Ambisi 12 kawasan dimulai dari tiga lokasi
Kawasan smart city adalah lingkungan perkotaan yang dirancang terpadu, dengan hunian, layanan publik, dan infrastruktur tersusun sebagai satu kesatuan. Konsep ini lebih luas daripada membangun kumpulan gedung modern: keberhasilannya bergantung pada bagaimana kebutuhan warga dan fungsi kota saling terhubung.
Danantara dan BP BUMN menargetkan peletakan batu pertama 12 kawasan kota masa depan pada Desember 2026, dengan Walini di Jawa Barat, Batang di Jawa Tengah, dan Medan di Sumatera Utara sebagai prioritas awal. Pilihan tiga lokasi itu menandai tahap percontohan, bukan sekadar daftar proyek. Penyusunan master plan dimulai di sana sebelum pengembangan diperluas ke wilayah lain. Ambisi smart city Danantara patut dinilai dari mutu perencanaan dan pelaksanaan, bukan hanya jumlah kawasan yang diumumkan.

Mengapa Walini, Batang, dan Medan didahulukan?
Penetapan Walini Batang Medan sebagai lokasi prioritas memberi Danantara kesempatan membangun contoh sebelum mengembangkan rencana ke wilayah lain. Namun, sumber yang tersedia tidak merinci alasan khusus—seperti kesiapan ekonomi atau keunggulan infrastruktur—yang membuat ketiganya dipilih. Karena itu, prioritas ini lebih tepat dibaca sebagai urutan kerja: master plan disusun lebih dulu di tiga kawasan, sementara Tuban dan Subang turut masuk dalam identifikasi pengembangan lanjutan.
Urutan tersebut masuk akal hanya jika tahap awal menghasilkan pelajaran yang dapat diterapkan pada lokasi berikutnya. Perencanaan setiap kota tetap perlu menyesuaikan kebutuhan setempat; satu rancangan tidak otomatis cocok untuk semua kawasan. Danantara menyebut targetnya membangun kota, bukan fasilitas komersial tunggal—perbedaan yang menuntut organisasi pelaksana dan keahlian perencanaan lebih serius.
Persiapan dipercepat, tetapi kualitas tak boleh dikorbankan
Persiapan proyek kini dipercepat melalui penyiapan lahan, pembentukan tim pelaksana, dan penyusunan rencana induk. Tahap berikutnya adalah mengejar target groundbreaking Desember 2026, sementara peninjauan wilayah lain seperti Tuban dan Subang direncanakan setelah tiga master plan awal disusun. Jadwal ini memberi dorongan agar proyek bergerak, tetapi bukan alasan untuk memangkas ketelitian.
COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria menekankan bahwa proyek dengan investasi besar dan kompleksitas pembangunan kota membutuhkan tenaga ahli, arsitek kompeten, serta tim pelaksana kuat. Danantara juga menginginkan perencanaan dan desain berkualitas tinggi. Itu adalah syarat penting, bukan jaminan hasil: mutu baru terbukti melalui rencana yang matang, koordinasi lapangan, serta infrastruktur yang benar-benar berfungsi.
Ukuran keberhasilan harus terasa bagi warga
Rancangan 12 kawasan smart city mencakup hunian, universitas, rumah sakit, pusat perbelanjaan, dan infrastruktur perkotaan dengan penataan utilitas yang lebih baik. Konsepnya juga menjanjikan mobilitas terintegrasi dan akses yang lebih mudah ke berbagai fasilitas. Bagi warga, ukuran manfaatnya bukan label “pintar”, melainkan apakah perjalanan harian lebih mudah dan layanan penting benar-benar terjangkau.
Dony sebelumnya menyebut proyek ini juga direncanakan menyediakan rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah, melalui KPR subsidi atau FLPP. Rencana itu penting karena kota baru berisiko menjadi kawasan eksklusif jika hunian terjangkau hanya menjadi tambahan di atas kertas. Agar manfaat pembangunan meluas, akses rumah dan fasilitas perlu menjadi bagian nyata dari perencanaan sejak awal.
Pada akhirnya, target Desember 2026 hanyalah garis awal. Danantara dan BP BUMN perlu menunjukkan bahwa tiga lokasi percontohan dapat menghasilkan kota yang tertata, terhubung, dan berguna bagi beragam kelompok warga sebelum ambisi 12 kawasan diperluas. Jika mutu perencanaan kalah oleh kecepatan mengejar seremoni, proyek ini kehilangan alasan utama untuk disebut kota masa depan.






