KuybeliKuybeli

Ranking Ke-3 Termakmur di ASEAN: Peluang dan PR Besar

Ranking Ke-3 Termakmur di ASEAN: Peluang dan PR Besar
Minat|Asia Tenggara

Legatum Prosperity Index: Apa Artinya Menjadi Peringkat Ke-3?

Legatum Prosperity Index adalah indeks kemakmuran yang menilai kesejahteraan negara bukan hanya dari kekuatan ekonomi, tetapi dari kombinasi pembangunan, kebebasan, dan kualitas hubungan sosial warganya, sehingga memberi gambaran menyeluruh tentang seberapa layak sebuah negara menjadi tempat hidup, bekerja, dan membangun masa depan.

Dalam daftar kemakmuran ASEAN, Singapura berada di posisi pertama dengan skor 83,83, disusul Malaysia dengan 73,03, dan Indonesia di peringkat ketiga dengan skor 66,89. Fakta bahwa Indonesia duduk di tiga besar kemakmuran ASEAN menurut Legatum Prosperity Index menunjukkan dua hal sekaligus: kemajuan nyata di kawasan dan jurang yang masih lebar dibanding negara maju. Secara global, Indonesia baru berada di posisi 64 dari 161 negara. Dengan kata lain, ini bukan garis finish, melainkan titik awal untuk memaknai kemakmuran secara lebih matang: tidak berhenti pada pertumbuhan ekonomi, namun menyentuh kualitas hidup dan kebebasan warga.

Ranking Ke-3 Termakmur di ASEAN: Peluang dan PR Besar

Kekuatan Utama: Pembangunan dan Hubungan Sosial yang Mengakar

Legatum Prosperity Index mengukur kemakmuran melalui tiga pilar utama: pembangunan (development), kebebasan (freedom), dan hubungan sosial (society). Di sinilah gambaran kemakmuran ASEAN mulai terlihat: bukan hanya siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang mampu menyeimbangkan sekolah yang layak, layanan kesehatan, stabilitas penghasilan, ruang kebebasan, dan ketangguhan jaringan sosial.

Dalam domain Pembangunan, skor 69,01 menunjukkan kemajuan yang ditopang kuat oleh pendidikan (81,99), kesehatan (76,47), dan standar hidup (61,08). Pernyataan yang layak dikutip di sini adalah: “Dalam domain Pembangunan, Indonesia meraih skor 69,01; skor ini ditopang oleh pilar Pendidikan 81,99 dan Kesehatan 76,47.” Namun keunggulan paling mencolok datang dari domain Masyarakat dengan skor 70,39. Pilar Komunitas meraih 84,99 dan Keluarga 78,84, tertinggi di antara sembilan negara ASEAN lain. Jaringan komunitas yang kuat ini menjelaskan mengapa ketahanan sosial relatif tinggi meskipun banyak indikator ekonomi belum sebaik negara maju.

Kemakmuran ASEAN: Di Antara Singapura dan Myanmar

Jika melihat peta kemakmuran ASEAN, jarak antarnegara sangat jelas. Singapura memimpin dengan skor 83,83, lalu Malaysia 73,03, Indonesia 66,89, Thailand 65,72, Filipina 63,06, Vietnam 62,48, Timor-Leste 60,70, Kamboja 48,35, Laos 46,37, dan Myanmar 42,76. Dengan komposisi ini, ranking Indonesia bersifat ganda: sebagai negara ke-3 termakmur di ASEAN sekaligus bagian dari kelompok menengah global yang berusaha mengejar.

Secara global, negara paling makmur adalah Swiss dengan skor 91,82, sementara sepuluh besar dunia didominasi negara Barat dan Australia. Artinya, kemakmuran ASEAN masih jauh dari standar tertinggi dunia. Namun posisi ke-3 Indonesia dalam kemakmuran ASEAN menunjukkan daya saing yang tidak bisa dianggap remeh dalam indeks kesejahteraan regional. Selisih skor tipis dengan Thailand dan Vietnam menandakan persaingan kawasan akan semakin ketat, dan stagnasi kebijakan bisa membuat peringkat ini tergeser kapan saja.

Kebebasan dan Negara/Institusi: Titik Lemah yang Tidak Boleh Diabaikan

Meski kemakmuran ASEAN menempatkan Indonesia di posisi ke-3, sisi kebebasan dan kualitas institusi masih menjadi batu sandungan. Domain Kebebasan hanya mencatat skor 61,90, terdiri dari kebebasan berpendapat 65,12, kebebasan ekonomi 60,45, dan perdamaian sipil 60,32. Dalam domain Masyarakat, skor Negara/Institusi bahkan hanya 47,91, jauh tertinggal dari skor komunitas dan keluarga.

Keunggulan relasi sosial—komunitas 84,99 dan keluarga 78,84—tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan reformasi kelembagaan. Metode power means yang digunakan Legatum memastikan bahwa kelemahan di satu aspek tidak bisa ditutupi sepenuhnya oleh keunggulan di aspek lain. Artinya, jika kebebasan sipil melemah atau institusi publik tetap rapuh, ranking Indonesia dalam Legatum Prosperity Index bisa tergerus, apa pun pencapaian ekonominya. Kemakmuran yang bertumpu pada solidaritas masyarakat tanpa didukung institusi yang bersih dan akuntabel pada akhirnya rapuh.

Kesimpulan: Dari Komunitas Kuat Menuju Negara yang Benar-Benar Makmur

Posisi nomor tiga dalam kemakmuran ASEAN adalah prestasi, tetapi juga cermin: pembangunan dan hubungan sosial menguat, sementara kebebasan dan institusi tertinggal. Fakta bahwa Brunei tidak masuk daftar penilaian dan hanya 10 anggota ASEAN yang dinilai menunjukkan bahwa peta kemakmuran kawasan masih belum lengkap, namun cukup untuk menilai posisi kompetitif Indonesia.

Domain Masyarakat yang unggul menandakan modal sosial yang besar: komunitas saling menopang, keluarga relatif solid, dan jaringan informal hadir sebagai penyangga kesejahteraan. Tantangannya adalah mengkonversi modal sosial ini menjadi reformasi kebijakan: memperkuat rule of law, menjamin kebebasan, dan meningkatkan kualitas negara/Institusi. Tanpa itu, kemakmuran Indonesia dalam Legatum Prosperity Index akan berhenti sebagai statistik yang membanggakan di atas kertas, bukan realitas yang dirasakan merata oleh warga.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!