Jangkauan skrining harus terus diperluas
Skrining TBC berbasis AI adalah penggunaan kecerdasan buatan untuk membantu menemukan orang yang mungkin terindikasi tuberkulosis dan perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Teknologi ini menawarkan cara memperluas penyaringan, tetapi tidak menghapus kebutuhan akan layanan diagnosis dan pengobatan yang mudah dijangkau. Sekitar 1,09 juta kasus TBC diperkirakan terjadi setiap tahun, sementara kasus yang belum terdeteksi dan keterlambatan penanganan masih menghambat upaya menekan penularan. Guru Besar dan dokter spesialis paru Erlina Burhan mengatakan keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko penularan di masyarakat. Angka jangkauan skrining yang besar, termasuk klaim bahwa layanan berbasis AI telah menjangkau 2 juta orang, hanya bermakna jika diikuti upaya menemukan mereka yang masih luput. Karena itu, deteksi dini TBC perlu dipandang sebagai pintu masuk ke perawatan, bukan hasil akhir.
AI membantu, tetapi bukan penentu diagnosis
Dalam skrining, AI dapat menganalisis rontgen dada TBC untuk menandai gambaran yang patut diperiksa lebih lanjut. Peran ini berpotensi membantu ketika jumlah tenaga ahli terbatas: lebih banyak orang dapat disaring tanpa menjadikan pembacaan awal sepenuhnya bergantung pada ketersediaan pakar. Namun, hasil analisis AI bukan diagnosis tuberkulosis. Orang yang terindikasi tetap memerlukan pemeriksaan lanjutan dan penilaian tenaga kesehatan untuk menentukan diagnosis serta langkah pengobatan. Batas ini penting ditegaskan agar hasil skrining tidak disalahartikan sebagai kepastian sakit ataupun kepastian bebas TBC. Teknologi dapat mempercepat penemuan dugaan kasus, tetapi tidak menggantikan keputusan klinis dan layanan yang harus menyusul. Tanpa jalur tindak lanjut yang jelas, perluasan skrining berisiko menghasilkan lebih banyak temuan awal tanpa memastikan pasien mendapat jawaban dan perawatan.

Utamakan kelompok berisiko dan akses tindak lanjut
Perluasan skrining sebaiknya mengutamakan orang yang tinggal serumah atau melakukan kontak erat dengan pasien TBC, orang dengan HIV, bayi, anak-anak, lansia, serta mereka yang memiliki kondisi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Sasaran seperti ini membuat upaya aktif lebih terarah, terutama bagi orang yang belum mengenali gejala atau kesulitan mengakses layanan kesehatan. Namun, jumlah orang yang diperiksa bukan ukuran keberhasilan yang cukup. Setiap orang dengan hasil yang mengindikasikan TBC harus memperoleh pemeriksaan diagnostik, penetapan diagnosis yang tepat, dan pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Pemerintah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat perlu memastikan alur tersebut tersedia, termasuk pendampingan pasien. Perluasan skrining tanpa akses tindak lanjut hanya memindahkan hambatan: dari sulit ditemukan menjadi sulit mendapat kepastian dan perawatan.
Teknologi perlu ditopang layanan kesehatan
Target eliminasi TBC pada 2030 menuntut lebih dari alat skrining yang canggih. AI dapat membantu mengatasi keterbatasan tenaga ahli dan memperluas deteksi, tetapi dampaknya bergantung pada infrastruktur, ketersediaan tenaga medis, pemeriksaan diagnostik, dan akses pengobatan. CEO sekaligus pendiri Delft Imaging, Guido Geerts, menekankan perlunya inovasi berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor. Itu berarti teknologi harus disertai penguatan kapasitas lokal dan layanan yang menjangkau komunitas, termasuk wilayah terpencil. Kesimpulannya, skrining TBC AI layak diperluas karena kasus yang belum ditemukan masih menjadi ancaman penularan. Namun, keberhasilan tidak diukur dari jumlah pemindaian atau temuan awal saja: yang menentukan ialah apakah orang yang terindikasi dapat menuntaskan pemeriksaan, menerima diagnosis yang benar, lalu memperoleh pengobatan.






