Literasi AI Bukan Lagi Pelengkap, tapi Syarat Baru Dunia Usaha
Program literasi AI adalah rangkaian pembelajaran terstruktur yang mengajarkan pemahaman, etika, dan praktik pemanfaatan kecerdasan buatan untuk kebutuhan nyata, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga transformasi digital bisnis, dengan fokus pada penggunaan yang produktif, bertanggung jawab, dan relevan dengan konteks lokal. Tingkat adopsi AI yang sudah mencapai 92% menunjukkan bahwa gap bukan lagi soal ketersediaan teknologi, tetapi siapa yang cukup cakap memakainya secara cerdas dan aman. Di titik inilah Telkom AI Center mengambil posisi tegas: AI tidak boleh berhenti sebagai jargon, melainkan menjadi keterampilan praktis dari ruang kelas, pesantren, sampai UMKM.
Alih-alih menunggu perubahan, Telkom AI Center menggelar beragam program literasi AI yang menyasar pelaku usaha kecil, pelajar, dan pendidik. Pendekatannya jelas opinatif: pelaku usaha dan institusi pendidikan yang masih bertahan dengan pola lama akan tertinggal dari kompetitor yang lebih cepat mengadopsi AI sebagai bagian dari workflow sehari-hari.
AI untuk UMKM: Dari Brosur ke Konten Instagram Berbasis Data
Transformasi digital bisnis untuk UMKM tidak akan terjadi jika pemasaran tetap berhenti pada brosur dan poster fisik. Melalui “AI Clinic for Business: Ngonten di Instagram Lebih Mudah dengan AI”, Telkom AI Center Makassar mengumpulkan 29 pelaku UMKM, startup founder, dan mahasiswa untuk praktik langsung membuat konten promosi Instagram dengan bantuan AI. Ini bukan kelas teori; peserta membawa perangkat kerja sendiri dan diarahkan merancang kampanye digital, menulis copywriting, hingga menghasilkan materi visual secara cepat dan aplikatif.
Pendekatan ini secara terang menantang pola pemasaran konvensional. AI untuk UMKM ditawarkan sebagai alat kerja sehari-hari, bukan mainan eksperimen. Program literasi AI ini mengajarkan bahwa konten tidak lagi dibuat berdasarkan intuisi semata, tetapi bisa dimatangkan lewat analisis dan otomatisasi yang disediakan tools AI. Program daring AI Upskilling Productivity for Business & SME kemudian memperluas dampaknya ke lebih dari 35 peserta dari berbagai kota, dengan fokus bagaimana AI ikut masuk ke workflow bisnis, bukan sekadar ikut tren.

Dari Pesantren ke Kelas Digital: AI for Everyone yang Benar-Benar Praktik
Di Malang, Telkom AI Center membuktikan bahwa literasi AI tidak eksklusif untuk kampus teknologi. Lewat AI for Everyone: Productivity Learning Batch 28 di lingkungan Thursina International Islamic Boarding School, lebih dari 60 peserta diajak mengenal AI melalui praktik langsung. Ini strategi berani: membawa pelatihan generative AI ke pesantren, sehingga santri dan pengajar pesantren tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga kreator yang paham teknologi.
Program ini memadukan Responsible AI dan Generative AI secara seimbang. M. Ziaelfikar Albaba menekankan pentingnya Responsible AI sebagai fondasi etis dalam penggunaan teknologi, sementara Hari Obbie mengajak peserta menggunakan generative AI untuk produktivitas dan proses kreatif. Peserta berlatih memakai ChatGPT, Gemini, Google Flow, CapCut, hingga NotebookLM untuk membuat slide presentasi dan video kreatif. Pendekatan ini mengirim pesan jelas: jika pesantren saja bisa mengintegrasikan AI ke proses belajar, maka institusi lain tidak punya alasan untuk tetap meminggirkannya.

EduMind dan BISA Vokasi: Menghubungkan Kesejahteraan, Sekolah, dan Bisnis
Salah satu kritik terhadap transformasi digital adalah abai pada kesehatan mental. Program EduMind Wellbeing & AI Camp di Makassar menjawab kritik ini dengan kombinasi yang jarang dilakukan: literasi AI dan wellbeing pelajar berjalan bersama. Sebanyak 350 peserta—300 siswa dan 50 guru dari 10 SMA dan SMK—mengikuti kamp ini untuk belajar menggunakan AI secara bijak, kreatif, dan produktif, sekaligus memahami pentingnya kesejahteraan emosional.
Program ini menjadi bagian dari BISA PandAI lewat BISA Vokasi yang fokus pada penerapan teknologi AI dalam pendidikan dan pelatihan vokasi. Di satu sisi, siswa mempraktikkan AI untuk mendukung proses belajar; di sisi lain, guru diperkenalkan dengan platform EduMind yang menyediakan weekly mood check-in dan AI-assisted wellbeing monitoring untuk memantau kondisi psikologis siswa. Ini sinyal kuat bahwa peningkatan kapabilitas digital pelaku usaha masa depan tidak boleh mengorbankan kesehatan mental mereka.

Apa Berikutnya: AI Masuk Workflow, Bukan Sekadar Kurikulum Tambahan
Arah besar dari semua inisiatif ini jelas: AI harus menjadi bagian dari workflow bisnis dan pembelajaran, bukan modul tambahan yang dilupakan setelah pelatihan. Dalam AI Upskilling Productivity for Business & SME, pelaku usaha diajak memulai dari kebutuhan nyata, bukan sekadar fear of missing out teknologi. Studi kasus penerapan AI Agent dalam operasional Qasir.id menunjukkan bahwa AI yang relevan dengan task harian akan lebih mungkin dipertahankan di organisasi.
Telkom AI Center menyatakan harapan agar kolaborasi lintas institusi, komunitas, dan ekosistem terus membuka akses lebih luas untuk program literasi AI yang produktif dan bertanggung jawab. "Telkom akan terus memperkuat kolaborasi bersama sekolah, guru, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan ekosistem pendidikan yang inklusif, sehat, dan siap menghadapi masa depan". Pesan implisitnya: UMKM yang menolak beradaptasi dan institusi pendidikan yang mengabaikan AI berisiko kehilangan relevansi di tengah adopsi AI yang sudah menembus 92%.






