Alam sebagai gagasan, bukan sekadar hiasan
Mother Earth Stella Rissa adalah presentasi couture yang memadukan mode, seni, perhiasan, dan aksesori untuk merayakan kekayaan bentuk alam sekaligus mengingatkan bahwa keseimbangannya rapuh dan perlu dijaga. Di DEWI Fashion Knights 2026, gagasan itu terasa lebih kuat daripada sekadar tema dekoratif: alam hadir sebagai sumber keindahan sekaligus sesuatu yang bisa berubah dan menghilang. Terinspirasi perjalanan Stella menjelajahi pulau-pulau Nusantara, koleksi ini menerjemahkan lanskap dan perairan ke dalam siluet skulptural serta permukaan busana yang penuh detail. Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, menjadi pemantik khusus bagi rangkaian yang kaya warna dan tekstur. Perubahan dari palet netral yang kerap diasosiasikan dengan Stella terasa berani, tetapi tetap berakar pada ketelitian couture. Hasilnya mengajak penonton melihat alam bukan sebagai latar, melainkan sebagai warisan yang menuntut perhatian.
Warna dan tekstur yang terasa hidup
Kekuatan koleksi Stella Rissa terletak pada bagaimana material dan ornamen membuat inspirasi alam terasa nyata. Silk chiffon, organdy, silk sateen, linen, dan scuba crepe dimanipulasi menjadi bentuk serta permukaan yang berlapis; kelembutan kain berhadapan dengan konstruksi yang cermat dan detail eksperimental. Pada salah satu gaun taupe, ornamen kerang berwarna-warni memberi aksen kontras, sementara payet yang menyerupai terumbu karang merah muda memperkaya busana lain dan bahkan sepatu. Stella menyebut ini pertama kalinya ia memakai lebih banyak warna dan tekstur. Pilihan kain ringan dan menerawang juga membawa kesan angin pantai ke dalam rancangan. Alih-alih mengandalkan motif literal, koleksi ini mengolah warna, bentuk, dan struktur organik menjadi bahasa busana. Itulah yang membuat Mother Earth terasa ekspresif tanpa kehilangan disiplin khas couture.
Museum sebagai ruang untuk mengamati
Di Museum Nasional, Mother Earth tidak disajikan sebagai fashion show yang bergerak di runway, melainkan dipamerkan melalui manekin. Sepuluh gaun ditempatkan berdampingan dengan arca-arca prasejarah, sebuah keputusan yang memberi pengunjung kesempatan mengamati detail dari dekat sekaligus membangun percakapan antara karya kontemporer dan jejak masa lampau. Presentasi berlangsung sebagai bagian dari DEWI Fashion Knights 2026, yang digelar di Museum Nasional Indonesia pada 2 November 2026 sebagai salah satu momen puncak dan penutup Jakarta Fashion Week 2027. Bagi Stella, ini adalah kali ketiga tampil dalam perhelatan tersebut, tetapi menjadi pengalaman pertamanya memamerkan karya di museum. Dalam konteks ini, fashion show Museum Nasional justru memperoleh makna baru: busana tak hanya dilihat sambil lalu, tetapi dibaca sebagai objek seni, keterampilan, dan ingatan.
Kolaborasi yang memperluas makna
Koleksi ini semakin menarik ketika couture bertemu seni dan perhiasan. Seniman Galuh Anindita menyumbangkan topeng skulptural dari kulit sapi dan kuningan, dengan abstraksi, distorsi, serta permainan bayangan yang menyiratkan bentuk-bentuk alam yang muncul lalu menghilang. Perhiasan MAHIJA—dari choker, kalung, anting, ear climber, dan gelang hingga topeng berlapis emas dengan batu permata—menambah kilau sekaligus mempertegas percakapan tentang nilai, kerapuhan, dan warisan. Alas kaki Rajnikania, lini Rajnik yang dirancang khusus oleh Stella, melengkapi tampilan. Perpaduan ini membuat Mother Earth Stella Rissa lebih dari kumpulan gaun indah: tiap unsur membawa sudut pandang tersendiri, namun tetap terikat pada satu gagasan tentang alam. Kesimpulannya, presentasi ini berhasil karena keindahan visualnya disertai ajakan yang jelas—menghargai apa yang diwariskan bumi dan menjaga agar generasi berikutnya masih dapat menikmatinya.






