Program Cetak Sawah: Strategi Pangan yang Bergerak ke Timur
Program cetak sawah adalah kebijakan pemerintah untuk membuka dan mengembangkan lahan pertanian baru secara masif guna memperkuat produksi pangan dan swasembada, yang kini digeser ke wilayah timur dengan fokus pada pengembangan infrastruktur pertanian, peningkatan kapasitas petani lokal, serta penataan logistik dan rantai pasok agar lahan yang dibuka benar-benar produktif dan berkelanjutan. Program cetak sawah di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, mendapat alokasi 1.362 hektare pada 2026 sebagai bagian dari strategi memperkuat produksi pangan dan mendukung swasembada pangan nasional. Di saat hampir seluruh ruang daratan di banyak daerah telah padat, ekspansi ke Maluku dan Papua adalah pilihan politis sekaligus ekonomi: pangan nasional ditumpukan pada ruang yang selama ini disebut “belakang”, tapi kini dipaksa menjadi halaman depan. Pertanyaannya, apakah negara siap membayar ongkos sosial dan logistik dari langkah besar ini?
Seram Bagian Timur: Lahan 1.362 Hektare dan Taruhan Irigasi
Alokasi 1.362 hektare lahan cetak sawah di SBT memberi sinyal jelas bahwa pembangunan pertanian Maluku mulai dianggap penting di peta pangan nasional. Bupati Fachri Husni Alkatiri menyebut pelaksanaan program cetak sawah sejauh ini berjalan baik, tetapi menegaskan bahwa persoalan irigasi adalah tantangan utama. Pernyataan ini kunci: tanpa infrastruktur irigasi yang memadai, program cetak sawah mudah berubah menjadi proyek buka lahan sesaat, bukan basis ketahanan pangan jangka panjang. Dengan alokasi tersebut, SBT memang berpeluang memperluas areal produksi pangan dan memperbesar kontribusi terhadap kebutuhan pangan di Maluku. Namun peluang itu bisa hilang bila dukungan infrastruktur pertanian—irigasi, akses jalan, gudang, dan pasar—tak dibangun secepat lahan dibuka. Di sini, koordinasi erat dengan pemerintah pusat yang diakui pemda sebagai peluang besar bukan lagi pilihan, melainkan keharusan politik dan teknis.
Proyek Merauke Papua: Mesin Berat, Tenaga Asing, dan Logistik Terapung
Jika SBT menggantungkan keberhasilan pada irigasi, proyek Merauke Papua Selatan menunjukkan wajah lain program cetak sawah: industrialisasi pertanian besar-besaran dengan ribuan alat berat dan tenaga ahli internasional. Sekitar 2.000 ekskavator didatangkan dari China, sementara tenaga ahli dari China, Jepang, dan Eropa ikut mengerjakan pembukaan lahan di Wanam, Merauke. Ini bukan pendekatan bertahap; ini operasi infrastruktur pertanian yang mengandalkan skala dan kecepatan. Karena wilayahnya minim infrastruktur darat, pengusaha Andi Samsudin Arsyad mengerahkan kapal ekspedisi J7 Explorer sepanjang 120 meter sebagai pusat logistik terapung untuk melancarkan rantai pasok proyek pangan yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Kapal berbobot 8.076 GT buatan Batam, lengkap dengan helipad, dijadikan basis koordinasi dan tempat tinggal tenaga ahli di wilayah yang terisolasi. Ini menunjukkan secara terang: tanpa solusi logistik kreatif, program cetak sawah besar di Papua akan tersandung medan sebelum bicara hasil panen.
Ketahanan Pangan atau Ketergantungan Infrastruktur Impor?
Ada ironi yang sukar diabaikan: demi ketahanan pangan nasional, negara menggantungkan proyek Merauke pada ribuan alat berat impor dan tenaga ahli asing. Bahkan pusat operasionalnya disandarkan pada kapal swasta berlogo kementerian yang mobilitasnya dinyatakan berada di bawah wewenang pemerintah untuk kepentingan pangan, meski kepemilikan tetap privat. Operasi kapal ini tidak hanya di Papua, tapi juga menyentuh Kalimantan dan Sumatera, menandakan pola baru: infrastruktur kritis pangan bisa digerakkan oleh aset swasta dalam orbit kekuasaan negara. Sementara di SBT, kunci keberhasilan justru terletak pada pembangunan irigasi, pendampingan petani, dan pengelolaan lahan berkelanjutan, bukan pada ekskavator dan kapal mewah., Kontras ini menimbulkan pertanyaan tajam: apakah program cetak sawah akan melahirkan kemandirian petani lokal dan infrastruktur pertanian publik, atau mengabadikan ketergantungan pada teknologi, modal, dan logistik yang dikendalikan segelintir pemain besar?
Kesimpulan: Cetak Sawah Harus Mencetak Keadilan, Bukan Sekadar Lahan
Ekspansi program cetak sawah ke Maluku dan Papua adalah langkah berani yang mengakui potensi timur sebagai lumbung pangan baru. Di SBT, penekanan pada irigasi, sarana produksi, pendampingan petani, dan pengelolaan lahan berkelanjutan menunjukkan arah kebijakan yang lebih membumi. Di Merauke, skala proyek dan kompleksitas logistik mengungkap ambisi besar sekaligus risiko konsentrasi kekuasaan teknis dan ekonomi. Logistik dan rantai pasok terbukti menjadi penentu utama: tanpa itu, cetak sawah hanya menjadi angka di atas kertas; dengan itu, risiko ketimpangan dan ketergantungan ikut membesar., Program ini baru pantas disebut sukses bila lahan yang dibuka benar-benar menyejahterakan petani lokal, memantapkan ketahanan pangan, dan tidak menjadikan wilayah timur sekadar laboratorium proyek besar yang manfaatnya mengalir lebih banyak ke pusat dan pemilik alat berat, daripada ke warga yang hidup di sekeliling sawah baru itu.






