuki penyelenggaraan ke-19 ini digelar di JIExpo Kemayoran dan dibuka langsung oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, penanda bahwa agenda penguatan daya saing bukan urusan pinggiran. Menurut CEO Krista Exhibitions Group, Daud D. Salim, ILF dan IGT Expo menghadirkan 210 peserta, termasuk 50 pelaku UMKM, serta perusahaan dari 14 negara, sebuah komposisi yang memperlihatkan kepercayaan global terhadap potensi manufaktur lokal. Kutipan ini penting karena angka dan skala partisipan menentukan kualitas jejaring yang tercipta: semakin beragam negara, semakin luas peluang ekosistem ekspor produk tekstil dan garmen untuk terkoneksi dengan rantai pasok internasional.

Nilai tambah utama ILF dan IGT bukan pada keramaian booth, tetapi pada desain ekosistemnya. Produsen, pemasok, distributor, investor, hingga buyer dipertemukan dalam satu arena yang secara sadar diarahkan pada pencarian peluang bisnis baru. Forum diskusi yang membahas transformasi digital, modernisasi produksi, material ramah lingkungan, hingga penguatan rantai pasok menegaskan orientasi masa depan: industri kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen harus adaptif dan berkelanjutan jika ingin bertahan dalam kompetisi global. Di sini, pameran menjadi laboratorium strategi, bukan etalase statis. Pelaku industri fesyen lokal dapat menguji respons pasar, mempelajari teknologi terbaru, dan merumuskan ulang posisi mereka dalam rantai nilai internasional.

Kolaborasi lintas segmen: ekosistem yang melahirkan UMKM fashion global

Kekuatan ILF dan IGT Expo justru terletak pada kolaborasi lintas segmen yang didorong secara sistematis. Pameran ini tidak berhenti pada transaksi jual beli, tetapi memfasilitasi Business Matching melalui kegiatan seperti Networking Cocktail Dinner yang mempertemukan peserta dengan buyer, investor, asosiasi, dan mitra industri. Agenda seperti Seminar Nasional AGTI dan ILF–IGT Manufacturing Forum menghubungkan pemerintah, akademisi, asosiasi, dan pelaku usaha dengan tema yang sangat ambisius: “Jaya di Pasar Domestik, Unggul di Pasar Global”. Ini menunjukkan bahwa ekspor produk tekstil dan garmen dipandang sebagai tujuan realistis, selama seluruh mata rantai — dari bahan baku hingga desain fesyen — dibangun dalam kerangka kolaboratif. The Fashion Show yang menampilkan karya terbaru kulit, alas kaki, tekstil, dan fesyen nasional melengkapi ekosistem ini dengan dimensi kreatif yang langsung bersentuhan dengan selera pasar global.

Indonesia Fashion Week dan lompatan UMKM perhiasan handmade

Ekosistem industri fesyen lokal tidak akan lengkap tanpa mata rantai UMKM dan sektor kreatif yang menggarap produk bernilai cerita, seperti perhiasan handmade. Di ajang Indonesia Fashion Week, perhiasan berbahan batu alam khas Bengkulu dari UMKM binaan Matahari Handycraft dengan merek Besolek tampil untuk pertama kalinya, membawa identitas daerah ke panggung mode nasional. Di stand Pertamina, Besolek menampilkan sekitar 750 koleksi perhiasan dan aksesori handmade, dari bros hingga tali kacamata, seluruhnya menggunakan batu Rafflesia, teratai, lumut, jasper, dan druzzy yang coraknya alami dan unik. Selama lima hari, Besolek membukukan transaksi sekitar Rp40 juta dan menerima banyak permintaan pre-order, bukti bahwa kerajinan lokal mampu memantik minat pasar ketika diberi platform yang tepat.

Kisah Besolek menegaskan bahwa UMKM fashion global tidak lahir secara instan, tetapi melalui pendampingan dan akses panggung berkelanjutan. Sejak menjadi UMKM binaan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel pada 2024, Besolek mendapatkan pendampingan pengembangan usaha, pelatihan kapasitas, fasilitasi promosi, dan kesempatan tampil di berbagai pameran nasional seperti INACRAFT, SMEXPO, dan Indonesia Fashion Week. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menegaskan bahwa pembinaan UMKM tidak hanya soal kualitas produk, tetapi juga pembukaan akses pasar dan jejaring usaha. Harapan agar pengalaman di Indonesia Fashion Week menjadi langkah awal memperluas pasar sekaligus menginspirasi UMKM lain menunjukkan bahwa panggung mode bukan sekadar ajang pamer, melainkan alat mobilitas sosial dan ekonomi bagi pengrajin lokal.

Kesimpulan: tanpa panggung global, ambisi fesyen lokal akan mandek

Jika industri fesyen lokal ingin berbicara di pentas dunia, pameran fashion internasional dan ajang mode nasional harus diperlakukan sebagai infrastruktur strategis, bukan acara musiman. ILF dan IGT Expo menunjukkan bahwa ketika produsen, UMKM, asosiasi, dan pemerintah duduk dalam satu meja, lahir ekosistem yang mampu mendorong kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen menjadi pemain penting dalam rantai pasok global. Di sisi lain, pengalaman Besolek di Indonesia Fashion Week membuktikan bahwa UMKM perhiasan handmade bisa menembus pasar yang lebih luas dan mencatat transaksi signifikan ketika mendapat akses yang terstruktur. Tanpa kombinasi panggung internasional dan platform nasional yang inklusif, industri fesyen lokal akan terus menjadi penonton. Dengan keduanya, pintu menuju posisi sebagai UMKM fashion global terbuka jauh lebih lebar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!