Infrastruktur pertanian harus bekerja sebagai satu sistem
Infrastruktur pertanian adalah jaringan fasilitas yang memungkinkan lahan memperoleh air untuk produksi dan menghubungkan hasil panen dengan pasar secara efisien. Karena itu, pembangunan jalan dan irigasi tidak semestinya dinilai sebagai dua agenda terpisah: keduanya menentukan apakah petani dapat menanam, memanen, lalu menjual hasilnya.
Pemerintah Provinsi Banten menyatakan memperkuat infrastruktur untuk mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani, dengan membangun jaringan irigasi serta akses jalan desa agar hasil pertanian lebih mudah bergerak dari lahan ke pasar. Langkah ini tepat, tetapi ukuran keberhasilannya bukan hanya jumlah proyek. Jalan yang baik dapat memangkas hambatan angkut, sementara irigasi yang andal menjaga lahan tetap produktif. Jika salah satunya tertinggal, manfaat investasi yang lain ikut menyusut. Tantangan Gantar memperlihatkan mengapa pembangunan harus dinilai dari fungsi yang dirasakan petani, bukan semata dari konstruksi yang terlihat.
Jalan desa membuka jalur panen ke pasar
Jalan desa pertanian punya peran yang nyata setelah panen: akses yang lebih baik membantu memperlancar pengangkutan, menekan biaya angkut, dan mempercepat komoditas tiba di pasar. Pemprov Banten membangun 62 ruas jalan dan satu jembatan dengan total panjang 71 kilometer pada 2025. Pekerjaan dilanjutkan pada 2026 dengan 33 ruas jalan desa sepanjang 46,71 kilometer.
Skala pekerjaan itu menunjukkan perhatian pada hambatan distribusi yang kerap menentukan hasil bersih petani. Panen yang sulit keluar dari desa berisiko terlambat mencapai pembeli; jalan yang lebih lancar membuka peluang waktu tempuh dan ongkos angkut yang lebih terkendali. Namun, akses pasar hanya menuntaskan separuh persoalan. Jalan tidak dapat menggantikan air yang dibutuhkan tanaman sebelum panen. Maka, kemajuan jalan patut dipandang sebagai penghubung penting dalam rantai pangan, bukan bukti bahwa seluruh kebutuhan infrastruktur pertanian telah terpenuhi.
Pembangunan irigasi perlu sampai ke petak sawah
Upaya irigasi pertanian Banten mencatat capaian yang terukur. Pada 2025, pemerintah daerah membangun tujuh daerah irigasi sepanjang 6,90 kilometer, yang mampu mengairi 881,28 hektare lahan dengan anggaran Rp48,91 miliar. Dukungan pemerintah pusat melalui program berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 mencakup 12 daerah irigasi sepanjang 81,80 kilometer untuk melayani sekitar 9.259 hektare. Indeks layanan irigasi Banten pun dilaporkan naik dari 52,5 persen menjadi 62,45 persen.
Angka tersebut penting, tetapi cakupan layanan harus diterjemahkan menjadi air yang benar-benar sampai ke lahan. Jaringan yang dibangun di tingkat utama tidak otomatis menyelesaikan persoalan jika saluran penghubung ke sawah belum tersedia atau belum memadai. Karena itu, ukuran kinerja irigasi seharusnya mencakup kesinambungan aliran dan keterjangkauan layanan bagi petani, bukan hanya panjang saluran atau luas lahan yang tercatat dalam program.
Tuntutan Gantar menguji manfaat Bendungan Sadawarna
Petani Gantar mendatangi Bendungan Sadawarna untuk mendesak pemerintah dan pihak terkait merealisasikan saluran yang mengalirkan air ke lahan mereka. Bagi warga Kecamatan Gantar, manfaat bendungan belum dirasakan secara optimal karena jaringan irigasi tersier yang tersambung langsung ke persawahan belum tersedia secara memadai.
Aspirasi Aliansi Petani Gantar Bersatu menyoroti kesenjangan yang tak bisa ditutup dengan besarnya bangunan bendungan: air yang tertampung tidak berguna bagi petani jika tidak terdistribusi ke petak garapan. Ketidakpastian pasokan air menghambat produktivitas panen, sehingga tuntutan atas saluran irigasi Gantar menyangkut penghidupan keluarga, bukan sekadar pekerjaan konstruksi. Sumber yang tersedia tidak merinci dampak kekeringan pada lahan, sehingga persoalan yang dapat dipastikan di sini adalah ketidakpastian pasokan dan keterbatasan jaringan pengalir.
Pembangunan jalan desa dan irigasi harus berjalan beriringan: air menopang produksi, sedangkan jalan membawa hasilnya ke pembeli. Banten telah melanjutkan pembangunan jalan pada 2026, sementara tuntutan petani Gantar masih menunggu tindak lanjut yang terukur. Pemerintah dan pengelola terkait perlu memastikan saluran tersier tersambung serta pasokan dapat diandalkan. Keberhasilan infrastruktur pertanian pada akhirnya bukan soal banyaknya proyek, melainkan apakah petani bisa menanam dengan kepastian dan menjual panen tanpa hambatan yang tak perlu.






