Belajar bahasa sekaligus memahami budaya
AIESEC Global Classroom adalah program sukarelawan pendidikan lintas negara yang mempertemukan pemuda dengan siswa untuk belajar bahasa, literasi, dan numerasi sambil bertukar perspektif budaya. Nilai utamanya terletak pada cara belajar yang menghubungkan pelajaran di kelas dengan pengalaman hidup lintas budaya, bukan sekadar menghafal kosakata. Di India, Safa Khairana, Local Committee President AIESEC in Unsri periode 26.27, mengikuti Global Volunteer melalui proyek Global Classroom di Sheffield School pada Juli 2026. Sebagai Cross Cultural Teacher, ia mengajar sekaligus mengenalkan budaya Indonesia kepada para siswa. Perpaduan itu membuat pertukaran budaya pelajar hadir di dalam proses belajar, bukan sebagai acara tambahan. Program ini juga selaras dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Gagasan tersebut patut didukung: pendidikan lintas budaya memberi siswa kesempatan melihat bahasa sebagai jembatan untuk memahami orang lain.
Permainan membuat kelas lebih hidup
Pengalaman Christabel Venusha Simatupang di Vietnam menunjukkan mengapa relawan mengajar bahasa Inggris dapat memberi warna berbeda pada pembelajaran. Mahasiswa Teknik Industri Universitas Airlangga itu menghabiskan sebulan sebagai relawan AIESEC Global Volunteer melalui Global Classroom di Ho Chi Minh City, bekerja bersama VEA English Center. Program tersebut mempertemukan pemuda lintas negara dalam kegiatan pendidikan, dengan fokus pada bahasa Inggris, literasi, dan numerasi. Selama liburan sekolah, Christabel mengajar summer camp dari pukul 07.00 hingga 12.00 dengan permainan yang menggabungkan pengulangan materi dan pengerjaan tugas. Setelah istirahat, ia mengajar kelas reguler pada sore hingga malam. Cara ini bukan sekadar membuat kelas lebih menarik: kegiatan tersebut juga membantu orang tua yang bekerja karena anak-anak tetap belajar dengan aman dan berada dalam pendampingan pengajar. Jadwal dan kebutuhan kelas yang beragam menuntut penyesuaian, bukan satu metode untuk semua.

Nilai pertukaran ada pada kesiapan beradaptasi
Kelas internasional tidak otomatis berjalan mulus. Safa harus menyesuaikan diri dengan bahasa dan kebiasaan setempat, sekaligus belajar sebagai bagian dari komunitas minoritas di sekolah tempatnya mengajar. Sebelum berangkat, ia mempelajari hal-hal yang sebaiknya dilakukan dan dihindari di India serta menyiapkan materi ajar. Pengalaman itu menegaskan bahwa pertukaran budaya pelajar memerlukan rasa ingin tahu sekaligus penghormatan kepada lingkungan tuan rumah. Di Vietnam, tantangan lain muncul dari perbedaan kemampuan siswa: tingkat bahasa Inggris mereka berkisar dari A1 hingga C1. Christabel menyesuaikan pendekatan di tiap kelas, sebuah pengingat bahwa pengajaran lintas budaya bukan soal membawa satu paket pelajaran lalu menerapkannya begitu saja. Kualitas program bergantung pada kemampuan relawan mendengar, membaca kebutuhan siswa, dan mengubah cara mengajar tanpa kehilangan tujuan belajar.
Dampak yang layak diteruskan
Nilai Global Classroom tidak semestinya diukur hanya dari jumlah kelas atau jam mengajar. Dampaknya juga tampak pada pengalaman siswa bertemu pengajar dari negara lain, pada dukungan belajar bagi keluarga, dan pada kemampuan relawan memahami konteks baru. Safa berharap kehadirannya meninggalkan kesan positif bagi siswa dan ingin kembali ke tempat ia menjalani Global Volunteer suatu hari nanti. AIESEC in Unsri juga berharap pengalamannya menginspirasi lebih banyak pemuda di Sumatera Selatan untuk mengambil kesempatan serupa. Kesimpulannya, kelas interaktif AIESEC paling kuat ketika pengajaran bahasa Inggris berjalan beriringan dengan pertukaran budaya dan respons terhadap kebutuhan siswa. Model ini bukan pengganti pendidikan formal, tetapi dapat memperkaya pengalaman belajar dan memperluas perspektif kedua pihak. Karena itu, dukungan bagi relawan, persiapan lintas budaya, dan metode mengajar yang adaptif harus dipandang sebagai bagian penting dari program—bukan urusan sampingan.






