Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Event di Stasiun MRT Bisa Mengganda 8 Kali: Mesin Baru Ekonomi Kota

Event di Stasiun MRT Bisa Mengganda 8 Kali: Mesin Baru Ekonomi Kota
Minat|Asia Tenggara

Event di Kawasan MRT: Dari Ruang Transit Menjadi Mesin Ekonomi

Multiplier effect ekonomi dari event di sekitar stasiun MRT adalah fenomena ketika satu kegiatan, seperti konser atau festival, memicu rangkaian transaksi lanjutan di berbagai sektor sehingga nilai perputaran uang total bisa mencapai empat hingga delapan kali lipat dari transaksi awal, menjadikan kawasan transit bukan sekadar titik perpindahan, melainkan mesin penggerak ekonomi perkotaan.

PT MRT Jakarta (Perseroda) menyatakan bahwa kegiatan ekonomi kreatif dan konser yang diselenggarakan di kawasan transit oriented development (TOD) mampu mengangkat ekonomi kawasan berkali lipat. Ini bukan klaim abstrak; dalam satu program resmi, pernyataan itu dipaparkan oleh Division Head Business Planning and Expansion MRT Jakarta, R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo, pada MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta. Intinya: stasiun dan sekitarnya diposisikan sebagai panggung aktivitas, bukan hanya tempat naik turun kereta. Event dampak ekonomi yang dihasilkan bukan berhenti di tiket, tetapi menyebar ke transportasi, kuliner, retail, hotel, dan wisata. Jika sebelumnya stasiun dianggap biaya operasional, pendekatan ini menempatkannya sebagai aset produktif.

Membaca Angka: Dari Rp10 Miliar Menjadi Rp50 Miliar, dari Festival ke GBK

Kuncinya ada pada multiplier effect ekonomi. MRT Jakarta mengacu pada studi yang menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi kreatif dan MICE dapat menimbulkan efek empat hingga lima kali dari nilai transaksi utamanya. "Apabila sebuah kegiatan menghasilkan transaksi Rp10 miliar, dampak terhadap ekonomi kawasan dapat mencapai sekitar Rp40 miliar hingga Rp50 miliar" — angka yang menunjukkan betapa besar efek domino satu event. Artinya, uang tidak berhenti di kas promotor, tetapi berputar di taksi, ojek, restoran, pusat belanja, hingga usaha kecil di sekitar.

Festival kawasan pun dihitung mampu memutar ekonomi sekitar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar selama penyelenggaraan. Namun lonjakan paling dramatis tampak pada kawasan premium seperti Gelora Bung Karno. Berdasarkan kajian bersama, konser di sekitar GBK disebut menghasilkan multiplier effect sekitar tujuh hingga delapan kali lipat, dengan dampak ekonomi tembus hingga sekitar Rp80 miliar per event. Untuk event berskala internasional di Stadion Utama GBK, efeknya bahkan diperkirakan mencapai Rp70 miliar hingga Rp100 miliar. Di sini terlihat jelas: ketika infrastruktur, hotel, pusat belanja, dan transportasi publik terkonsentrasi, satu event berubah menjadi mesin uang multi-sektor.

Placemaking Stasiun MRT: Ruang Ketiga, Bukan Sekadar Peron

Placemaking stasiun MRT adalah strategi mengubah area sekitar stasiun dari ruang transit pasif menjadi ruang ketiga: tempat orang sengaja datang, berkumpul, dan bertransaksi karena kawasan tersebut punya identitas, tema, dan aktivitas yang menarik. Ini jauh melampaui sekadar mempercantik trotoar. MRT Jakarta mendorong pengembangan kawasan stasiun melalui TOD dan placemaking untuk menciptakan aktivitas ekonomi lebih luas, sambil memperluas sumber pendapatan di luar penjualan tiket.

Menurut R. Samuel Ryan Pradipta, placemaking harus memberi sense of place yang jelas dan inklusif, sehingga orang punya alasan bertahan lebih lama di kawasan tersebut. Dengan kata lain, keberhasilan event dampak ekonomi tergantung pada seberapa baik kawasan disiapkan sebagai ruang ketiga: tersedia tempat komunitas, retail, UMKM, destinasi wisata, dan fasilitas publik yang nyaman. MRT Jakarta bahkan memetakan karakteristik kawasan dalam radius sekitar 800 meter dari stasiun untuk memahami potensi bisnis dan sosial yang bisa dihidupkan. Tanpa desain ruang yang seperti ini, multiplier effect akan berhenti di pintu keluar stasiun.

Blok M, Kota Tua, dan Glodok: Laboratorium Pengembangan Kawasan Jakarta

Pengembangan kawasan Jakarta melalui MRT tidak berjalan acak; ada laboratorium nyata yang sedang dibangun. Blok M sudah lebih dulu dikenalkan sebagai contoh awal placemaking yang menghidupkan kembali kawasan sekitar stasiun dengan event, retail, dan aktivitas komunitas. Di sini, strategi TOD dan ruang ketiga diterapkan untuk menguji bagaimana kombinasi transportasi massal dan kegiatan ekonomi kreatif bisa meningkatkan transaksi pelaku usaha lokal secara berkelanjutan. Pemerintah daerah kemudian menilai tidak hanya besarnya event, tetapi seberapa besar kenaikan transaksi di seluruh kawasan.

Langkah berikutnya jauh lebih ambisius: konsep placemaking akan diterapkan pada Kota Tua, seiring pembangunan MRT Fase 2 dari Bundaran HI ke arah Kota. Setelah Blok M, MRT Jakarta juga menyiapkan pengembangan serupa di Kota Tua dan Glodok, dua kawasan strategis dengan warisan sejarah dan potensi wisata tinggi. Melalui event, retail, UMKM, komunitas, dan aktivitas wisata, kawasan sekitar stasiun disiapkan menjadi ruang yang mampu menciptakan perputaran ekonomi secara berkelanjutan. Jika dilakukan konsisten, Kota Tua dan Glodok bukan sekadar tujuan wisata akhir pekan, tetapi pusat ekonomi lokal yang hidup setiap hari berkat integrasi transportasi dan placemaking stasiun MRT.

Konsekuensi bagi Warga dan Pelaku Usaha: Siapa Paling Diuntungkan?

Dari sudut pandang warga, multiplier effect ekonomi dari event di kawasan MRT berarti pengalaman kota yang lebih kaya. Pengunjung tidak lagi datang hanya untuk menonton konser atau menghadiri konferensi, tetapi juga untuk makan di restoran, belanja di pusat ritel, menginap di hotel, dan melakukan aktivitas wisata lain di sekitarnya. Aktivitas ini menggerakkan sektor kuliner, ritel, hingga perhotelan, memperluas peluang penghasilan bagi pekerja dan pelaku usaha kecil. Ruang ketiga yang nyaman memberi alternatif selain rumah dan kantor, membuka peluang interaksi sosial baru.

Bagi pelaku usaha, terutama UMKM, event dampak ekonomi di sekitar stasiun bisa menjadi loncatan omzet tanpa perlu berpindah kota. Satu festival kawasan saja diperkirakan mampu memutar ekonomi Rp20 miliar hingga Rp30 miliar. Di kawasan premium seperti GBK, event berskala internasional bahkan diperkirakan menghasilkan dampak Rp70 miliar hingga Rp100 miliar per penyelenggaraan. Namun ada catatan penting: jika penataan ruang dan regulasi tidak memastikan inklusivitas, manfaat ini berisiko terkonsentrasi pada pemain besar. Artinya, keberhasilan placemaking stasiun MRT harus diukur bukan hanya dari nilai rupiah, tetapi dari sejauh mana ia memperluas akses kesempatan bagi warga sekitar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!