Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kolaborasi Kampus dan Pemerintah untuk Hilirisasi Komoditas Lampung

Kolaborasi Kampus dan Pemerintah untuk Hilirisasi Komoditas Lampung
Minat|Asia Tenggara

Hilirisasi Komoditas Lampung: Dari Lumbung Pangan ke Mesin Pertumbuhan

Hilirisasi komoditas Lampung adalah strategi mengubah komoditas unggulan daerah seperti padi, jagung, singkong, gaplek, kopi, dan pisang dari sekadar bahan mentah menjadi beragam produk olahan bernilai tambah tinggi, dengan dukungan riset perguruan tinggi, kebijakan pemerintah, dan ekosistem investasi, agar pertumbuhan ekonomi daerah tidak lagi bergantung pada fluktuasi harga komoditas mentah tetapi pada kekuatan industri pengolahan yang kompetitif di pasar regional dan global. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal secara terang menyatakan bahwa mengandalkan kebijakan tata niaga saja adalah strategi jangka pendek yang cepat habis napasnya, meski sementara waktu mampu mendongkrak harga komoditas dan pendapatan petani. Jika Lampung ingin tumbuh di kisaran 8 persen, hilirisasi komoditas Lampung harus ditempatkan sebagai prioritas, bukan pelengkap agenda pembangunan.

Peran Perguruan Tinggi: Dari Menara Gading ke Laboratorium Ekonomi Daerah

Saat menyampaikan Kuliah Umum HANUANG di Universitas Indonesia Mandiri di Lampung Selatan pada 17 September 2026, Gubernur Mirza menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai menara gading pengetahuan. Ia menyoroti bahwa turunan empat komoditas utama—padi, jagung, singkong, dan gaplek—belum dimanfaatkan maksimal karena minim tenaga ahli industri pengolahan hilir. Di sinilah kolaborasi perguruan tinggi ekonomi dengan pemerintah daerah menjadi titik balik: kampus mencetak SDM ahli, menghasilkan penelitian aplikatif dan teknologi proses, sementara pemerintah menciptakan kepastian regulasi dan insentif. "Pemda memegang fungsi kebijakan, sementara perguruan tinggi menyalakan mesin inovasi melalui penelitian," tegas Gubernur. Lampung butuh kampus yang berani turun ke lapangan, menguji prototipe pabrik pengolahan skala desa, menghubungkan petani dengan investor, bukan sekadar menerbitkan jurnal.

Momentum Lampung Begawi x Siger Fest: Ruang Kolaborasi, Bukan Sekadar Panggung Seremonial

Pembukaan Lampung Begawi x Siger Fest di Lampung City Mall pada 18 September 2026 menunjukkan arah baru: festival ekonomi regional dijadikan ruang temu ide, inovasi, investasi, dan kolaborasi lintas sektor. Gubernur Mirza mengakui Lampung punya target pertumbuhan ambisius hingga 8 persen dan tidak bisa mengandalkan kenaikan harga komoditas semata. Dengan produksi gabah menembus 3,5 juta ton dan posisi Lampung sebagai pemasok tapioka, kopi, lada, dan gula, panggung ini seharusnya dimanfaatkan kampus untuk menawarkan solusi hilirisasi komoditas Lampung yang konkret kepada pelaku industri dan perbankan. Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Lampung yang mencapai 5,29 persen pada triwulan II dan mengingatkan bahwa tantangan utama adalah mengubah pertumbuhan tersebut menjadi nilai tambah luas melalui hilirisasi dan investasi. Tanpa komitmen tindak lanjut dari kampus dan pemerintah, Siger Fest hanya akan menambah daftar acara tanpa jejak ekonomi nyata.

Kolaborasi Kampus dan Pemerintah untuk Hilirisasi Komoditas Lampung

Dari Komoditas Unggulan ke Rantai Pasok Global: Tugas Berat Perguruan Tinggi

Selama 15 tahun, pertumbuhan ekonomi Lampung berada di bawah rata-rata nasional, baru kemudian naik menjadi nomor dua tertinggi di Sumatra karena dorongan harga komoditas di era perlindungan Presiden Prabowo. Mengandalkan lonjakan harga adalah permainan berisiko; begitu siklus harga berbalik, petani kembali rentan. Hilirisasi komoditas Lampung yang baru menyentuh sekitar 30 persen dari total komoditas lokal harus diperluas secara agresif. Komoditas unggulan seperti olahan pisang, kopi, dan wastra sudah mulai didorong untuk menembus rantai pasok global, tetapi tanpa peta jalan teknologi dan SDM yang kuat, Lampung hanya akan menjadi pemasok bahan baku murah. Di titik ini, perguruan tinggi perlu mengembangkan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri pengolahan, mendirikan pusat riset komoditas unggulan, dan menjalin kemitraan dengan perbankan serta otoritas moneter yang kini aktif mendorong ekonomi riil. Kampus harus berani menempatkan dirinya sebagai arsitek daya saing global, bukan penonton.

Hilirisasi sebagai Agenda Politik Ekonomi Daerah

Dengan DPK perbankan yang tumbuh hampir 7 persen year-on-year dan lonjakan adopsi alsintan serta armada truk, Lampung sedang berada di fase ekspansi ekonomi yang jarang terjadi. Namun, tanpa hilirisasi, ekspansi ini akan berhenti di fase distribusi komoditas mentah, bukan produksi bernilai tambah. Strategi hilirisasi yang dirancang Gubernur—mulai dari industri pakan ayam lokal hingga pengolahan kopi dan kakao di sentra desa, serta advance downstreaming di kawasan industri—jelas membutuhkan desain politik ekonomi yang berpihak pada industri pengolahan. Ajakan Mirza kepada otoritas moneter pusat dan perbankan untuk mengawal deregulasi perizinan investasi adalah sinyal bahwa pemerintah daerah siap membuka jalan. Kini bola ada di perguruan tinggi: apakah mereka mau menjadikan laboratorium, studio desain produk, dan pusat inovasi sebagai bagian integral dari rantai nilai hilirisasi komoditas Lampung, atau tetap nyaman dengan status quo? Pertumbuhan ekonomi daerah yang kuat hanya mungkin jika kampus, pemerintah, dan dunia usaha bertindak sebagai satu tim.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!