Jangan takut, tetapi jangan menyerahkan kendali
Kecerdasan artifisial (AI) adalah teknologi yang meniru atau menjalankan kemampuan tertentu melalui sistem komputasi, tetapi tidak memiliki hati nurani dan tidak seharusnya mengambil keputusan akhir menggantikan manusia. Pesan itu penting di tengah kemajuan AI yang makin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Pada Indonesia Youth Summit 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat, Staf Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad mengajak peserta agar tidak takut menghadapi teknologi tersebut. Ia menunjuk film dan serial pendek di media sosial yang tokohnya diperankan figur AI sebagai contoh perubahan yang memicu kekhawatiran di kalangan pembuat film dan konten. Namun, ketakutan bukanlah strategi. Raffi mengingatkan bahwa AI dibuat manusia dan tidak memiliki hati; manusia tetap membawa nurani, pengalaman, dan maksud ketika berkarya. Karena itu, ajakannya untuk terus belajar dan berkarya dengan hati bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan dorongan agar manusia tidak kehilangan perannya.

AI tak punya tanah air, manusia menentukan batas
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan di hadapan ribuan anak muda pada Indonesia Youth Summit 2026 bahwa keputusan akhir tentang teknologi harus berada di tangan manusia. AI, katanya, tidak memiliki tanah air; manusia tetap harus memimpin penggunaannya, dengan empati dan cinta tanah air sebagai nilai yang tak dapat digantikan. Pernyataan ini bukan sekadar seruan patriotik. Ia menggarisbawahi bahwa sistem AI dibentuk oleh data dan pilihan manusia, sehingga bias dalam bahan pelatihan dapat menghasilkan jawaban yang timpang. Meutya memperingatkan bahwa jika data hanya bersumber dari Jakarta atau Pulau Jawa, teknologi bisa kurang akurat dan gagal mewakili keragaman warga. Algoritma pun tidak boleh menyeragamkan cara masyarakat dari Sabang sampai Merauke melihat dunia. Peran manusia dalam AI karena itu bukan hanya mengoperasikan alat, tetapi juga mempertanyakan siapa yang diwakili, siapa yang dirugikan, dan siapa yang bertanggung jawab atas hasilnya.
Dari pengguna menjadi pencipta solusi
Generasi muda dan AI seharusnya bertemu dalam posisi aktif: anak muda bukan hanya konsumen produk jadi, melainkan turut merancang tujuan dan aturan pemakaiannya. Meutya mengajak mereka memikirkan apakah negeri ini akan terus menjadi pengguna teknologi buatan pihak lain atau ikut menciptakan pengetahuan dan solusi bagi dunia. Dorongan itu masuk akal di tengah perubahan kerja yang diperkirakan menghapus 92 juta pekerjaan lama sekaligus menghadirkan 170 juta pekerjaan baru pada 2030. Artinya, kemampuan teknis perlu berjalan bersama kecakapan berpikir kritis, kreativitas, dan tanggung jawab. Peserta IYS 2026—160 orang terpilih dari berbagai provinsi—menjalani pembinaan sekitar 10 hari melalui diskusi, eksplorasi teknologi, kegiatan digitalisasi, debat, dan ruang ekspresi kreatif. Ruang belajar semacam ini perlu diteruskan menjadi tindakan nyata: menguji keluaran AI, mengenali bias, menjaga privasi, serta membangun alat yang menjawab kebutuhan komunitas sendiri.
Inovasi harus sejalan dengan perlindungan
Pemanfaatan AI yang baik tidak diukur dari seberapa cepat teknologi tumbuh, tetapi dari apakah manfaatnya merata dan risikonya ditangani. Meutya menyebut tiga arah transformasi digital: terhubung, bertumbuh, dan terjaga. Pertumbuhan ekonomi tidak layak dikejar jika anak-anak terpapar pornografi atau judi daring, atau jika teknologi memperuncing perpecahan. Pemerintah, menurut sumber, tengah memfinalisasi Peraturan Presiden tentang Etika AI dan Peta Jalan AI; sementara Garuda Spark Innovation Hub telah membina 10 pusat inovasi, merangkul 15.700 talenta, dan memfasilitasi 80 perusahaan rintisan. Kebijakan penting, tetapi tak akan cukup tanpa keterlibatan warga muda yang berani menguji, mengkritik, dan ikut menentukan standar. Mereka perlu menuntut sistem yang aman, adil, dan mewakili keragaman, sembari memakai AI untuk memperluas kemampuan manusia, bukan menghapus tanggung jawabnya.
Kendali manusia adalah pilihan yang harus dijaga
Ajakan Raffi agar anak muda tidak takut dan penegasan Meutya tentang kendali manusia saling melengkapi. Kemajuan AI bukan alasan untuk mundur, tetapi juga bukan dalih untuk menyerahkan keputusan kepada mesin. Sikap yang tepat adalah belajar menggunakan teknologi, memahami batas dan biasnya, lalu memastikan manfaatnya menjawab kebutuhan masyarakat tanpa mengorbankan keselamatan, martabat, atau keberagaman. Di sinilah generasi muda dapat menentukan arah: menjadi pencipta solusi, bukan sekadar pengguna; mengajukan pertanyaan kritis, bukan menerima keluaran AI tanpa pemeriksaan; dan mempertahankan empati sebagai ukuran keberhasilan. AI mungkin mampu menghasilkan karya atau rekomendasi, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas tujuan, dampak, dan keputusan akhirnya. Masa depan teknologi yang berpihak pada masyarakat tidak akan muncul otomatis—ia harus dibentuk oleh manusia yang berani memimpin.






